Kesetaraan Gender

Ladies First: Ketika Dunia Membalik Patriarki

Bagaimana jika dunia dibalik: perempuan memegang kuasa, sementara laki-laki menjadi objek seksual, diremehkan di tempat kerja, dan ditekan oleh standar penampilan? Ladies First menghadirkan satire feminis yang mencoba memaksa penonton laki-laki merasakan pengalaman sehari-hari yang selama ini akrab bagi perempuan. Namun, di balik premisnya yang menarik, film ini justru menyisakan pertanyaan besar: apakah feminisme sekadar membalik dominasi, atau membongkar sistem ketimpangan itu sendiri?

Selengkapnya

Mengoreksi Bias, Menguatkan Suara Perempuan: Pentingnya Liputan Sensitif Gender

Betty Herlina

News, Kesetaraan Gender

Liputan sensitif gender bukan sekadar menghadirkan perempuan sebagai pelengkap cerita, melainkan mengubah cara media melihat dan menarasikan pengalaman perempuan. Dari sesi pelatihan “Voice of Tomorrow”, terungkap bagaimana jurnalis seperti Amy Sood dan Rini Yustiningsih mendorong praktik jurnalisme yang lebih adil, empatik, dan bebas bias. Mereka menegaskan bahwa suara perempuan—baik dalam ruang redaksi maupun dalam pemberitaan—harus menjadi pusat narasi untuk menciptakan media yang benar-benar setara.

Selengkapnya

Setelah Toga, Jalan Kami Tak Sepanjang Itu

Setelah wisuda, banyak perempuan desa justru kembali ke titik awal—rumah, bukan mimpi. Vania dan Tiara sama-sama lulusan perguruan tinggi, tapi sistem sosial membuat pilihan mereka terbatas: dekat rumah, cepat menikah, dan tidak terlalu jauh dari “norma”.

Bagaimana rasanya punya ijazah tapi tak punya arah?Baca kisah nyata mereka dalam narasi jurnalisme mendalam yang menggugah dan menyentil sistem:
“Setelah Toga, Jalan Kami Tak Sepanjang Itu. Sebuah refleksi: bukan perempuan yang kurang ambisi, tapi jalannya yang disempitkan.

Selengkapnya