Home » News » Menanti Keadilan Bagi Hantu-Hantu Perempuan

Menanti Keadilan Bagi Hantu-Hantu Perempuan

Delima Purnamasari

News

Menanti keadilan bagi hantu-hantu perempuan

Bincangperempuan.com- Banyak film horor Indonesia memilih perempuan untuk memerankan tokoh hantu. Awal cerita mereka didominasi sebagai korban pengasingan, pemerkosaan, atau kekerasan. Hingga akhirnya dibunuh atau justru memilih mengakhiri hidupnya. Peran utama yang tak mendapat keadilan itu lalu diceritakan bangkit dari kubur. Selanjutnya, menjadi setan dan menebar teror sebagai jalan untuk balas dendam. 

Masyarakat Indonesia jelas tak asing dengan hantu Kuntilanak, Sundel Bolong, atau Suster Ngesot. Cerita lainnya, seperti Pocong Mumun, Wewe Gombel, dan Si Manis Jembatan Ancol juga memiliki banyak kemiripan cerita. 

Hantu-hantu yang terkenal tersebut seluruhnya adalah perempuan. Temuan ini bukanlah sebuah kebetulan. Riset terhadap 559 film horor Indonesia yang terbit pada periode 1970-2019 menunjukan sebanyak 338 film menghadirkan perempuan sebagai pemeran hantu utama. Hanya 135 film yang memilih laki-laki sebagai tokoh hantu utama. Sedangkan 86 film lainnya, menghadirkan kedua sosok, baik itu perempuan maupun laki-laki. 

Baca juga: Sunat Perempuan, Bentuk Diskriminasi Berbasis Gender

Dalam riset yang sama disebutkan bahwa laki-laki lebih sering diwujudkan sebagai tokoh protagonis. Misalnya, pastor, ustaz, atau pemuka agama lain untuk mengusir sang hantu agar kembali ke alamnya. Seakan-akan pemikiran audiens digiring bahwa arwah gentayangan sudah semestinya patuh pada kekuatan agama dari tokoh laki-laki tersebut. 

Pendisiplinan Kaum Perempuan

Seorang gadis yatim bernama Siti Ariah hidup bersama ibunya di rumah seorang juragan. Saat Ariah berusia 16 tahun, sang juragan berniat mempersuntingnya sebagai istri simpanan. Ariah menolak dan memilih melarikan diri. Dalam pelariannya, ia justru bertemu preman-preman yang ingin menjadikannnya pekerja seks di tempat prostitusi. Ia membela diri hingga akhirnya diperkosa dan dibunuh. Jasadnya lalu di buang di sekitar Jembatan Ancol.

Itu adalah salah satu versi dari riwayat Si Manis Jembatan Ancol. Arwahnya dipercaya menjelma jadi perempuan berbaju merah yang butuh bantuan. Misalnya, minta diantar ke sebuah lokasi, tetapi tiba-tiba hilang sebelum sampai tujuan. Kehadiran Si Manis Jembatan Ancol diyakini sebagai bentuk balas dendam sekaligus tanda untuk memberitahukan keberadaan Ariah kepada ibunya. 

Konsep tentang perempuan yang ideal digambarkan melalui perilaku tunduk pada laki-laki dan melayani anak-anaknya. Ketika ia keluar dari konsep itu, perempuan akan ditinggalkan, dicampakkan, bahkan dikorbankan. Lalu pada suatu titik akan mengalami monsterisasi dan menjelma jadi setan yang menakutkan. Pola tersebut disebut dengan wacana maternal horror. Eksplorasi dari ketakutan dan kecemasan yang dialami oleh perempuan atas pengalaman ketubuhannya. Film-film horor ini sesungguhnya adalah refleksi dari kompleksitas dan tekanan yang dialami oleh perempuan dalam menjalankan perannya. 

Diskriminasi Sebagai Hantu

Hantu-hantu ini digambarkan berada di luar kebiasaan masyarakat. Contohnya adalah tertawa-tawa dengan suara yang melengking. Selain itu, tampilan fisik mereka juga jauh dari standar kecantikan. Rupa dan tubuh mereka abnormal, tidak utuh, dan tak berbentuk. 

Mereka dipasangi dengan pakaian mengenaskan. Gaun putih kotor oleh darah dan tanah. Hantu menjadi sosok yang menjijikkan. Aktivitas lain yang dilakukan adalah keluar malam atau menggelantung di pohon. Jauh dari norma perempuan yang penurut dan pendiam. 

Segala bentuk ketidaknormalan dilakukan ketika perempuan telah menjadi hantu. Perilaku menyimpang ini sesungguhnya jadi semacam paradoks untuk menunjukkan beratnya beban idealisasi perempuan yang diciptakan masyarakat. Sayangnya, bentuk perilaku tersebut dianggap mengganggu sehingga harus ditertibkan. Penonton diberi kesan bahwa siapa pun, termasuk hantu, harus taat pada norma dan aturan yang ada terlepas apa pun motifnya. 

Eksistensi budaya patriarki seakan tak lekang oleh zaman. Seakan-akan perempuan terus jadi pihak yang mesti ditundukkan. Ketika hidup ia menjadi korban birahi laki-laki. Sedangkan ketika menjadi hantu, mesti dikendalikan karena telah dianggap menjadi monster. Perempuan dengan segala pengalaman ketubuhannya dianggap sebagai sumber teror. 

Menanti Perspekstif Film yang Progresif

Antusiasme masyarakat akan film horor membuat sosok-sosok hantu tetap eksis. Ini terlihat dari obrolan sehari-hari yang kerapkali membahas soal teror yang mungkin terjadi. Walaupun demikian, masih ada ketimpangan dalam representasi antara hantu laki-laki dan perempuan dalam industri film Indonesia. 

Perempuan kesulitan memperoleh keadilan selama hidupnya. Oleh sebab itu, mereka hanya bisa membalaskan dendam ketika telah menjadi hantu. Seandainya hantu-hantu ini memperoleh keadilan di dunia nyata, barangkali mereka tak perlu repot-repot menjadi setan yang menebar teror. 

Baca juga: Akhiri Stigma ‘Perawan Tua’ pada Perempuan Lajang

Tingkah usil para hantu tersebut bisa jadi merupakan ekspresi kesedihan, penantian, dan kekecewaan atas ketidakadilan yang diterima. Sayangnya, seluruh hantu memiliki kesan yang sama, yakni sebagai sosok yang keberadaannya tidak diinginkan. 

Persoalan film horor ini jadi semakin kompleks ketika mengingat masih adanya dominasi adegan yang mengeksploitasi perempuan. Ini dilihat dari penggambaran tokoh yang seksi dan agresif ataupun menonjolkan bagian tubuh perempuan. Melalui adegan semacam itu perempuan ditempatkan jadi sumber masalah. 

Representasi hantu perempuan dalam film horor menambah deretan persoalan diskriminasi gender. Untuk itu, kesempatan perempuan untuk terjun dalam dunia produksi film perlu diperluas. Peningkatan partisipasi ini adalah salah satu usaha untuk melepaskan produk budaya populer semacam film dari praktik patriarki. Selain itu, pemikiran progresif juga perlu gencar dituangkan guna mewarnai wacana perfilman horor di Indonesia.(**)

Artikel ini disadur dari “Dominasi hantu perempuan dalam film horor Indonesia: bagaimana patriarki dalam budaya populer mengontrol tubuh perempuan” yang ditulis oleh Justito Adiprasetio dan Annisa Winda Larasati.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

diskriminasi gender, gerakan perempuan, hantu perempuan dan diskriminasi gender

Artikel Lainnya

KBGO

Korban KBGO Semakin Menderita

Memaknai Keterwakilan Perempuan 30%, Mendorong Putusan MA Berkeadilan Gender

Pontang-panting Generasi Sandwich di Yogyakarta

Leave a Comment