Home » Kesehatan » Menanti Partisipasi Laki-laki Sadar Kontrasepsi 

Menanti Partisipasi Laki-laki Sadar Kontrasepsi 

Yuni Camelia Putri

Kesehatan

Bincangperempuan.com- Kontrasepsi, menjadi bagian dalam kehidupan manusia modern saat ini. Lazim digunakan untuk mencegah kehamilan, penularan penyakit seksual serta perencanaan keluarga yang diinginkan. 

Faktanya hingga saat ini kontrasepsi jarang digunakan laki-laki, karena mitos dan streotip gender yang berkembang di masyarakat. Kontrasepsi menjadi “urusan”perempuan!

Penggunaan kontrasepsi sudah dimulai sejak zaman Mesir kuno sebelum masehi. Teks kuno yang ditulis papirus Ebers tahun 1550 SM dan papirus Kahun tahun 1850 SM menjadi dokumentasi tertua tentang pengendalian kelahiran saat itu. 

Kedua dokumen tersebut mencatat penggunaan madu, serat dan daun akasia pada vagina sebagai upaya untuk menghalangi sperma masuk sehingga tidak membuahi sel telur.

Tahun 1800-an, penggunaan kontrasepsi dilakukan dengan memasukkan daun-daunan tertentu ke dalam vagina atau meminum ramuan dedaunan tertentu untuk mencegah kehamilan. 

Setelah itu, seorang dokter perempuan yang bernama Aletta Jacobs di Amsterdam telah mengembangkan alat kontrasepsi yang dikenal dengan diafragma. Fungsinya sama seperti kondom. Namun, saat itu kontrasepsi di beberapa negara dilarang.

Kemudian tahun 1950, Gregory Pincus dan John Rick melalui bantuan dari Federasi Keluarga Berencana Amerika menciptakan pil KB sebagai kontrasepsi yang lebih efektif dan mudah digunakan. Penggunaannya menjadi populer di masyarakat tahun 1960-an. 

Sejak saat itu, para ahli terus mengembangkan alat kontrasepsi sebagai upaya untuk mengatur pertumbuhan angka kelahiran di suatu negara.

Pencanangan Kontrasepsi di Indonesia

Di Indonesia, pil KB menjadi kontrasepsi yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1950-an dan banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia saat itu. Seiring dengan pengenalan kontrasepsi, tahun 1970-an dan 1980-an, pemerintah Indonesia mengadopsi program keluarga berencana nasional yang disebut “Management for the People” sebagai upaya untuk mengurangi jumlah kelahiran.

Pada tahun 1976-2002, angka pengguna kontrasepsi mengalami peningkatan dua kali lipat hingga mencapai 60%. Angka kelahiran total mengalami penurunan hingga setengahnya, dari 5,6% menjadi 2,6% per wanita. Kondisi ini didorong oleh kampanye aktif dari pemerintah untuk meningkatkan pemahaman tentang kontrasepsi.

Meskipun penggunaan kontrasepsi mengalami peningkatan di Indonesia selama beberapa dekade terakhir, masih banyak tantangan yang dihadapi karena akses yang terbatas terutama di wilayah pedesaan. 

Kenapa laki-laki enggan menggunakan kontrasepsi?

Kontrasepsi untuk laki-laki tersedia, namun penggunaan masih sangat rendah. Tahun 2021 menunjukan persentase kesadaran kesehatan reproduksi laki-laki baru 3,62%. Berbanding jauh dengan perempuan sebagai pengguna kontrasepsi mencapai 96,7%. 

Ada beberapa alasan yang membuat laki-laki enggan menggunakan kontrasepsi, diantaranya : 

  • Persepsi maskulinitas

Ada anggapan penggunaan kontrasepsi hanya menjadi kewajiban perempuan. Kondisi ini turut dilanggengkan sistem sosial yang patriarki, dimana memberikan keunggulan dan kekuasaan kepada laki-laki sehingga dapat memengaruhi pandangan dan perilaku terkait dengan kontrasepsi. 

Kultur patriarki bisa menciptakan norma-norma yang menekankan peran laki-laki sebagai penentu dan pengambil keputusan utama dalam hubungan, termasuk dalam hal pengendalian kelahiran. Penting untuk menghilangkan pandangan bahwa kontrasepsi hanya menjadi tanggung jawab perempuan. Namun keduanya, memiliki tanggung jawab dan peran yang setara. 

  • Alat kenakalan Lelaki 

Menurut Adi Sasongko, pakar HIV Indonesia mengungkapkan ada stigma negatif penggunaan kontrasepsi kondom. Ini menjadi salah satu faktor penghambat di Indonesia. Stigma ini muncul karena kampanye kondom yang selalu dikaitkan sebagai cara pencegahan HIV-AIDS di ruang publik. Akibatnya masyarakat memandang negatif penggunaan kondom.

  • Sulitnya mendapatkan akses layanan kesehatan

Beberapa laki-laki yang ingin melakukan vasektomi sering kesulitan mendapatkan akses layanan kesehatan yang ada. Selain itu, tak jarang ada oknum yang justru memberikan pandangan negatif sehingga laki-laki tersebut mengurungkan niatnya.

  • Kurangnya edukasi 

Selama ini pendidikan reproduksi yang diberikan di sekolah dan keluarga lebih menitikberatkan pada perempuan. Akibatnya tidak jarang beberapa laki-laki tidak mendapatkan informasi yang tepat tentang alat kontrasepsi dan bagaimana cara penggunaannya. Hal ini menyebabkan laki-laki semakin kesulitan dalam memilih jenis kontrasepsi yang tepat untuk mereka.

Penting untuk mengubah pandangan dan persepsi yang salah tentang kontrasepsi serta memberikan dukungan yang tepat kepada laki-laki mengenai opsi kontrasepsi yang tersedia. Pasangan sebaiknya berbicara terbuka satu sama lain untuk memahami preferensi dan kebutuhan masing-masing dalam hal pengendalian kelahiran.(Yuni Camelia Putri)

kesehatan reproduksi, kontrasepsi laki-laki

Artikel Lainnya

Premenstrual Syndrome, Gejala dan Cara Mengatasinya

Di Balik Stigma Menstruasi: Pengalaman Perempuan Indonesia

Apa Itu Premenstrual Syndrome ? Bagaimana Gejalanya ?

Leave a Comment