Home » News » Mudik: Tradisi Pulang Kampung yang Penuh Perjuangan

Mudik: Tradisi Pulang Kampung yang Penuh Perjuangan

Ais Fahira

News

Mudik Tradisi Pulang Kampung yang Penuh Perjuangan

Bincangperempuan.com- Setiap tahun menjelang Lebaran, jutaan perantau di Indonesia menghadapi tantangan serupa: berburu tiket mudik. Bayangkan suasana di depan layar komputer atau gawai, jari-jari bergerak cepat mencoba mengakses situs penjualan tiket. Detik demi detik berlalu, namun layar hanya menampilkan pesan “sedang dalam antrean”, atau lebih parah lagi, “tiket telah habis”.

Bagi yang memilih jalur konvensional, antrean panjang di loket stasiun atau terminal menjadi pemandangan biasa. Keringat bercucuran, rasa lelah mendera, namun semangat untuk pulang kampung tetap membara. Semua ini dilakukan demi satu tujuan utama: berkumpul bersama keluarga di kampung halaman saat hari raya.

Mudik: Tradisi Pulang Kampung yang Sakral

Mudik, atau kegiatan pulang kampung massal menjelang hari raya, telah menjadi tradisi yang melekat dalam budaya masyarakat Indonesia. Tidak hanya saat Idul Fitri, perayaan seperti Natal pun sering diiringi dengan peningkatan arus lalu lintas akibat fenomena ini.

Bagi banyak orang, mudik adalah momen sakral untuk merayakan hari besar bersama keluarga tercinta. Namun, sejak kapan tradisi ini dimulai? Apakah mudik benar-benar menjadi sebuah kewajiban bagi setiap perantau?

Sejarah dan Makna Mudik: Dari Keterpaksaan Menuju Tradisi

Menurut Antropolog Universitas Gadjah Mada, Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra, istilah “mudik” berasal dari kata “udik” dalam bahasa Melayu yang berarti hulu atau ujung. Sejarah mencatat bahwa masyarakat Melayu yang tinggal di hulu sungai sering bepergian ke hilir untuk berdagang atau menyelesaikan urusan tertentu.

Di Indonesia, istilah ini mulai dikenal luas pada era 1970-an. Pada masa Orde Baru, pembangunan yang berfokus di kota-kota besar mendorong penduduk desa untuk bermigrasi ke perkotaan. Akibatnya, banyak perantau yang merindukan kampung halaman dan keluarga mereka.

Dahulu, mudik lebih banyak dipicu oleh faktor keterpaksaan akibat urbanisasi dan kebutuhan ekonomi. Kini, mudik lebih didorong oleh keterikatan emosional dan tradisi. Perantau merasa ada panggilan batin untuk kembali ke kampung halaman, merayakan hari besar bersama keluarga, dan menjaga hubungan kekeluargaan tetap erat.

Baca juga: Ketika Semua Jadi Konten, Apa Kita Kehilangan Ruang Privasi?

Dampak Ekonomi dari Tradisi Mudik

Mudik tidak hanya memiliki nilai sosial dan budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan, terutama bagi daerah asal perantau. Peningkatan aktivitas ekonomi lokal terjadi saat musim mudik, seperti meningkatnya penjualan oleh-oleh, kerajinan tangan, serta sektor pariwisata.

Melansir dari Antara, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa aktivitas mudik Lebaran memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan pergerakan ekonomi masyarakat. “Mudik memberikan pergerakan ekonomi yang baik sekali ke daerah.”

Setiap tahun, menjelang dan selama periode Lebaran, terjadi perubahan besar dalam pola konsumsi, distribusi, dan produksi yang memengaruhi berbagai sektor ekonomi. Mengutip pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno yang dilansir dari Indonesia.go.id pada April 2024, pergerakan orang selama libur Lebaran tahun itu diperkirakan mencapai 193,6 juta orang, meningkat dari 123,8 juta orang pada Lebaran tahun sebelumnya.

Hal serupa juga terjadi tahun ini. Tempo melaporkan bahwa aplikasi pemesanan tiket perjalanan tiket.com mencatat peningkatan signifikan dalam arus mudik Lebaran 2025.

Pada Lebaran 2025, tiket.com mencatat peningkatan pemesanan transportasi sebesar 27 persen, akomodasi 41 persen, dan atraksi wisata 69 persen, didorong oleh turunnya harga tiket pesawat dan libur panjang.

Potensi Pergerakan Mudik Lebaran 2025

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memperkirakan bahwa pergerakan masyarakat selama Lebaran 2025 akan mencapai 146,48 juta jiwa atau 52 persen dari total populasi Indonesia.

“Hasil survei menunjukkan, puncak arus mudik diprediksi terjadi pada H-3 Lebaran atau 28 Maret 2025, dengan potensi jumlah pergerakan masyarakat mencapai 12,1 juta orang,” ujar Dudy dalam Rapat Koordinasi Persiapan Penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2025 di Kementerian Perhubungan, Jumat, 14 Maret 2025, dikutip dai Tempo.

Baca juga: Cegah KBGO dengan 3S: Screen Time, Screen Break, dan Screen Zone 

Namun, Tidak Semua Bisa Mudik

Meskipun mudik menjadi tradisi yang dinantikan, kenyataannya tidak semua orang dapat melaksanakannya. Beberapa profesi, seperti wartawan, tenaga medis, dan petugas keamanan, seringkali harus tetap bekerja selama periode Lebaran demi menjalankan tugas mereka.

Selain itu, faktor biaya yang meningkat, terutama dengan melonjaknya harga tiket transportasi, membuat sebagian orang berpikir ulang untuk mudik. Jarak yang jauh dan keterbatasan waktu cuti juga menjadi pertimbangan utama.

Bagi mereka yang tidak bisa mudik, perayaan Lebaran di perantauan menjadi tantangan tersendiri. Namun, kemajuan teknologi memungkinkan komunikasi dengan keluarga tetap terjalin melalui panggilan video atau telepon. Selain itu, banyak komunitas perantau yang mengadakan acara bersama untuk merayakan Lebaran, menciptakan suasana kekeluargaan meskipun jauh dari rumah. Pemerintah bahkan juga berupaya membantu masyarakat kurang mampu agar tetap bisa pulang kampung melalui program Mudik Gratis. 

Pada akhirnya mudik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia, mencerminkan kuatnya nilai kekeluargaan dan tradisi. Namun, di balik euforia mudik, terdapat realita bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan atau kemampuan untuk melaksanakannya. Penting bagi kita untuk memahami bahwa esensi dari perayaan hari raya bukan hanya terletak pada fisik berkumpul bersama, tetapi juga pada bagaimana kita menjaga dan merawat hubungan dengan keluarga, di manapun kita berada.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Artikel Lainnya

Ballerina farm

Dikritik Sebagai “Tradwife” oleh Publik, Hannah “Ballerina farm” Speak Up‼️

Susi Handayani, 20 Tahun Bergerak untuk Isu Perempuan dan Anak

Perceraian dan Stigma Negatif tentang Status Janda

Leave a Comment