Home » News » Sri Astuti, Perempuan Pelestari Budaya Rejang Umeak Meno’o

Sri Astuti, Perempuan Pelestari Budaya Rejang Umeak Meno’o

Ryen Meikendi

News, Tokoh

“Saya bertanggungjawab melestarikan budaya tanah kelahiran, tanah Rejang,” ungkap Sri Astuti (53) saat disambangin redaksi Bincang Perempuan, beberapa waktu lalu.

Sri Astuti, yang biasa disapa Sri, adalah pemilik Umeak Meno’o, yang dalam Bahasa Rejang berarti rumah pusaka. Umeak Meno’o, dibangun di atas lahan seluas 40×40 meter dengan volume bangunan 8×18 meter. Saat ini Umeak Meno’o, menjadi salah satu objek wisata budaya di Kabupaten Rejang Lebong. Untuk mengunjungi Umeak Meno’o, pengunjung dikenakan tarif Rp5.000 untuk anak-anak dan Rp10.000 untuk dewasa.

Membangun Umeak Meno’o adalah mimpi Sri ketika ia masih kecil. Berawal dari ketertarikannya setiap kali bermain ke rumah kakak ibunya, Cayut. Rumah Cayut yang persis berada di sebelah Umeak Meno’o milik Ali Jemun seorang Imam di masa Pesirah Pangeran Panjang pada 1920-an, membuat Sri kecil leluasa menikmati kemewahan dan keelokan Umeak Meno’o.

Namun ketika Ali Jemun meninggal rumah tersebut berganti kepemilikan. Sri melihat bangunannya terbengkalai dan nyaris rapuh. Sri merasa sedih.

‘’Atap rumah sudah rapuh dan berlumut. Padahal rumah itu elok dan mewah’’, kenang Sri.

Tak ingin melihat rumah tersebut rusak, Sri mencoba mendatangi pemiliknya yang baru. Sri mengutarakan niatnya untuk membeli rumah tersebut, sehingga bisa dilestarikan dan dirawat. Sayangnya rumah tersebut tidak dijual.

Namun Sri tak patah arang. Ia berhasil meyakinkan, ia hanya ingin membeli rumah bukan ingin memiliki lahannya. Akhirnya pemilik Umeak Meno’o melepas dengan harga Rp32 juta waktu itu.

Bagi sebagian orang, barang atau benda-benda kuno mungkin tidak relevan lagi. Sehingga tak masalah bila dibiarkan lusuh, usang dan hancur. Namun hal itu tidak berlaku bagi Sri. Ketertarikan Sri terhadap barang atau benda-benda kuno sudah ditunjukannya sejak belum sekolah. Menurutnya, barang atau benda-benda lawas itu justru memiliki daya tarik tersendiri. Inilah yang membuat ia terus mengulik barang atau benda-benda jaman dulu (jadul) tersebut. Bagi Sri, barang atau benda-benda jadul itu memiliki nilai estetika tersendiri dan ada unsur historinya.

“Barang atau benda-benda jadul, terlebih benda peninggalan pra sejarah dari para leluhur itu bukan semata-mata objek benda yang digunakan secara fungsi saja. Melainkan ada simbol-simbol yang mengandung filsafat kehidupan,” kata Sri.

Berhutang ke Bank

Upaya Sri untuk mewujudkan mimpi masa kecilnya belum usai. Keterbatasan ekonomi membuat Sri terpaksa menggadaikan SK pegawainya, berhutang pada bank sebesar Rp250 juta. Pinjamannya baru akan lunas tahun 2029 mendatang.

Bermodal uang pinjaman, Sri merelokasi Umeak Meno’o dari Desa Kesambe ke Desa Air Meles Atas, berjarak sekitar 3 kilometer. Termasuk memperbaiki kondisi bangunan Umeak Meno’o yang sudah tidak layak lagi.

Untuk biaya perawatan Umeak Meno’o berupa pembelian kapur barus untuk menjaga benda-benda peninggalan Umeak Meno’o tetap, Sri mengandalkan pemasukan dari pengunjung yang datang. Termasuk membeli minyak untuk membersihkan senjata pusaka seperti keris, mata tombak dan lain-lain.

“Selain kapur barus, minyak, kebutuhan rutin lainnya untuk perawatan Umeak Meno’o bahan untuk mengepel lantai, dan membayar jasa merumput pekarangan. Kalau musim hujan, bisa 2 kali merumput dalam sepekan”, kata Sri yang merupakan PGSD dari Universitas Terbuka (UT).

Umeak Meno’o

Untuk menguatkan identitas Umeak Meno’o sebagai barang atau benda tua, Sri melengkapi isi rumah tersebut dengan perabot tua juga sesuai dengan masanya. Satu per satu barang atau benda perabot yang ada di Umeak Meno’o itu dikumpulkan dan dipajang di dalam Umeak Meno’o. Beragam cara dilakukan guru SDN 6 Rejang Lebong ini, untuk mendapatkan barang atau benda lawas tersebut. Ada yang dikasih dari kerabat secara cuma-cuma namun ada juga sengaja dibeli untuk dilestarikan.

Layaknya rumah yang terdiri banyak ruang, Umeak Meno’o pun demikian. Setelah gerbang masuk, ada natet (halaman). Di samping kanan depan terdapat somoa (sumur). Lalu ada patet nda (tangga dasar), nda (tangga), berendo (beranda/teras). Pada bagian dalam ada dana (ruang tamu), penigo (ruang tengah), 2 buah bilik (kamar), dopoa (dapur), dan ga’ang (tempat mencuci piring).

Di berendo (beranda/teras) terdapat penei (perlengkapan adat), payung tanda putri kerajaan, dan congklak (permainan dari kayu). Di dana (ruang tamu) sebelah kanan terdapat alat-alat tradisional seperti miniatur teleng (tampi beras yang terbuat dari anyaman). Ada saing nioa (saring kelapa), penan bedak (tempat kosmetik) yang terbuat dari anyaman. Topi dari daun pandan, talam kiyuo (nampan yang terbuat dari kayu yang digunakan untuk menghidangkan nasi), beliung (alat untuk menebang pohon), dan lain sebagainya.

Di sebelah kanan ruang tamu terdapat lemari kaca yang berisikan wewangian dari bunga dan pandan yang ditaruh di dalam piring. Beberapa uang lama berupa uang kertas dan uang logam juga menghiasi isi lemari tersebut. Ada juga beberapa koleksi senjata tajam pusaka berupa keris, pisau, parang, mata tombak dan lainnya di lemari lainnya.

Pakaian Adat Rejang atau disebut juga pengangon juga menghiasi koleksi Umeak Meno’o. Ada juga pakaian sehari-hari Semulen Jang (gadis Rejang) zaman dulu yang dikenakan pada sebuah manekin terletak di sudut lemari ruang depan. Terdapat juga alat musik tradisonal berupa gong dan kulintang. Gong diperoleh hibah dari Anggota DPRD Rejang Lebong, Juwita Astuti. Sedangkan Kulintang yang terbuat dari bambu hibah pemberian dari Dosen Universitas Lampung (Unila), Hasyim.

Di lorong menuju penigo (ruang tengah) terdapat selbeu (tempat beras, jagung, garam, atau padi), tajuu (tempat menyimpan lemea). Lemea adalah makanan khas Rejang berbahan baku dari tunas bambu atau bambu muda. Beberapa foto jadul terbingkai di atas lemari kayu berukuran sedang. Di sebelahnya terdapat lemari kayu yang berukuran besar berisikan perabot rumah tangga seperti gelas dan lain-lain. Pintu masuk ke dalam bilik (kamar) saling bersisian.

Di atas pintu masuk kamar utama terdapat sebuah bingkisan Baju Muyang Turunan Ratu Mulajadi, yang merupakan kenang-kenangan dari keturunan Ratu Mulajadi agar bisa dikenang dan dilestarikan anak cucu beliau nantinya.

Pada penigo (ruang tengah) sebelah kiri terdapat saing bioa (peralatan yang terbuat dari batu yang digunakan untuk memisahkan ampas kelapa dan santannya). Setrika jadul seberat kurang lebih 9 kilogram juga menghiasi penigo. Lemari kayu besar berisi perabotan rumah tangga seperti piring, gelas, cetakan kue dan lain sebagainya. Di sebelah kanan penigo (ruang tengah) terdapat dokumentasi foto proses relokasi Umeak Meno’o.Lalu ada juga beragam benda antik seperti guci, terompa, dan lainnya.

Terakhir, pada ruang dopoa (dapur) terdapat perabotan seperti cakik (tempat sayuran, buah, dan daging yang terbuat dari anyaman bambu), gerigik (tempat air), kokoa nioa (parutan kelapa), ko’on (alat untuk menanak nasi, terbuat dari timah atau tembikar, besi, alumunium, ataupun tembaga), belangei (penggorengan yang terbuat dari timah atau tembikar, besi, alumunium, ataupun tembaga). Terdapat juga kayu bakar yang digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak.

Meski sudah sekitar 90 persen perabot jadul melengkapi Umeak Meno’o, namun Sri masih ingin terus menyempurnakan sarana dan prasarana yang ada di Umeak Meno’o. Ke depan, Sri berharap bisa membangun ruang pendopo di pekarangan samping belakang Umeak Meno’o sebagai ruang untuk berkarya, seperti belajar tari, bela diri dan lainnya. Sri juga masih ingin melengkapi perabot atau peralatan jadul yang belum ada di Umeak Meno’o seperti kincir padi, ini identik dengan kebiasaan Suku Rejang saat memanen padi pada zaman dulu.

‘’Dulu pernah mau beli kincir padi yang ada di Pasar Tengah. Karena harga yang ditawarkan pemiliknya 4 juta rupiah. Tapi waktu itu uang saya belum cukup. Terpaksa diurungkan dulu karena cuma ada satu juta’’, kenang Sri.

Sri berharap Umeak Meno’o dapat mendukung pelestarian budaya Rejang di tengah modernisasi seperti saat ini. Kehadiran Umeak Meno’o menjadi jawaban dan kontribusi terhadap persoalan budaya di tanah Rejang.

‘’Siapapun yang mau berkunjung ke Umeak Meno’o, baik cuma mau melihat-lihat saja ataupun memanfaatkan Umeak Meno’o sebagai objek pembelajaran atau bahan literasi berbasis budaya, silakan saja. Kami terbuka untuk siapapun’’, demikian harap Sri.

*) Produksi tulisan ini diproduksi berkat dukungan dari Ibu Laily Farida bagian dari reportase suara #perempuanlokal

adat rejang, bengkulu, pelestari budaya, perempuan bengkulu inspiratif, Umeak Meno’o

Artikel Lainnya

Patriarki di Partai Politik, Sulitnya Perempuan Jadi Politisi

Heba Abu Nada

“Selamat Malam Gaza”: Kematian Penyair Kesayangan Rakyat Palestina

Ketika Ibu Berjuang Kembali ke Sekolah

Ketika Ibu Berjuang Kembali ke Sekolah

2 Comments

Leave a Comment