Melihat Aktivitas Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL)

PEREMPUAN, hutan dan penyokong ekonomi keluarga. Potensi keterlibat perempuan dalam pengelolaan hutan nyaris tak pernah dijumpai. Sebaliknya peran perempuan dalam penyokong ekonomi keluarga mudah dijumpai. Sistem budaya patriarki yang ada di Indonesia, membuat perempuan menjadi individu yang jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Namun di Desa Pal VIII, Bermani Ulu, Kabupaten Rejang Lebong ada sekelompok perempuan yang dengan kesadarannya membangun Komunitas Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama. Beranggotakan 20 orang, komunitas yang berdiri sejak 9 Juli 2017 ini terus mengupayakan bagaimana menjaga, melestarikan dan memanfaatkan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) sebagai sumber kehidupan. Bagaimana aktivitas KPPL Maju Bersama ini, simak liputannya.

Desa PAL VIII, Kecamatan Bermani Ulu Raya- Betty Herlina

SEBAGAI salah satu desa yang bersentuhan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) menjadi anugerah bagi masyarakat setempat khususnya Desa Pal VIII. Pasalnya hutan merupakan sumber kehidupan. Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari hutan.  Terutama hutan sebagai produsen utama air.

Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 192/Kpts-II/1996  menetapkan TNKS sebagai salah satu kawasan konservasi di Indonesia. Bahkan Komite Warisan Dunia tahun 2004 menetapkan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang merupakan bagian Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS)  sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage) bersama Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Sayangnya, tahun 2011 Komite Warisan Dunia memasukkan TNKS, TNBBS dan TNGL dalam daftar warisan dunia dalam bahaya.  Status tersebut disebabkan akibat tingginya aktivitas perambahan hutan. Bila terus berlanjut tidak menutup kemungkinan TNKS akan dihapus dari daftar situs warisan dunia.

Bila kerusakan TNKS terus terjadi, Desa Pal VIII dan desa sekitarnya lah yang pertama kali akan merasakan dampak. Terlebih perempuan.  Ketika hutan rusak, perempuan menjadi individu pertama yang akan menanggung akibatnya. Kenapa? Karena, perempuan dengan perannya yang multi fungsi lebih rentan menjadi korban dampak perubahan iklim seperti kekeringan, kebanjiran, kebakaran hutan, anomali cuaca, penurunan kesuburan tanah, wabah penyakit, dan ancaman krisis pangan.

Perempuan mempunyai peran penting dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Sekaligus membangun ketahanan pangan berkaitan dengan pengelolaan hutan. Seperti menjaga TNKS agar tetap lestari dan memfaatkan sebagai sumber penghidupan. Semangat kesadaran atas peran inilah yang membuat empat orang ibu-ibu, yakni Rita Wati, Liswanti, Purwani dan  Trisnawati untuk bersepakat membentuk Komunitas Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama.

Pada Rakyat Bengkulu, Ketua KPPL Maju Bersama, Rita Wati menuturkan awal terbentuknya KPPL Maju Bersama.Saat itu ia bersama perempuan dari 4 desa di Bermani Ulu yakni Sumber Bening, Karang Jaya, Babakan Baru dan Pal VIII mendapatkan undangan dari komunitas LivE bersama UPTD  TNKS untuk sharring pengetahuan tentang hutan. 

“Dalam pertemuan tersebut dipaparkan apa itu TNKS,  manfaat TNKS. Kami menangkap ternyata TNKS memang dibutuhkan dan harus dijaga. Ketika TNKS rusak, gundul maka perempuan yang akan merasakan dampaknya. Karena hutan merupakan sumber utama penghasil air. Dari pertemuan itulah kami berempat sepakat untuk membentuk KPPL yang menjadi wadah bagi kami untuk belajar bagaimana mengelola hutan sebagai sumber kehidupan,” beber Rita Wati.  

Tidak sedikit hal yang sudah dilakukan KPPL Maju Bersama untuk mendapatkan dukungan agar inisiatif perempuan mengelola hutan menjadi hal yang harus diperhatikan. Mulai dari menyampaikan aspirasi ke DPRD Kabupaten Rejang Lebong, menemui Wakil Bupati, Iqbal Bastari yang secara khusus hadir dalam peresmian pembentukan KPPL Maju Bersama. Serta beraudiensi dengan Plt Gubernur  Rohidin Mersyah, Anggota DPD RI, Muhammad Soleh dan Anggota DPR RI Komisi XI Nasdem, dr. Anarulita Muchtar terkait percepatan izin legalitas pemanfaatan hasil hutan berupa bunga, daun dan buah-buahan.  Termasuk menulis surat pada Kepala Balai Besar TNKS Arief Toengkagie dan Direktur Non-Timber Forest Products (NTFP) .

Siapa sangka, beragam upaya tersebut sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil. Beberapa pihak mulai melirik geliat aktivitas KPPL Maju Bersama. Mulai dari kedatangan tamu salah satu dosen dari Amerika Serikat, dukungan dari  Global Alliance for Green and Gender Action (GAGGA) hingga rencananya pertengahan Juli salah satu direktur NTFP berkebangsaaan Fhilipina juga akan bertandang ke KPPL Maju Bersama.

Pertemuan- pertemuan tersebut dilakukan untuk mendapatkan akses legalitas pemanfaatkan hasil hutan. Salah satunya memanfaatkan kecombrang atau yang dikenal dengan honje, kantan atau unji (Etlingera elatior). Tumbuhan yang lazimnya digunakan sebagai rempah dan sayur ini diketahui memiliki banyak manfaat. Serta memiliki nilai ekonomis tinggi untuk meningkatan kesejahteraan.

“Kami juga mendapatkan pengetahuan tentang zona-zona yang ada di hutan. Mulai dari zona inti, zona pemanfaatan dan zona rehab. Nah dari zona pemanfaatan inilah kami, ibu-ibu berkeinginan bagaimana memanfaatkan hasil hutan sebagai sumber penghidupan untuk ekonomi keluarga sambil terus merawat hutan. Salah satunya kecombrang. Dibeberapa daerah kami melihat minuman dari kecombrang dapat dijual dan diminati. Apalagi manfaatnya banyak sekali khususnya untuk perempuan. Anti oksidan dan anti inflames. Jika ini bisa berjalan diharapkan dapat meningkatkan income keluarga,” tutur Rita Wati.

Melalui Program Citradaya Nita 2018 dengan tema “Pemberdayaan Perempuan dalam Penanggulangan Kemiskinan” KPPL Maju Bersama bersepakat untuk belajar bersama-sama bagaimana mengolah kecombrang menjadi minuman kesehatan yang hygienis sehingga manfaat dari kecombrang dapat tercapai serta menyokong ekonomi keluarga.  Termasuk mendapatkan akses pasar dan permodalan serta pembinaan sehingga menjadi usaha yang mandiri.

“Saat ini kami juga sudah memulai program pembibitan, diawali dengan diajari membuat pupuk kompos yang difasilitasi LivE. Harapannya bibit-bibit yang mulai kami semai ini nanti akan tumbuh di hutan TNKS khususnya di zona pemanfaatan,” ujar Rita Wati.

Koordinator Bidang Perempuan LivE sekaligus aktivis Wahli Bengkulu, Pitri Wulansari memberikan apresiasi pada KPPL Maju Bersama.  Pasalnya diketahui bu-ibu yang tergabung di KPPL Maju Bersama diketahui memiliki semangat untuk mengelola hutan dengan kesadaran hingga rela berswadaya.

“Kami sifatnya memfasilitasi apa-apa yang ibu-ibu KPPL butuhkan. Sejauh ini semangat dan konsistensi dari KPPL sangat tinggi. Dari sejak diskusi pertama kali, sebelum terbentuk KPPL, ibu-ibu ini sudah menyampaikan banyak hal mulai dari minimnya keterlibatan hingga keinginan untuk memanfaatkan dan melestarikan TNKS. Termasuk usaha ibu-ibu untuk mengakses banyak pihak agar mendapatkan dukungan,” katanya.

Pihak TNKS sendiri, lanjut Pitri juga memberikan apresiasi yang cukup tinggi atas semangat KPPL. Seperti yang disampaikan Kepala Balai Besar TNKS Arief Toengkagie, bahwa selama ini belum ada komunitas perempuan yang mau terlibat dalam pengelolaan hutan di dunia.

“Makanya Pak Arief mau datang, bahkan beliau mengatakan KPPL ini bisa menjadi trigger (pemicu) di daerah lain. Dalam prosesnya saat ini KPPL terkoneksi dengan Asia Foundation, NTFP untuk mendapatkan dukungan pemanfaatan hasil TNKS,” lanjutnya. (**)

*) Tulisan ini didanai Pusat Perhimpunan Media Nusantara (PPMN) sebagai program Citradaya Nita 2018 dan sudah tayang terlebih dahulu di Harian Rakyat Bengkulu dengan judul yang sama.

2 thoughts on “Melihat Aktivitas Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL)”

Leave a Comment