Home » News » Kontribusi Kartini dan Lima Perempuan Nusantara dalam Dimensi Spritual

Kontribusi Kartini dan Lima Perempuan Nusantara dalam Dimensi Spritual

Cindy Hiong

News

PODCAST TADABBUR RAMADAN SEASON 2

Bincangperempuan.com– RA Kartini, nama yang setiap orang pasti tahu. Nama tersebut juga familiar dengan pemikirannya tentang hak-hak perempuan. Namun tidak banyak yang tahu bahwa Kartini juga memiliki kontribusi dalam dimensi spiritual. Kartini menjadi salah satu tokoh yang mendorong upaya menerjemahkan Al-Quran ke dalam Bahasa Jawa.

Selain Kartini, ada lima tokoh perempuan lainnya yang juga memiliki kontribusi serupa. Mereka adalah Opu Daeng Risadju, tokoh penggerak perjuangan melawan Belanda dari Sulawesi Selatan; Rahmah El Yunusiyah, reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan dari Sumatra Barat; Asmah Syahruni, tokoh Muslimat NU penggerak perubahan dari Kalimantan Selatan; Siti Walidah Dahlan, pendiri organisasi perempuan Muhammadiyah Aisyiyah; dan Sinta Nuriyah, pelopor kajian Kitab Kuning dengan perspektif ramah gender. 

Untuk lebih mengenal kiprah Kartini dan lima tokoh perempuan lainnya, Magdalene.co bekerjasama dengan Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) secara khusus akan mengupas kisah-kisahnya dalam podcast Tadabbur Ramadan Season 2, yang produksinya mendapatkan dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

“Tadabbur Ramadan tahun ini menghadirkan kisah-kisah tokoh dan pejuang perempuan yang mendedikasikan diri dan konsisten berjuang memajukan hak-hak perempuan sepanjang sejarah Nusantara,” ungkap Community Engagement Manager Magdalene, Paul, dalam rilisnya.

Baca juga: Melihat Aktivitas Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama

Tadabbur, yang berarti merenungkan atau memperhatikan seksama dan mendalam, mengajak kita melihat kembali tafsir Al-Quran dengan adil bagi perempuan. Ajaran Islam mengedepankan nilai-nilai kesetaraan, menempatkan posisi dan perlakuan terhadap semua dengan adil dan setara. Meskipun nilai-nilai ini sering kali terkikis oleh kepemimpinan dan tafsir ajaran agama yang patriarkal, namun tokoh-tokoh perempuan yang kuat dan berdaya ada, dan bahkan meninggalkan warisan dan dampak yang penting dalam sejarah, termasuk di Indonesia.  

Sejarah mencatat banyak perempuan dari berbagai bagian Nusantara telah terlibat dalam perjuangan kemerdekaan, memimpin gerakan sosial dan politik, serta berperan aktif dalam pembangunan komunitas lokal dan nasional. Secara khusus, banyak perempuan juga telah memberikan kontribusi dalam pengembangan Islam di Indonesia. Peran mereka meliputi bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan politik, yang secara keseluruhan membentuk keragaman dan dinamika Islam di Indonesia.

Topik-topik yang diulas dalam enam episode podcast ini diantaranya, (1) Upaya mendorong pemberdayaan perekonomian perempuan; (2) Meningkatkan kesetaraan, menghilangkan diskriminasi dan menjamin hak perempuan, (3) Meningkatkan toleransi dan moderasi beragama. Kemudian ada juga (4) Meningkatkan derajat kesehatan dan ekonomi kelompok rentan, (5) Mendorong kesetaraan gender dan (6) Pencegahan Perkawinan Anak/TPKS/Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial (P3AKS)

Dalam setiap episode, lanjut Paul, seorang ulama KUPI akan menarasikan kisah hidup seorang tokoh sambil merefleksikan arti dan pentingnya kontribusi mereka dari kacamata tafsir ajaran agama yang berperspektif adil dan inklusif gender. Semua narasumber yang akan menarasikan dan berbagi refleksi tentang kisah para tokoh ini adalah anggota jaringan KUPI dengan rekam jejak yang mumpuni dalam keilmuan Islam.

Baca juga: Patriarki di Partai Politik, Sulitnya Perempuan Jadi Politisi

Mereka adalah, Siti Rofiah, Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo, Semarang, pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga, dan anggota Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Kemudian ada juga, Ratna Ulfatul Fuadiyah dari Simpul Rahima Jawa Tengah, pengasuh Pondok Pesantren MDQ Nur Iman Purworejo, dan anggota Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Pera Sopariyanti, Direktur Rahima, LSM yang berfokus pada pendidikan Islam dan hak-hak perempuan, dan anggota Majlis Musyawarah Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).

Kemudian, Nur Kholillah, Simpul Rahima Bekasi, alumni Pendidikan Kader Ulama MUI Kabupaten Bekasi, dan anggota Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Ninin Karlina, Majelis Pembinaan Kader Pimpinan Pusat Aisyiyah, MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan anggota Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) dan Emma Rahmawati, pengasuh Pondok Pesantren Seblak Khoiriyah Hasyim Jombang, Simpul Rahima Jawa Timur, Koordinator Gusdurian Jombang, dan anggota Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).

“Podcast ini diluncurkan pada 15 Maret 2024, dan ditayangkan setiap hari Selasa dan Jumat di Spotify, Apple Podcast, KBRPrime.id, serta di platform podcast lainnya,” pungkas Paul.

Untuk diketahui, Magdalene adalah media daring yang berfokus pada perempuan dengan perspektif gender. Magdalene memiliki misi menginformasi dan memberdayakan melalui jurnalisme berorientasi solusi untuk membantu mendorong kesetaraan. Ini menjadi tahun kedua Magdalene.co, memproduksi serial podcast Tadabbur Ramadan bekerja sama dengan Jaringan KUPI. 

gerakan perempuan, Kontribusi Kartini dalam Dimensi Spritual, RA Kartini

Artikel Lainnya

Asam Manis, Jadi Jurnalis Perempuan di Bengkulu

Anakku Bukan Pelaku Klitih

Waithood Fenomena Perempuan Milenial Menunda untuk Menikah

Waithood: Fenomena Perempuan Milenial Menunda untuk Menikah

Leave a Comment