Lingkungan

Bengkulu Darurat Sampah: Jerit Warga, Aksi Sopir, dan Bara Kreativitas Masyarakat

Ais Fahira

News, Lingkungan

Bengkulu sedang menghadapi darurat sampah. Krisis ini memuncak ketika puluhan sopir truk menumpahkan muatan sampah di halaman Kantor Wali Kota sebagai bentuk protes atas buruknya pengelolaan TPA Air Sebakul. Namun, persoalan sesungguhnya jauh lebih dalam daripada tumpukan sampah yang terlihat di permukaan. Di sekitar TPA, warga hidup berdampingan dengan bau menyengat, ancaman pencemaran air, dan berbagai risiko kesehatan yang terus menghantui. Di tengah kondisi itu, muncul pula kisah-kisah perlawanan: perempuan yang menggerakkan bank sampah, inovator yang mengubah plastik menjadi bahan bakar, dan warga yang bertahan di antara kebutuhan ekonomi dan ancaman lingkungan. Liputan ini menelusuri wajah lain krisis sampah Bengkulu—tentang kegagalan tata kelola, ketimpangan beban yang ditanggung warga, dan harapan yang tumbuh dari akar rumput.

Selengkapnya

Di Balik Megaproyek Hijau: Beban Perempuan di Lingkar Panas Bumi itu Nyata

Ais Fahira

Lingkungan

Di balik label energi bersih dan janji transisi hijau, ada kisah yang jarang masuk ke ruang publik. Selama hampir setahun, tim liputan Magdalene menelusuri proyek panas bumi di Bondowoso, Mandailing Natal, dan Ngada. Hasilnya menunjukkan pola yang berulang: krisis air, paparan gas beracun, penurunan hasil pertanian, hingga beban kerja yang semakin berat bagi perempuan. Dengan menggunakan perspektif Gender Impact Assessment (GIA), investigasi ini mengungkap bagaimana megaproyek geothermal tidak hanya mengubah lanskap lingkungan, tetapi juga menggeser kehidupan sehari-hari warga—terutama perempuan—yang harus menanggung dampaknya secara berlapis.

Selengkapnya

Ketika Negara “Membiarkan” Bengkulu Hilang

Lebih dari 700 hektare daratan pesisir Bengkulu hilang dalam 22 tahun terakhir. Ribuan rumah kini berada di ambang abrasi, sementara hutan pelindung pantai terus menyusut dan digantikan perkebunan sawit. Kajian terbaru mengungkap persoalan ini bukan sekadar dampak alam, tetapi juga berkaitan dengan tata kelola wilayah pesisir. DPRD Bengkulu pun berjanji menjadikan penanganan abrasi sebagai prioritas pembahasan.

Selengkapnya

Menjaga Hutan Lewat Investasi Sosial

Selama ini menjaga hutan sering dipandang bertentangan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bengkulu Utara mencoba mengubah paradigma tersebut melalui pengesahan Dokumen Rencana Aksi IAD-ASA dan peluncuran Blended Finance Model (BFM). Pendekatan ini mengintegrasikan perhutanan sosial ke dalam pembangunan daerah sekaligus membuka akses pembiayaan bagi kelompok usaha masyarakat agar pelestarian hutan berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

Selengkapnya

Ketika Laut Diberi Jeda: Cara Nelayan Bengkulu Memulihkan Gurita dan Menghemat Energi Melaut

Betty Herlina

News, Data, Lingkungan

Di tengah cuaca laut yang makin tak menentu dan tangkapan yang terus menurun, nelayan Bengkulu justru memilih berhenti sejenak. Bukan menyerah, tapi memberi laut waktu untuk pulih. Dari strategi sederhana ini, gurita tumbuh lebih besar, biaya melaut berkurang, bahkan emisi karbon ikut ditekan. Namun di balik hasil menjanjikan, ada tantangan: komitmen bersama yang belum sepenuhnya kuat dan aturan yang masih lemah.

Selengkapnya

Perempuan Penjaga Gurita: Dari Nelayan Pesisir hingga Pengendali Rantai Pasok 

Betty Herlina

News, Buruh, Lingkungan

Di pesisir Kabupaten Kaur, Bengkulu, perempuan memegang peran penting dalam rantai ekonomi gurita—mulai dari berburu di perairan dangkal, mengumpulkan hasil tangkapan nelayan, hingga menjual dan mengolahnya menjadi produk bernilai jual. Di tengah perubahan cuaca, berkurangnya hasil tangkapan, dan meningkatnya permintaan pasar, para perempuan ini menjadi penjaga keberlanjutan ekonomi laut sekaligus penopang keluarga mereka.

Selengkapnya

Demokrasi Hijau dan Hak Lingkungan Masyarakat: Sejauh Mana Negara Berpihak?

Ais Fahira

News, Lingkungan

Demokrasi hijau digadang-gadang sebagai paradigma baru: demokrasi yang tak hanya mengurus pemilu, tapi juga keselamatan ruang hidup warga. Sultan Bachtiar Najamudin membawanya ke forum global, lengkap dengan paket RUU hijau dan program Desa Hijau. Tapi pertanyaan besarnya: sejauh mana negara benar-benar berpihak pada hak lingkungan masyarakat? Tanpa target, indikator, dan akuntabilitas, demokrasi hijau berisiko berhenti sebagai jargon ramah lingkungan yang enak didengar—tapi kosong dampak.

Selengkapnya