Maryana, Perempuan Nelayan Gurita Mendobrak Stigma

Hari masih pagi. Matahari belum lagi keluar dari persembunyiaan. Masih menutup diri, dipeluk awan. Desir angin pantai menusuk hingga ke tulang. Ini tidak berlaku bagi Maryana. Perempuan berusia 52 tahun yang memiliki 7 orang anak perempuan itu sudah berdiri tegak melawan ombak di tubir pantai Laguna, Desa Merpas, Kabupaten Kaur.  Mensiasati hidup, lewat gurita yang mampir di pinggir pantai.

Maryana adalah nelayan pinggir yang menangkap gurita tanpa menggunakan perahu. Ia bersama teman-temannya biasanya berjalan dari bibir pantai hingga ke tubir untuk menangkap gurita dengan alat tangkap kayu atau besi. Menjadi nelayan pinggir sangat tergantung pada pasang surut air laut. Mereka biasanya hanya bisa menangkap gurita ketika air laut sedang langat (surut,red)

Badai dan angin kencang kerap kali menghambat Maryana untuk menangkap gurita. Belum lagi, belakangan jumlah gurita dirasakannya mulai berkurang. Ini disebabkan perubahan metode dan alat tangkap yang digunakan nelayan setempat.

“Sekarang banyak nelayan dari luar desa yang memancing gurita di Desa Merpas. Mereka biasanya memancing gurita pada malam hari dengan alat tangkap pancing ulur, menggunakan perahu sampai ke tengah. Mereka dapat memancing gurita tanpa batas dan kapan pun tanpa harus menunggu air laut langat,”

Maryana

Maryana dikenal masyarakat Desa Merpas sebagai nelayan perempuan yang fasih tentang gurita dan laut. Pengalaman sebagai perempuan nelayan gurita yang sudah dilakoni sejak duduk di kelas 5 SD, tepatnya tahun 1989. Ini bukan pilihan terakhir bagi Maryana. Pekerjaan ini, membuat Maryana dapat menyekolahkan anak-anak perempuannya ada yang di SMU hingga ke perguruan tinggi. Sebagai penyokong ekonomi keluarga sejak suaminya mengalami kecelakaan dan keterbatasan fisik.

“Memancing dan menangkap gurita adalah pekerjaan yang menyenangkan,” ucapnya singkat.

Sebelumnya, Maryana pernah menjadi buruh harian lepas di perkebunan sawit milik perusahaan. Namun pekerjaan tersebut ia tinggalkan, karena aktivitasnya terlalu berat dan upahnya terlalu kecil. Setiap hari ia bersama beberapa buruh lainnya harus melakukan perawatan terhadap kebun sawit perusahaan yang luasnya 7 blok atau sekitar lebih dari 27 hektare dengan jam kerja 9 jam per hari dan diupah hanya Rp 86.000.

Maryana saat berbagi ilmu bersama Akar Foundation beberapa waktu lalu

Alhasil ia memilih kembali ke laut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Selain mengelola sawah dan memanfaatkan perkarangan rumah yang ia tanami dengan tanaman palawija serta sayuran. Ia juga memilih untuk hidup sederhana dan tidak berhutang untuk kebutuhan yang menurutnya tidak terlalu penting.

Sebagai perempuan nelayan, Maryana mendobrak stigma. Perempuan dilarang menjadi nelayan, karena pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang menghinakan perempuan. Selain merendahkan peran seorang lelaki kepala rumah tangga sebagai pencari nafkah yang tidak mampu menafkahi keluarganya, sehingga istri dan anak perempuan harus ikut bekerja sebagai nelayan.

Seorang nelayan laki-laki, Herwan, mengatakan keluarga Maryana terkenal sebagai nelayan tradisional yang menangkap gurita di bentangan laut Laguna. Nelayan lain, Bobi juga menyampaikan hal serupa. “Perempuan nelayan gurita lebih handal menangkap gurita daripada laki-laki, mereka lebih detil sehingga hasil tanggkapannya terkadang lebih banyak dari laki-laki,” katanya.

Saat ini jumlah perempuan nelayan gurita di Desa Merpas hanya tersisa 5 orang nelayan. Selebihnya, perempuan lebih banyak berkegiatan pada sektor budidaya atau pengelolaan gurita menjadi produk makanan siap saji. Seperti menjual gurita kering, modifikasi produk pangan gurita menjadi kerupuk, sate dan tongseng gurita.

Pengetahuan Perempuan Nelayan Gurita

Maryana memang piawai mengidentifikasi gurita. Tak perlu mendekat, dari jarak 5 meter ia sudah dapat membedakan mana gurita jantan dan betina. Matanya begitu jeli. Gurita jantan memiliki kaki yang terlihat lebih kecil, runcing dan panjang. Di salah satu kaki gurita jantan pasti terdapat garis putih seperti selaput. 

Berbeda dengan gurita betina. Memiliki kaki yang lebih oval atau terlihat seperti ada sambungan antara kaki ke 1, 2 dan 3. Selain itu mata gurita betina lebih menonjol daripada gurita jantan.

Maryana berbagi cerita bersama Pramasty Ayu Koesdinar

Untuk menangkap gurita, Maryana biasanya menggunakan kayu gurita (jenis kayu tertentu,red), besi behel, linggis, kambu atau rotan. Menangkap gurita ukuran kecil, jauh lebih sulit dibandingkan gurita ukuran besar.

“Gurita kecil lebih susah ditangkap dan lebih agresif daripada gurita dewasa. Pengalaman saya menangkap gurita dibawah 700 gram selalu saya lepaskan. Baiknya menangkap yang memiliki ukuran cukup besar atau setidaknya di atas 700 gram. Hasil tangkapan gurita terbesar yang sering saya tangkap adalah berkisar 4-5 kg per ekor,” katanya.

Baca juga : Wenni, Asanya untuk Komunitas Adat di Bengkulu

Umumnya, kata Maryana, gurita kerap kali bersembunyi benawang, yakni tempat dimana ombak memecah. “Gurita besar biasanya ada disana. Kalau gurita kecil, banyak bersembunyi di lubang-lubang karang. Selain udang, kepiting atau ikan, gurita juga senang makan sayal, yakni karang atau siput laut,” pungkasnya.

Dari penuturan Maryana tentang laut, gurita dan kehidupannya, ia menyadari kerja-kerja yang ia lakukan adalah kerja yang memiliki nilai dan kemampuan yang sangat baik, dan bahkan mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Dan nilai dari kerja-kerja tersebut ia temukan dalam proses sejak ia menjadi seorang anak perempuan yang belajar menjadi nelayan gurita, menjadi istri dari seorang nelayan, menjadi ibu dari 7 anak perempuan dan menjadi kepala keluarga yang bekerja sebagai perempuan nelayan. (Pramasty Ayu Koesdinar)

*) Produksi tulisan ini didukung Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) dan Kedutaan Belanda sebagai program Media dan Gender : Perempuan dalam Ruang Publik

Leave a Comment