Home » Opini » Kuliah di Luar Negeri? The Struggle is Real

Kuliah di Luar Negeri? The Struggle is Real

Rizqi Mutqiyyah

Opini

Kuliah di Luar Negeri? The Struggle is Real

Bincangperempuan.com- B-Pers, saat mendengar keluarga, kerabat, atau teman yang berkuliah di luar negeri kalian pasti merasa bangga dan ingin mengikuti jejak mereka bukan? Kalian melihat foto mereka di beberapa ikon dunia seperti di depan Menara Eiffel, Perancis, bunga Sakura di Jepang, Taj Mahal di India dan masih banyak lainnya. Namun, tahukan kalian bagaimana rasanya kuliah negeri?

Mendapatkan beasiswa dari Kementerian Kominfo membuat penulis mendapat pengalaman menempuh pendidikan di International Institute of Information Technology Bangalore (IIIT-B) India. Menjalani perkuliahan selama dua tahun di negeri orang bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan yang dihadapi dan di luar prediksi.

Berdasarkan hasil survei tugas projek di mata kuliah “Social Complexity and System Thinking”, berikut merupakan lima culture shock atau gegar budaya yang dialami pelajar Indonesia di luar negeri. Respondennya adalah pelajar yang merepresentasikan lima benua di dunia. Yaitu, Asia, Eropa, Amerika, Australia, dan Afrika. Mereka berkuliah di negara Inggris, India, Amerika, Sudan, Belanda, dan Thailand. Selain itu, Jepang, Malaysia, dan Australia.

Sistem pendidikan

Sistem pendidikan di luar negeri memiliki kriteria penilaian yang berbeda dengan negara Indonesia. Mahasiswa Internasional disyaratkan menulis tugas berupa essai. Di mana essai ini berisi penalaran dan Analisa mahasiswa yang didukung dengan sitasi jurnal internasional. Sehingga, pelajar mau nggak mau harus membaca banyak jurnal berbahasa Inggris.

“Aku harus bekerja ekstra keras sampai badanku capek, kayak nggak ada kehidupan lain selain belajar. Harus baca satu buku berbahasa inggris dalam sehari dan 9 jurnal dalam seminggu. Kadang aku pikir ini kehidupan apa yang aku jalani?, the struggle is real” kata Anggun (bukan nama sebenarnya) yang mengenyam master di negeri Paman Sam.

Selain Anggun, Arda (bukan nama sebenarnya) yang merupakan mahasiswa teknik di India mengungkapkan hal serupa.

“Aduh gila ya, nulis esai pakai tangan berlembar-lembar dan ga selesa-selesai. Harus ada sitasi jurnalnya. Mana ujiannya juga banyak banget, capek,” katanya.

Meskipun demikian, mayoritas professor dan pendidik di luar negeri terbuka dan mau meluangkan waktu bagi mahasiswa yang belum paham penjelasan di kelas. Tentunya mahasiswa harus membuat janji terlebih dahulu dengan mengirim email. Tak hanya itu, mahasiswa juga bisa langsung mendatangi ruangan sang dosen. Terlebih, pengajar di luar negeri mendorong mahasiswanya berpikir kritis dan aktif.

“Dosen di sini sangat welcome banget, kalau nggak paham mereka mau menjelaskan ulang. Asalkan buat appointment dulu dengan kirim email,” kata Elvin Aldrin, mahasiswa Master of Education di Birmingham University.

Senada dengan Elvin, Iyas Abdurrahman mahasiswa IIIT-Bangalore menyatakan hal serupa. “Dosen di sini baik-baik, kita bisa datang ke ruangannya kalau nggak paham materi. Di kelas kita juga dituntut aktif berpendapat, makanya harus sering baca papers yang dikasih dosen biar ga ketinggalan pas diskusi,” katanya.

Baca juga: Wahyu Widiastuti, Pentingnya Penguatan Pendidikan Politik Perspektif Gender

Cuaca

Hal lain yang membuat para mahasiswa kaget budaya adalah cuaca. Seperti ketika musim panas dan dingin melanda. Mahasiswa Indonesia harus beradaptasi dengan dua cuaca yang belum pernah mereka rasakan selama berkuliah di Indonesia. Agar bisa berjaga-jaga, mereka biasa menggunakan aplikasi weather forecast. Salah satunya Samsul Putera Ukhrawi, mahasiswa S2 di Monash University Australia.

“Setiap hari harus pakai aplikasi prediksi cuaca, karena di Aussie dalam sehari bisa berganti dua hingga lebih cuacanya. Dari yang panas hingga dingin. Kalau nggak gitu hujan, jadi harus ready,” katanya.  

Hal yang sama dirasakan Eliza Farestiani, mahasiswa Master Biotechnology di Osaka University Jepang.  “Setiap hari harus ngecek weather forecast biar nggak salah kostum,” katanya.

Kendala Bahasa

Tantangan lainnya adalah bahasa. Dalam hal ini dua hal yang menjadi challenge di bahasa. Yaitu logat bahasa Inggris yang sulit dipahami dan bahasa lokal. Beruntung, di dalam lingkup kampus, professor memiliki aksen yang dapat diterima dengan baik.

“Kalau di kampus sih alhamdulillah bisa faham ya, karena profesornya kasennya mudah dipahami. Kalau di luar kampus sometimes aksennya agak susah,” jelas Elvin.

Berbeda dengan Elvin, Nita (bukan nama sebenarnya), mahasiswa S2 di Thailand mengaku kesusahan di kelas karena bahasa Inggrisnya level advance. “Selama S2 ini pengen nangis, professor di kelas bahasa Inggrisnya pakai kelas kata C1 dan C2. Pakai idiom and phrasal verb, jadi harus bener-bener struggle biar bisa keep up,” katanya.

Berbeda dengan Elvin dan Nita, Eliza mengatakan dia harus belajar bahasa lokal agar bisa berkomunikasi dengan professor dan teman sekelasnya. “di Jepang nggak banyak yang bisa berbahasa Inggris, jadi harus ikut course bahasa Jepang biar bisa ngobrol. Untungnya kursusnya gratis,” katanya.

Baca juga: Edukasi Pemilih untuk Memperjuangkan Keterwakilan Perempuan

Makanan

Tak hanya bahasa, makanan menjadi kendala yang crusial bagi para mahasiswa. Makanan yang tidak cocok, membuat mereka mengakali dengan menyiasati masak setiap hari agar tidak sakit dan tetap memiliki energi untuk beraktifitas. Adalah Gerar Siagian, Mahasiswa Teknik Mesin Gujarat Technological University, India. Perempuan asal medan itu turun berat badan hingga 14 kilogram dalam kurun waktu satu semester.

“Aku pas semester pertama sering diare. Sering sakit perut dan bisa lima kali ke toilet dalam sehari. Bau makanannya pertama kali kaya mau pingsan. Berat badanku turun 14 kilogram, makanya sejak saat itu aku masak terus biar bisa beraktifitas,” katanya.

Selain Gera, Luluk Aulanisa mahasiswa S2 di University of Twente Belanda mengaku hal yang sama. “Setiap hari masak biar hemat dan biar bisa bertenaga,” katanya.

Interaksi dengan warga lokal

Hal terakhir yang menjadi tantangan saat berkuliah di luar negeri adalah berinteraksi dengan warga lokal. Di mana, kebanyakan mereka tidak open terhadap orang baru. Hal ini dialami Luluk. Luluk menyebut, setiap harinya dia berinteraksi dengan teman sekelas hanya dalam kelas saja.

Saat di luar kelas mereka sudah sibuk dengan urusan masing-masing.

“Di sini kebanyakan adik kelas ya, mereka ambisius banget, belajar terus. Jadi interaksinya di kelas doang, kalau di luar kelas ga ada interaksi,” katanya.

Senada dengan Luluk, Liza Yuliana mahasiswa S2 di Florida University Amerika Serikat menyatakan hal serupa.

“Di sini temen-temen di kelas belajar terus. Kalau ketemu di luar kelas Cuma bilang Hi, How are you? Tapi itu cuma untuk basa-basi. Padahal support system dan punya teman dekat itu perlu banget saat kuliah di luar negeri. Biar nggak ngerasa sendirian,” tutupnya.

*) penulis merupakan mahasiswi MSc Digital Society International Institute of Information Technology-Bangalore.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

gerakan perempuan, kuliah di luar negeri

Artikel Lainnya

Catatan Akhir Tahun 2021

Menguatnya Narasi Konservasi Berbasis Hak Perempuan: Catatan Akhir 2020

Penghancuran Hingga Perampasan Ruang Hidup

Leave a Comment