Home » Kesehatan » Vasektomi, Membantu Meringankan Beban Reproduksi Perempuan

Vasektomi, Membantu Meringankan Beban Reproduksi Perempuan

Delima Purnamasari

Kesehatan

Vasektomi Membantu Meringankan Beban Reproduksi Perempuan

Bincangperempuan.com- Hamil hingga melahirkan dapat menjadi prosesi yang begitu traumatis bagi perempuan. Salah satu cara yang dapat dilakukan laki-laki untuk memberi dukungan dan bentuk empati terhadap kondisi tersebut adalah melakukan vasektomi. Ini bukanlah proses kebiri sehingga tidak akan menghilangkan keperkasaan. 

Sebaliknya, vasektomi adalah operasi pembedahan penis untuk memutus tabung yang membawa sperma agar tidak meninggalkan tubuh. Dengan demikian, proses ini menghalangi sperma masuk ke air mani saat laki-laki ejakulasi. Vasektomi menjadi metode kontrasepsi paling efektif karena kegagalannya kurang dari 1%. 

Peningkatan partisipasi laki-laki dalam program keluarga berencana begitu penting demi mencapai target pembangunan berkelanjutan pada tahun 2030. Program keluarga berencana terbukti berhasil menurunkan angka kematian ibu pada 50 tahun terakhir. Meski begitu, partisipasi laki-laki masih pada angka 4,4%. Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain, seperti Thailand (9%), Malaysia (16,8%), ataupun Filipina (24%). 

Prosedur vasektomi

Vasektomi dapat dilakukan melalui operasi kecil yang hanya memakan waktu 10-15 menit dengan bius lokal. Ini hanya berupa pemotongan saluran sperma kiri dan kanan sehingga buah zakar/testis tetap ada untuk memproduksi hormon testosteron. Prosedur ini tidak akan berpengaruh pada libido/nafsu seksual sehingga tidak akan membuat impoten.

Ketika telah melakukan vasektomi, laki-laki tidak akan merasakan perbedaan dengan sebelumnya. Ejakulasi tetap mengeluarkan mani, tetapi cairan yang dikeluarkan tidak mengandung sperma. 

Perlu dipahami bahwa prosedur ini merupakan pengendalian kelahiran permanen pada laki-laki. Pendirian dari pasangan biasanya akan dibicarakan pada kunjungan konsultatif. Selain itu, vasektomi tidak serta-merta memberikan perlindungan dari infeksi menular seksual.

Baca juga:  Perempuan Lokal, Tak Surut Merawat Tradisi Seklang Putung

Terdapat dua teknik yang bisa dilakukan, yaitu konvensional dan teknik tanpa pisau bedah. Apabila teknik konvensional akan dilakukan pemotongan kulit lalu menjahitnya, teknik tanpa pisau bedah adalah kebalikannya. Tidak ada pemotongan kulit, rasa sakitnya lebih ringan, dan risiko komplikasi lebih rendah. Laki-laki yang menjalani vasektomi kemungkinan akan mengalami bengkak, nyeri, dan memar. Walaupun begitu, kondisinya akan membaik dalam beberapa hari.

Prosedur vasektomi memang terbilang sederhana, tetapi pelayanannya masih terbatas di kota-kota besar saja. Biayanya juga cukup mahal, yakni sekitar Rp2 juta. Walau begitu, prosedur ini bisa didapat gratis melalui program BPJS.

Perlunya menggencarkan sosialisasi

Vasektomi telah banyak dilakukan negara lain. Kanada adalah salah satu negara yang gencar melakukannya dengan capaian hingga 30-40%. Namun, di Asia Tenggara jumlahnya masih di bawah 5%. Ini disebabkan adanya pengaruh sosial sehingga banyak laki-laki merasa ragu. 

Pada kondisi semacam ini, pengetahuan jadi faktor penting untuk membentuk tindakan seseorang. Ilmu yang diyakini menjadi sebuah dorongan psikis demi menumbuhkan percaya diri untuk menghasilkan perubahan sikap. 

Salah satu cara untuk menanamkan pengetahuan adalah melalui sosialisasi. Proses belajar ini jadi langkah awal untuk menanamkan nilai, aturan, dan kebiasaan baru di masyarakat. Untuk itu, para pemangku kebijakan memiliki tanggung jawab untuk melakukan sosialisasi efektif demi meruntuhan mitos-mitos yang beredar. 

Sasaran utama penyuluhan ini tentu laki-laki mengingat bahwa separuh dari mereka kerap tidak hadir pada agenda semacam ini. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Surabaya dan Madiun pada tahun 2017 lalu. Melalui 150 sampel, ditemukan bahwa setengah dari sampel tidak pernah menghadiri penyuluhan tentang KB. 

Strategi sosialisasi yang tepat dapat dilihat dari kelompok KB Pria Harjo Sentoso di Dusun Karanganyar, Kabupaten Bantul. Anggota kelompok yang telah menjadi akseptor ini efektif sebagai motivator bagi masyarakat. Mereka memberikan informasi dari mulut ke mulut secara ringan, menyebarkan pengetahuan berwawasan gender, memberi fasilitas sekaligus hadiah bagi peserta KB, hingga mengembangkan banyak kegiatan kelompok. Peran tersebut jadi efektif karena anggotanya adalah masyarakat sendiri yang mayoritas bekerja sebagai petani. Awal berdiri pada tahun 2010, kelompok ini beranggotakan 25 orang dan terus mengalami peningkatkan hingga kini. Kelompok KB Pria Harjo Sentoso melahirkan lingkungan yang mendukung sekaligus menunjukkan komitmen masyarakat desa. Hingga akhirnya dapat meningkatkan partisipasi vasektomi dan berhasil membuat kelompok ini jadi percontohan di tingkat nasional. 

Baca juga: Pentingnya Mendampingi Ibu Saat Mengalami Sindrom Baby Blues

Banyak kekeliruan dalam memandang vasektomi. Pemerintah dan pemangku kebijakan lain mesti saling berkolaborasi untuk memasifkan penyuluhan soal kontrasepsi laki-laki ini. Materi ini dapat pula disisipkan dalam bimbingan pranikah ataupun mengaktifkan kader-kader kesehatan di masyarakat. 

Memberi manfaat bagi pasangan

Vasektomi dapat meringankan beban perempuan setelah proses panjang reproduksi dari menstruasi, hamil, melahirkan, hingga menyusui. Apabila kontrasepsi masih dibebankan pada perempuan, tentu akan sangat memberatkan. Terlebih, kontrasepsi yang tersedia bagi perempuan memiliki beragam konsekuensi. Pil KB, IUD, hingga suntik KB berpotensi menyebabkan berat badan naik, mengubah siklus menstruasi, sakit kepala, nyeri di payudara, hingga mengubah hormon yang menyebabkan timbulnya banyak jerawat. 

Vasektomi adalah prosedur paling nyaman dan aman. Laki-laki tak perlu pusing menggunakan kondom lagi untuk mencegah kehamilan. Laki-laki juga tidak perlu khawatir karena risiko komplikasi dan efek samping yang terjadi begitu rendah. Prosedur ini adalah pilihan pengendalian yang aman dan efektif. Keberhasilan program KB tentu tidak dapat dilepaskan dari komitmen dan partisipasi aktif dari pihak suami.

Penggunaan kontrasepsi pada laki-laki masih sering dianggap tabu. Hal ini berdampak pada rendahnya tingkat pengetahuan mereka dalam program KB. Vasektomi jadi salah satu cara yang mesti digalakkan untuk menyebarkan pesan pendidikan soal pentingnya peran laki-laki dalam program KB. Secara makro, prosedur ini juga bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia. (**)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Artikel Lainnya

Sunat Perempuan, Bentuk Diskriminasi Gender

Sunat Perempuan, Bentuk Diskriminasi Berbasis Gender

Ibu Rumah Tangga, Kelompok Rentan Risiko HIVAIDS

Ibu Rumah Tangga, Kelompok Rentan Risiko HIV/AIDS

Gamophobia, Ketakutan untuk Menjalin Komitmen dan Pernikahan

Gamophobia, Ketakutan untuk Menjalin Komitmen dan Pernikahan

Leave a Comment