Bincangperempuan.com- Hai, B’Pers! Lebaran sudah di depan mata, nih! Momen spesial ini identik dengan silaturahmi, maaf-maafan, dan tentu saja meja penuh hidangan khas. Tapi, di era digital sekarang, suasana Lebaran juga dihiasi dengan unggahan media sosial—instastory dengan busana muslim terbaru, foto keluarga serasi, dan video aesthetic kue kering di toples kaca.
Sayangnya, di balik kehangatan tersebut, ada satu hal yang sering kali lebih ditakuti daripada makanan berlemak tinggi: pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang terlalu personal. Sudah siapkah kamu menghadapinya?
Pertanyaan Saat Kumpul Keluarga
Saat kecil, Lebaran terasa menyenangkan, mulai dari baju baru, angpao, dan kebebasan bermain dengan sepupu yang selalu dinanti-nanti. Namun, seiring bertambahnya usia, suasana mulai berubah. Kini, Lebaran bukan lagi tentang membandingkan jumlah THR (Tunjangan Hari Raya) dengan sepupu, tetapi tentang ujian sosial dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan seperti: “Kapan nikah?”, “Udah kerja di mana?”, “Gajinya berapa?”, “Kapan punya anak?” dan abrek pertanyaan bernada kepo yang serupa!
Bagi banyak orang, pertanyaan ini terasa seperti interogasi tahunan. Seolah-olah Lebaran bukan hanya soal silaturahi, tetapi justru malah jadi ajang evaluasi hidup.
Baca juga: Kenapa Perempuan yang Mandiri Secara Finansial Sering Diglorifikasi?
Ekspektasi terhadap Perempuan dalam Tradisi Lebaran
Beban pertanyaan ini sering kali lebih berat bagi perempuan. Selain harus siap menjawab pertanyaan seputar pencapaian hidup, perempuan juga masih diharapkan untuk memenuhi standar tradisional dalam peran domestik.
Di banyak keluarga, perempuan sering dianggap “dapur-oriented”—wajib turun ke dapur untuk menyiapkan hidangan Lebaran, sementara laki-laki bisa bersantai di ruang tamu. Jika belum menikah, ditanya kapan menikah. Jika sudah menikah, ditanya kapan punya anak. Jika sudah punya anak, ditanya kapan menambah anak. Pertanyaan-pertanyaan ini seperti siklus yang tak ada habisnya.
Pulang Kampung dan ‘Ajang Pamer’
Mudik dan kumpul keluarga dulu adalah soal melepas rindu. Sekarang? Kadang lebih terasa seperti ajang pamer.
Dari outfit Lebaran, gadget terbaru, mobil yang dikendarai, hingga update pencapaian hidup—semuanya bisa menjadi alat ukur keberhasilan seseorang di mata keluarga besar. Sosial media memperparah ini. Tidak sedikit orang yang merasa perlu menunjukkan kesuksesan mereka lewat sosial media, seolah Lebaran adalah kompetisi tidak resmi untuk membuktikan siapa yang lebih “berhasil” dalam hidup.
Belum lagi dengan mudahnya berbelanja melalui e-commerce, iming-iming promo dan gratis ongkos kirim membuat seseorang jadi lebih konsumtif. Seorang psikolog sosial, Erving Goffman, pernah membahas teori self-presentation—bagaimana individu cenderung menampilkan versi terbaik diri mereka di depan publik, seperti aktor di panggung. Lebaran, dengan segala ekspektasi sosialnya, adalah panggung besar di mana orang-orang merasa perlu tampil sempurna.
Tidak heran jika sebagian orang tidak terlalu suka Lebaran karena isinya hanya ajang pamer dan pertanyaan yang menghakimi.
Baca juga: Keterwakilan Perempuan dalam Afirmasi Semu
Bagaimana Menjawab Pertanyaan Personal?
Orang tua kita atau generasi sebelumnya, mereka tumbuh dalam budaya yang menganggap pencapaian hidup harus mengikuti pola tertentu seperti sekolah, kerja, menikah, punya anak. Mereka tidak terbiasa dengan konsep privasi seperti generasi sekarang.
Namun, bukan berarti kita harus selalu tunduk pada standar mereka. Berikut beberapa cara merespons pertanyaan yang mengganggu:
Santai tapi Tegas
- “Masih menikmati hidup dulu, doakan yang terbaik ya!”
Lempar Balik Pertanyaan
- “Kenapa nih nanyain? Lagi kepikiran nikah juga?”
Jawaban Humor
- “Ditunggu aja undangannya di email, masih cari sponsor dulu!”
- “Soal jodoh udah banyak yang apply, tapi waduh belum ada yang mampu. Kalau ada kenalan, kenalin dong!”
Minta Doa
- “Alhamdulillah cukup buat hidup, semoga selalu berkah.”
Tetapi, di sisi lain, kita juga bisa mengajak keluarga untuk mengubah kebiasaan ini. Daripada bertanya soal hal-hal yang terlalu personal, mungkin lebih baik bertanya tentang kabar, keseharian, atau kebahagiaan seseorang.
Mengatur Batasan dalam Interaksi Keluarga
Merangkum tips dari Wellbeing, selain jawaban di atas, kamu juga harus memiliki kendali terhadap respon dan berapa lama kamu ingin berinteraksi dengan keluarga. Tidak ada keharusan untuk terus mengikuti tradisi yang membuatmu tidak nyaman, seperti menghabiskan waktu lama di acara keluarga. Jika pertemuan tersebut tidak membawa kebahagiaan, kamu bisa memilih untuk membatasi durasi kunjungan atau bahkan tidak menghadirinya sama sekali. Mengakui bahwa pertemuan keluarga tidak selalu sempurna juga dapat membantumu merasa lebih tenang dan tidak terbebani ekspektasi sosial.
Mengalihkan Pembicaraan
Mengalihkan pembicaraan juga bisa menjadi strategi efektif untuk menghindari pertanyaan yang tidak diinginkan. Jika seseorang bertanya tentang hal yang membuatmu tidak nyaman, arahkan pembicaraan ke topik lain yang lebih aman atau menarik. Mengajak orang lain untuk ikut berbicara juga bisa membantu mengalihkan fokus dan mengurangi tekanan dalam percakapan.
B-Pers, tahu nggak sih? Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan pribadi yang bikin kita risih itu lebih sering mencerminkan tekanan sosial yang dirasakan si penanya daripada diri kita sendiri. Misalnya, kalau ada yang nyeletuk “Kapan nikah?” atau “Kapan punya anak?”, besar kemungkinan itu karena ekspektasi keluarga atau budaya yang mereka anut sejak lama. Jadi, tidak perlu masuk hati! Ambil napas, senyum santai, dan kalau perlu, alihkan obrolan ke hal yang lebih seru—misalnya tanya kabar mereka, cerita keseharian, atau bahas topik ringan yang lebih menyenangkan.
Karena Lebaran seharusnya menjadi momen kebersamaan yang penuh kehangatan, bukan ajang interogasi atau pamer pencapaian. Dengan beberapa strategi ini, kamu bisa menghadapi pertemuan keluarga dengan lebih percaya diri dan tanpa stres berlebihan.
Referensi:
- Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. Anchor.
- Wellbeing. (n.d.). How to deal with nosy questions. Diakses dari https://mywellbeing.com/therapy-101/how-to-deal-with-nosy-questions