Opini

Jika Orang Desa Tidak Bermain Dolar, Mengapa Mereka Tetap Menanggung Dampak Gejolak Ekonomi Global?

Masyarakat desa mungkin tidak pernah memegang dolar atau bertransaksi valuta asing. Namun ketika rupiah melemah, merekalah yang paling dulu merasakan dampaknya: harga pupuk naik, solar melonjak, hingga bahan pangan semakin mahal. Di balik romantisasi desa sebagai “benteng krisis”, ada ketergantungan struktural yang selama ini diabaikan negara.

Selengkapnya

Tepuk Tangan dan Sunyi Kritik di Era Helmi Hasan

Betty Herlina

Opini

Setahun pertama kepemimpinan Helmi Hasan diwarnai krisis BBM, polemik pajak, hingga gelombang demonstrasi. Namun laporan media intelligence justru mencatat 83 persen sentimen positif dan jutaan interaksi digital. Angka angka itu tampak impresif—bahkan spektakuler untuk ukuran Bengkulu. Tetapi benarkah dominasi pujian menandakan demokrasi yang sehat? Ataukah ia sekadar menunjukkan narasi yang terkelola rapi, sementara kritik berjalan lebih sunyi?

Selengkapnya

Sampah, Protes, dan Birokrasi yang Terlalu Mudah Tersinggung

Junaidi Ibnurrahman

Opini

Ketika jalan ke TPA dibiarkan rusak bertahun-tahun, para sopir truk sampah memilih berbicara dengan cara yang tak sopan: menurunkan sampah di halaman kantor wali kota. Respons negara? Cepat menuding pelanggaran, lambat mengakui kelalaian. Tulisan ini membaca peristiwa Bengkulu lewat kacamata etika politik, ruang publik, dan kegagalan birokrasi mendengar—dari Judith Butler hingga Al-Mawardi. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya soal cara protes, tetapi tentang siapa yang dianggap pantas didengar.

Selengkapnya

Grok: High Tech, Low Key Misogyny

Retno Wahyuningtyas

Opini

Saat sebuah mesin dilatih untuk menjadi “edgy” dan “unfiltered” menggunakan data dari sudut-sudut internet yang penuh kebencian, “teknologi tinggi” yang dijanjikan hanyalah topeng bagi low-key misogyny (misogini terselubung) yang sudah lama kita perjuangkan dan terus lawan di dunia nyata.

Selengkapnya

Menggugat Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia

Retno Wahyuningtyas

News, Opini

Lebih dari 13 ribu kasus kekerasan dalam enam bulan, satu perempuan dibunuh setiap dua hari, dan KDRT masih jadi ruang paling berbahaya. Refleksi akhir 2025 ini mengajak kita menggugat normalisasi kekerasan terhadap perempuan di Indonesia—membaca data sebagai alarm, memahami femisida sebagai kontrol patriarki, dan menegaskan bahwa rasa aman bukan bonus, melainkan hak.

Selengkapnya

Femisida di Indonesia, Saatnya Media Bergerak Bersama Mencegah Kekerasan Berbasis Gender

Kasus pembunuhan terhadap perempuan terus meningkat dan sering kali terjadi di lingkungan terdekat korban. Fenomena ini disebut femisida, tindakan ekstrem dari kekerasan berbasis gender. Media, masyarakat, dan lembaga sosial memiliki peran untuk bergerak bersama mencegahnya, membangun kesadaran publik, serta menciptakan ruang hidup yang aman dan setara bagi perempuan Indonesia.

Selengkapnya