Apa Itu Green Job? Masa Depan Ketenagakerjaan Berkelanjutan

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Belakangan ini, isu krisis iklim makin sering muncul di media. Dari cuaca yang tidak dapat diprediksi, bencana ekologis, sampai dorongan global untuk transisi energi. Selain berdampak ke kehidupan sosial, krisis iklim iuga berdamapak ke dunia kerja. Di sinilah istilah green job mulai relevan dan mulai jadi pembicaraan serius.

Istilah green job mungkin masih belum familiar di telinga banyak orang. Tetapi pekerjaan jenis ini diprediksi akan booming di masa depan, bukan hanya di Indonesia, tapi juga secara global. Lalu, sebenarnya green job itu pekerjaan apa?

Baca juga: Waktu Aku Dilayoff: Ketika Perempuan Kehilangan Pekerjaan

Apa itu GreenJob?

Menurut Factsheet International Labour Organization (ILO), green jobs atau pekerjaan ramah lingkungan adalah pekerjaan yang layak sekaligus berkontribusi pada pelestarian lingkungan hidup. Jenis pekerjaan ini merupakan upaya membangun perekonomian dan masyarakat yang lebih berkelanjutan, inklusif, serta mampu menjaga lingkungan bagi generasi sekarang dan mendatang.

Konsep green jobs berangkat dari gagasan pertumbuhan hijau (green growth) dan pembangunan bersih, yang menempatkan perlindungan lingkungan hidup dan pertumbuhan ekonomi sebagai dua hal yang dapat berjalan beriringan. Melalui pendekatan ini, aktivitas ekonomi tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada upaya meminimalkan kerusakan lingkungan dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

Secara lebih rinci, green jobs mencakup pekerjaan yang bertujuan melindungi ekosistem dan keanekaragaman hayati; mengurangi konsumsi energi, material, dan air melalui strategi efisiensi tinggi; mendorong dekarbonisasi perekonomian; serta mencegah dan mengurangi limbah maupun polusi.

Greenjobs hadir di berbagai sektor, di bidang energi terbarukan, misalnya, terdapat pekerjaan seperti teknisi panel surya, operator pembangkit listrik tenaga angin, hingga perencana sistem energi bersih. Di sektor pengelolaan lingkungan, green jobs mencakup pengelola daur ulang, pengolah limbah, auditor lingkungan, serta konsultan keberlanjutan perusahaan. Sementara itu, di sektor pertanian dan kehutanan, pekerjaan ramah lingkungan meliputi pertanian berkelanjutan, agroforestri, dan konservasi hutan.

Di negara berkembang, termasuk Indonesia, green jobs membuka peluang bagi berbagai kelompok masyarakat, mulai dari manajer, ilmuwan, dan teknisi, hingga pekerja lapangan. Kalangan muda, petani, masyarakat pedesaan, serta warga di kawasan miskin perkotaan berpotensi memperoleh manfaat dari berkembangnya sektor ini, seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Namun, peluang tersebut belum sepenuhnya merata. Pengembangan energi terbarukan membutuhkan investasi besar dan sangat bergantung pada dukungan kebijakan serta anggaran pemerintah. Ketika dukungan tersebut belum optimal, penciptaan lapangan kerja hijau pun berjalan lebih lambat. Selain itu, akses perempuan muda terhadap pelatihan keterampilan hijau (green skills) masih terbatas, terutama di sektor-sektor teknis yang selama ini didominasi laki-laki.

Kondisi ini menunjukkan bahwa green job tidak otomatis menjadi ruang kerja yang adil dan inklusif. Tanpa intervensi kebijakan yang berpihak, pihak rentan termasuk perempuan  berisiko hanya mengisi posisi dengan upah rendah dan perlindungan kerja minim, meskipun bekerja di sektor yang berlabel ramah lingkungan.

Baca juga: Green Jobs: Peluang Kerjanya Anak Muda untuk Indonesia Lebih Bersih

Peluang dan Tantangan Green Job di Indonesia

Berdasarkan proyeksi Kementerian Ketenagakerjaan, green jobs berpotensi tumbuh seiring dengan agenda transisi energi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Sektor energi terbarukan disebut sebagai salah satu sektor kunci yang dapat menyerap tenaga kerja baru, terutama dalam pengembangan pembangkit energi surya, air, dan biomassa. Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya menjanjikan penciptaan lapangan kerja dalam jumlah besar dalam waktu dekat.

Pengembangan energi terbarukan membutuhkan investasi awal yang tinggi, baik untuk pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Ketergantungan pada dukungan anggaran pemerintah dan insentif kebijakan membuat pertumbuhan sektor ini sangat bergantung pada komitmen negara. Ketika alokasi anggaran dan kebijakan pendukung masih terbatas, peluang penciptaan green jobs pun menjadi tidak optimal.

Selain persoalan pendanaan, tantangan lain terletak pada kesiapan tenaga kerja. Kebutuhan akan keterampilan hijau (green skills) belum sepenuhnya diimbangi oleh sistem pendidikan dan pelatihan kerja yang memadai. Akibatnya, meskipun peluang green jobs mulai terbuka, tidak semua dapat diakses secara luas oleh tenaga kerja lokal.

Dengan demikian, meskipun green jobs diproyeksikan sebagai masa depan ketenagakerjaan, realisasinya di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan struktural. Tanpa dukungan kebijakan yang konsisten, investasi yang memadai, serta perlindungan tenaga kerja, green jobs berisiko hanya menjadi wacana hijau yang belum mampu menciptakan lapangan kerja secara signifikan.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Perempuan di tengah pandemi

Perempuan di Tengah Pandemi Covid-19

Apa Benar Kalau Menstruasi Bikin Perempuan Jadi Seperti Laki-laki? 

Kenali Attachment Style, Pahami Pola Cintamu

Kenali Attachment Style, Pahami Pola Cintamu

Leave a Comment