Home » News » Perceraian dan Stigma Negatif tentang Status Janda

Perceraian dan Stigma Negatif tentang Status Janda

Yuni Camelia Putri

News

Bincangperempuan.com- Perceraian, suatu peristiwa yang dapat mengubah dinamika dalam kehidupan seseorang secara drastis. Perceraian menjadi langkah yang harus ditempuh pasangan suami istri yang sudah tidak sejalan lagi. Entah karena perbedaan prinsif, perselingkuhan, atau komitmen untuk mengakhiri hubungan.

Perceraian menjadi fenomena sosial yang lumrah. Catatan Statistik Indonesia, jumlah kasus perceraian sepanjang tahun 2022 naik 15.31% menjadi 516.334 kasus, dari 447.743 kasus di 2021. Mayoritas merupakan cerai gugat. Provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama, provinsi dengan angka perceraian tertinggi 113.643 kasus. Menyusul Jawa Timur 102.065 kasus dan Jawa Tengah 85.412 kasus.

Meskipun sudah menjadi suatu fenomena sosial yang lumrah, perceraian sering kali masih diiringi oleh berbagai stigma dan pandangan negatif, terutama terhadap status janda. Konsep tradisional yang mengakar dari patriarki tentang peran perempuan dalam masyarakat masih melekat kuat, sehingga perceraian dapat dianggap sebagai kegagalan dalam mempertahankan “peran ideal” tersebut.

Perempuan gagal dan penggoda

Kultur sosial di masyarakat kerap kali memberikan cap perempuan dianggap gagal ketika menyandang status janda perceraian. Gagal menjadi istri yang baik, gagal melayani suami, sehingga lelaki berpaling dan memutuskan berpisah. Sejatinya hal tersebut tidak benar. Hanyalah mitos dan asumsi yang tidak berdasar.

Perempuan yang berstatus janda kerap menjadi olokan di masyarakat. Mereka dianggap sebagai haus akan kasih sayang sehingga kerap dipandang “rendah”. Bahkan tak jarang masyarakat menyematkan kalimat ” awas, nanti suaminya digoda kalau dekat-dekat dengan janda!” Padahal, laki-laki bukanlah barang yang bisa dipindah tangankan dengan mudah oleh seorang perempuan yang berstatus janda. Laki-laki memiliki akal pikir dan rasionalitas yang digunakan dalam mengambil keputusan.

Baca juga : Perempuan dan Anak Kelompok Paling Rentan Terdampak Buruknya Kualitas Udara

Faktanya di luar sana banyak sekali perempuan-perempuan yang memilih berpisah dan menyandang status janda menjadi perempuan yang berdaya. Melanjutkan hidup, membesarkan anak-anaknya dengan penuh perjuangan dan kembali membangun kebahagiaannya sebagai perempuan yang mandiri.

Menurut Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), stigma negatif janda disebabkan faktor budaya yang mengukur nilai keberhasilan pernikahan. Perempuan yang mendapatkan kekerasan di rumah tangga dituntut untuk tetap mempertahankan rumah tangganya sehingga apabila mereka memilih bercerai, mereka dianggap melawan kontruksi nilai yang berlaku.

Penyebab lainnya adalah streotip bahwa perempuan yang berstatus janda adalah mereka yang gagal dan tidak berharga karena dianggap bekas dari laki-laki. Peran media yang kerap merepresentasikan negatif status ‘janda’ semakin memperkuat stigma yang berkembang di masyarakat.

Melawan stigma negatif atas status janda

Stigma negatif di masyarakat tentang status janda, bila terus dibiarkan berkembang akan merugikan perempuan. Tidak hanya secara emosional, finansial namun juga dapat berujung pada pelecehan. Stigma tersebut harus dihilangkan sebagai bentuk dukungan bagi perempuan yang berstatus janda.

Beberapa cara yang dapat dilakukan diantaranya :

  1. Edukasi dan kesadaran
    Langkah awal untuk menghilangkan stigma negatif tentang status janda adalah melalui pendidikan dan peningkatan kesadaran. Masyarakat perlu diberikan informasi yang benar tentang realitas tantangan kehidupan perempuan dengan status janda. Edukasi tersebut dapat diberikan dalam bentuk seminar, lokakarya, atau kampanye sosial, sehingga dapat membantu mengedukasi masyarakat tentang keragaman pengalaman hidup para janda, tujuannya agar pandangan negatif dapat tereduksi.
  2. Berbicara melalui media
    Media memiliki peran yang penting dalam membentuk opini masyarakat. Sehingga perlu mendorong media agar memiliki perspektif gender yang berpihak pada minoritas, tidak mengeksploitasi dalam bentuk judul-judul sensasionalitas demi mendulang click bait berita.
  3. Menjalin hubungan dalam masyarakat
    Dukungan sosial adalah elemen kunci untuk mengatasi stigma negatif. Masyarakat perlu didorong untuk membangun hubungan positif dengan perempuan berstatus janda, baik melalui kegiatan sosial maupun pengenalan secara pribadi. Semakin banyak orang yang berinteraksi dengan para janda, semakin cepat stigma negatif dapat terkikis.
  4. Mengedepankan empati
    Mendorong individu untuk melihat dunia dari sudut pandang perempuan berstatus janda adalah langkah penting dalam mengatasi stigma. Melalui cerita dan pengalaman pribadi, dapat berbagi perasaan, tantangan, dan prestasi mereka. Perlu memahami perjuangan yang mereka lalui, masyarakat dapat mengembangkan empati yang lebih besar.
  5. Menentang Stereotip
    Masyarakat harus didorong untuk berpikir kritis terhadap stereotip yang ada. Menciptakan ruang untuk dialog terbuka tentang stereotip yang merugikan dan tidak akurat akan membantu meruntuhkan pemahaman yang salah tentang para janda.
  6. Menghargai kontribusi dan keberhasilan
    Penting untuk mengakui kontribusi positif yang dibuat oleh para janda dalam berbagai bidang kehidupan. Baik itu dalam karier, pendidikan anak, atau komunitas, para janda memiliki potensi untuk memberikan dampak positif yang signifikan. Penghargaan terhadap pencapaian mereka dapat menggeser fokus dari stigma ke apresiasi.

Baca juga : Sadari Kanker Payudara Sejak Dini

Menghilangkan stigma negatif tentang status janda, adalah tugas bersama sebagai masyarakat yang lebih inklusif dan empatik. Perlu diingat, setiap perempuan memiliki cerita dan pengalaman unik, sehingga masyarakat tidak perlu menjadi fokus pada pandangan negatif yang tidak beralasan.

gerakan perempuan, Perempuan dengan status janda, Perempuan Kepala Keluarga, Stigma Janda

Artikel Lainnya

Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan

Sexual Grooming, Bentuk Kekerasan Seksual yang Jarang Disadari

Memaknai Keterwakilan Perempuan 30%, Mendorong Putusan MA Berkeadilan Gender

Leave a Comment