Home » Kesehatan » Ibu dan Anak » Ajarkan Anak Untuk Mengendalikan Diri

Ajarkan Anak Untuk Mengendalikan Diri

Yuni Camelia Putri

Ibu dan Anak

Bincangperempuan.com- Apakah Bunda pernah mendapati Si Kecil yang tantrum ketika menginginkan sesuatu? Duh, ini pasti bikin frustasi banget, kan? Nah, Bunda dapat mengatasinya dengan mengajarkan Si Kecil cara untuk mengendalikan dirinya dan merespon sesuatu dengan lebih baik.

dr. Elvine Gunawan, SP. KJ menjelaskan jika setiap orang tua harus mengajarkan anak untuk mengontrol dirinya sejak kecil. Bunda dapat memulainya dengan mempelajari pola tantrum si Kecil, cara mereka menunjukkan kelekatan, merespon masalah, dan mengelola stresnya. Langkah ini penting agar memudahkan Bunda untuk memilih metode pengajaran yang tepat bagi Si Kecil.

Cobalah ajarkan  Si Kecil untuk lebih sabar ketika menginginkan sesuatu. Misalnya, ketika Si Kecil meminta mainan dan mulai menangis di tengah keramaian dengan harapan Bunda akan membelikannya. Nah, Bunda dapat menolaknya dan menjelaskan tentang pentingnya memilih barang yang akan dibeli.

Tips mengajarkan anak untuk mengendalikan diri

Ada banyak tips yang dapat Bunda pilih untuk mengajarkan anak dalam mengendalikan dirinya. Tapi, pernahkah bunda mendengar jika proses ini terbagi dalam beberapa kategori berdasarkan usia anak?

dr. Ari Brown, M.D. spesialis anak dan penulis buku tentang anak menjelaskan bahwa orang tua harus mengajarkan anak untuk mengendalikan diri berdasarkan tingkat usianya. Langkah ini dinilai sebagai cara yang lebih efektif dan realistis untuk membangun kualitas pengendalian diri yang baik bagi anak.

Dilansir dari Nemours Child Health, terdapat 5 pengelompokan usia dalam proses mengajarkan anak untuk mengendalikan dirinya. Yuk, intip apa saja tipsnya!

Baca juga: Pink Tax : Praktik Diskriminasi Harga Produk Berdasarkan Gender

Anak usia 9 bulan hingga 2 tahun

Bunda dapat mengajarkan pengendalian diri kepada anak sejak berusia 9 bulan. Hal ini dilakukan karena pada usia ini, anak akan mengalami frustrasi karena tidak dapat melakukan segala hal yang diinginkan. Biasanya, mereka akan meresponnya dengan amarah. Nah, Bunda dapat mencoba untuk mencegah ledakan emosi Si Kecil dengan mengalihkannya ke mainan atau aktivitas tertentu.

Sementara itu, Si Kecil yang telah mencapai usia 2 tahun dapat diajarkan tentang konsekuensi dari ledakan emosian dan time out. Hal ini dilakukan agar anak dapat menyadari tentang pentingnya mengelola emosi daripada membuang-buang waktu dengan amarahnya.

Anak usia 3 hingga 5 tahun

Bunda dapat membangun kepercayaan pada anak yang berusia 3 sampai 5 tahun. Salah satu caranya adalah menjanjikan hadiah bagi Si Kecil yang mau menghabiskan makanannya atau mengatakan pujian bagi Si Kecil yang telah sabar. Selain itu berikan Si Kecil waktu untuk menyendiri agar dapat mengeksplorasi dirinya.

Bunda juga dapat memberikan contoh perilaku positif kepada Si Kecil alih-alih terus menegurnya. Selain itu, ajarkan Si Kecil untuk lebih disiplin dan menentukan pilihan yang tepat bagi dirinya.  Dalam proses ini, Si Kecil biasanya akan menyerahkan sesuatu yang dimilikinya atau melakukan tindakan positif tertentu untuk ditukarkan dengan barang yang diinginkannya. Bunda dapat meresponnya dengan apresiasi kecil dan memberikan barang yang diinginkan Si Kecil.

Anak usia 6 hingga 9 tahun

Usia 6 hingga 9 tahun merupakan usia prasekolah dan waktu yang paling produktif bagi anak untuk mengeksplorasi berbagai hal baru di luar rumah. Di usia ini, Bunda akan lebih mudah untuk mengajarkan konsekuensi dari perilaku dan pilihan Si Kecil. Tak hanya itu, Bunda dapat menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak dengan memintanya untuk mengerjakan tugas dari sekolah atau mencuci piring setelah makan. Terakhir, Bunda dapat mendorong Si Kecil untuk menghindari situasi yang membuatnya frustrasi untuk menenangkan dirinya. Berikan pujian setiap kali Si Kecil berhasilkan melakukan hal positif.

Anak usia 10 sampai 12 tahun

Anak-anak yang berusia 10-12 tahun cenderung mengekspresikan dirinya secara terbuka. Mereka dapat dengan mudah kehilangan kendali dan menolak masukan dari sekitarnya. Kondisi ini akan membuat Bunda merasa pusing dalam menghadapi perilaku anak. Eits, jangan panik dulu ya, Bun! Bunda dapat mengatasinya dengan membiarkan anak untuk memikirkan respons yang tepat dalam situasi ini.

Di usia ini, Bunda dapat bersikap menjadi teman bagi sang anak dan membantu mereka dalam memahami situasi yang membuatnya kesal. Selanjutnya, ajarkan pada anak bahwa pikiran mereka dapat memengaruhi situasi di sekitarnya. Terakhir, berikan pujian setelah anak berhasil mengendalikan dirinya.

Anak usia 13 hingga 17 tahun

Bunda mungkin akan berpikir jika anak yang berusia 13 sampai 17 tahun dapat mengendalikan diri mereka dengan baik. Faktanya, anak harus tetap diawasi dan diingatkan agar memikirkan konsekuensi jangka panjang dari pilihannya. Ajak mereka untuk mengevaluasi diri dan lebih terbuka ketika memiliki masalah. Bunda dapat mengurangi beberapa hak-hak istimewa yang diberikan sebelumnya untuk memperkuat pengendalian diri dan tanggung jawab sang anak. Biarkan anak berusaha untuk mendapatkan hak mereka sebelumnya dengan usaha dan pengendalian diri yang lebih baik.

Baca juga: Emotional Abuse, Kenali Ciri dan Cara Menghindarinya 

Tantangan mengajarkan anak untuk mengendalikan dirinya

Meskipun mengajarkan anak untuk mengendalikan diri sangat penting, Bunda akan menghadapi beberapa tantangan serius dalam prosesnya. Tantangan ini dapat membuat Bunda merasa tidak nyaman hingga kegagalan dalam menerapkan proses pengendalian diri pada Si Kecil. Kira-kira, apa saja tantangan yang dihadapi oleh para Bunda dalam proses ini, ya?

ADHD

Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) merupakan gangguan mental yang menyebabkan anak sulit untuk fokus dan hiperaktif. ADHD menjadi tantangan yang banyak dihadapi oleh para Bunda dalam mengajarkan pengendalian diri kepada Si Kecil.

ADHD akan memengaruhi kemampuan otak Si Kecil untuk membatasi dan memikirkan dampak dari tindakannya. Akibatnya, Si Kecil akan melakukan sesuatu tanpa mempertimbang konsekuensi dan pengelolaan emosinya.

Perbedaan pola belajar

Bunda pasti memiliki cara tersendiri untuk mengajarkan Si Kecil agar cerdas secara akademik dan emosional. Sayangnya, beberapa orang tua justru hanya mementingkan kecerdasan anak yang diukur dari kemampuan membaca atau matematika. Akibatnya, anak yang memiliki pola belajar yang berbeda kerap dianggap tidak berusaha dengan keras.

Konsep inilah yang kerap disalahpahami sehingga menimbulkan stres pada anak. Akibatnya, anak tidak dapat mengendalikan emosi, cemas berlebihan, cepat menyerah, dan menolak untuk pergi ke sekolah.

Gangguan pemrosesan sensorik (SPD)

Proses sensorik pada anak didapatkan dari suara, visual, rasa, bau, dan tekstur yang dirasakan oleh tubuh. Sayangnya, beberapa anak jutsru mengalami gangguan dalam memproses informasi sensorik seperti rasa kenyang, panas atau lapar. Situasi ini telah membebani sang anak dan menyebabkan anak terus melakukan penolakan atau mengurung diri.

Kesulitan untuk berkomunikasi

Kesulitan untuk berkomunikasi dialami oleh anak yang jarang berinteraksi dengan orang lain. Masalah ini menyebabkan anak sulit untuk berinteraksi secara sosial atau mengikuti aturan yang berlaku di masyarakat. Anak yang mengalami kesulitan dalam komunikasi kerap memotong antrean, memotong pembicaraan atau terlalu ikut campur dengan urusan orang lain.

Nah, setelah mengetahui tips dan tantangannya, Bunda dapat menerapkannya pada Si Kecil agar lebih jago dalam mengendalikan dirinya. Jika Si Kecil membrontak, Bunda dapat bersikap tegas agar mereka lebih memahaminya.

Sumber:

  • dr. Elivine Gunawan, Sp.KJ, 2023. “Tips Parenting, Yuk Ajarkan Anak Kontrol Diri”, dalam @elv_gun
  • Kate Kelly,-. “What causes trouble with self-control?”, dalam Understood
  • Lauren M. O’Donnell, PsyD, 2018. “Teaching Your Child Self-Control”, dalam Nemours Kids Health
  • Parents Team, 2013. “Parenting Tips – How to Discipline Children at Different Ages”, dalam Parents Youtube Channels

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Artikel Lainnya

Mengatur Keuangan ala Ibu Tunggal

Sindrom Baby Blues

BKKBN: 57% Ibu di Indonesia Alami Gejala Baby Blues

Mengandung dan melahirkan

Mengandung dan Melahirkan: Dua Gambaran Kekuatan Perempuan

Leave a Comment