Home » Kesehatan » Kembali Memaknai Body Positivity

Kembali Memaknai Body Positivity

Delima Purnamasari

Kesehatan

Body positivity

Standar kecantikan dunia modern yang tidak realistis banyak membuat perempuan tertekan. Kulit mesti putih, pipi tirus, sampai bulu mata yang lentik. Padahal, semua orang berhak memiliki penerimaan diri dan citra tubuh yang positif. Perlawanan ide agar tiap orang bisa mendefinisikan diri dan tubuhnya ini adalah semangat gerakan body positivity. 

Body Positivity sendiri dimaknai dengan gerakan mempromosikan ukuran, bentuk, dan penampilan tubuh secara apa adanya. Ide ini memberikan penghormatan dan apresiasi tinggi pada kepemilikan tubuh. Dengan demikian, kulit yang hitam, kekurangan berat badan, atau rambut yang keriting dianggap sebagai keberagaman yang perlu diapresiasi. 

Pesan postif semacam ini terbukti berdampak baik. Sebuah studi menunjukkan bahwa perempuan yang aktif menggunakan media sosial dan mengakses informasi mengenai body positivity memiliki kesejahteraan emosional dan kepuasan pada tubuh yang lebih besar. 

Gerakan Melawan Diskriminasi

Awal gerakan body positivity berasal dari fat acceptance pada tahun 1967. Kala itu, masyarakat amat menganggungkan badan yang kurus hingga menimbulkan fobia pada orang-orang bertubuh gemuk. Diskriminasi pekerjaan dan pelarangan duduk di tempat umum dengan alasan membuat orang lain tidak nyaman dianggap sebagai hal yang normal. 

Gerakan fat acceptance muncul untuk melawan diskriminasi itu. Mereka ingin mendapatkan kesempatan yang sama sekaligus perlindungam terlepas dari bentuk badannya. Aksi protes digelar. Sebanyak 500 orang berkumpul di Central Park, New York, Amerika Serikat dengan membakar buku diet dan foto model bertubuh kurus. 

Protes tersebut diikuti munculnya banyak kritik lain. Hingga akhirnya muncul organisasi National Association to Advance Fat Acceptance (NAAFA) untuk mengadvokasi dan memberi pelayanan bagi orang-orang gemuk yang mengalami diskriminasi. 

Ide tersebut semakin populer dengan hadirnya thebodypositive.org yang diprakarsai oleh Elizabeth Scott dan Connie Sobczak dengan slogan “Love your body, live your life!” Platform ini melakukan kampanye dan memberi edukasi agar orang-orang mencintai dirinya sendiri. 

Saat ini, body positivity tidak hanya mengadvokasi orang-orang gemuk saja. Gerakan ini jadi simbol bagi orang-orang termarginalkan karena bentuk tubuh dan identitasnya. Baik itu kelompok disabilitas, transgender, hingga orang-orang kulit hitam. Gerakan ini semakin dikenal karena didorong oleh akun-akun media sosial populer yang menentang bias struktural dari industri kecantikan. Nilai-nilai soal citra positif tubuh ini sekarang juga mudah ditemui. 

Komersialisasi Body Positivity

Body positivity bukan berarti mempromosikan obesitas atau pelarangan seseorang untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik dan sehat. Terlebih, tidak semua orang gemuk dilatarbelakangi oleh gaya hidup yang tak sehat atau malas. Banyak di antara kondisi mereka disebabkan pubertas, efek obat, DNA, dan hormon tertentu lainnya. Di sisi lain, mereka yang bertubuh kurus juga bisa memiliki penyakit yang serius. 

Baca juga: Obsesi Sensual pada Bra dan Payudara

Esensi kampanye body positivity adalah penghentian standar tubuh ideal yang tidak realistis. Meski demikian, gerakan ini juga menuai kekhawatiran. Banyak merek busana dan kecantikan mulai mengadopsi pesan body positivity sebagai slogan perusahaannya. Ini jadi strategi agar penjualan semakin meraup keuntungan lebih banyak lagi. Mereka melibatkan orang-orang berkulit hitam, bertubuh gemuk, bahkan disabilitas. Namun, komersialisasi ini justru melahirkan standar baru dalam kecantikan. 

Banyak model plus size mengaku tidak serta-merta diberikan ruang yang inklusif. Mereka mesti memenuhi standar pantat yang menonjol dan besar, leher yang terlihat, hingga wajah yang tidak boleh terlalu bulat. Industri kecantikan kembali mengeksploitasi tubuh dan membuat para model sebagai objek semata

Body positivity jadi kehilangan esensinya karena komersialisasi. Dengan demikian, gerakan ini tidak lagi jadi tempat untuk mereka yang terdiskriminasi sebagaimana hal ini dicita-citakan. 

Bukan Tanpa Kritik

Body positivity bukan hanya untuk perempuan. Semangatnya bisa diadopsi oleh laki-laki dan segala rentang umur. Namun, gerakan ini justru dinilai semakin eksklusif. 

Akun-akun yang menyebarkan ide soal body positivity justru menunjukkan penampilan yang menarik secara konvensional. Gerakan ini jadi tetap mendorong masyarakat untuk mengatur tubuh sesuai dengan praktik kecantikan. Dengan kata lain, ketika seseorang gagal membentuk tubuh yang positif atau gagal memiliki pola pikir yang positif maka orang itu menjadi salah. Penekanan untuk mencintai penampilan juga dianggap hanya akan memperkuat fokus masyarakat pada fisik dan tubuh semata. 

Gerakan body positivity juga kerap menerima kritik karena dianggap mengarah ke perilaku yang ekstrem. Seseorang didorong untuk berpikir positif apa pun keadaannya sehingga dianggap tidak realistis. 

Baca juga: Sadari Kanker Payudara Sejak Dini

Banyak pihak mulai beralih dari pola pemikiran body positivity dan tekanan yang dihasilkan dari gerakan ini. Salah satu alternatif yang bisa dipilih adalah netralitas tubuh. Gerakan ini tidak berfokus pada penampilan fisik. Tubuh dianggap bukan satu-satunya hal yang bisa mendefinisikan seseorang. Manusia adalah makhluk yang kompleks dengan emosi dan perasaan yang menyertai. 

Netralitas tubuh membuat seseorang bisa menghargai segala hal yang dilakukan oleh tubuh. Misalnya, bersyukur bisa melakukan hobi atau menghargai kemampuan tubuh untuk melakukan berbagai aktivitas lainnya. 

Kedua gerakan tersebut sesungguhnya berawal dari konsep bahwa kecantikan dikonstruksi oleh masyarakat dan seseorang tidak boleh menentukan nilai/harga dirinya sendiri. Banyak yang merasa rendah diri hingga menempuh jalur ekstrem untuk bisa merasa diterima. Dengan demikian, sesungguhnya merangkul body positivity maupun netralitas tubuh baik untuk dilakukan. (Delima Purnamasari)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Artikel Lainnya

Jenis-jenis kontrasepsi

Perempuan dan Kuasa Tubuh Atas Penggunaan Kontrasepsi 

Mendobrak stigma negatif masyarakat terhadap aborsi

Mendobrak Stigma Negatif Masyarakat Terhadap Aborsi 

Di Balik Stigma Menstruasi: Pengalaman Perempuan Indonesia

Leave a Comment