Buka Akses Informasi Antisipasi Dampak Covid 19 Bagi Perempuan di 10 Desa Penyangga Situs Warisan Dunia

6 Jurnalis Warga Ikuti Workshop Fellowship PPMN- Unesco

MINIMNYA informasi menyebabkan perempuan khususnya yang tinggal di 26 Desa Penyangga Situs Warisan Dunia, Kabupaten Rejang Lebong belum tersentuh literasi yang maksimal, terkait informasi dampak Covid-19. Umumnya informasi yang diterima sebatas pada angka isu kematian. Hasil rapid test reaktif atau unreaktif.

MATERI : Dosen Universitas Bengkulu, Yansen, S.Hut, M.App, Ph. D. Ia menyampaikan materi terkait ekologi, perempuan dan Covid-19. (foto : betty herlina/bincang perempuan)

Pandemi Covid-19 diketahui memberikan dampak yang luas dalam kehidupan. Di bidang pertanian misalnya, masyarakat di perkotaan mulai mengikuti trend urban farming, sebagai akibat berlakunya Work From Home (WFH).

Ini jelas memberikan dampak bagi perempuan di Rejang Lebong yang diketahui mayoritas mengandalkan hidup dari sektor pertanian. Mulai dari anjloknya harga hasil pertanian akibat “gagal”nya pemasaran, sebagai dampak pembatasan sejumlah aktivitas. Hingga hasil pertanian yang terbuang percuma, akibat minimnya pengetahuan bagaimana mengolah hasil pertanian hingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

INOVASI : Dosen Universitas Bengkulu, Tuti Tutuarima, STP, M.Si yang menyampaikan materi tentang media dan inovasi petani saat pandemi.  (foto : betty herlina/bincang perempuan)

Untuk itulah, fellowship Jurnalis Perempuan PPMN- Unesco tahun 2020, Betty Herlina, menggandeng 6 perempuan muda  yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Penyelamat Situs Warisan Dunia (KPPSWD) untuk membuka akses informasi bagi perempuan di 10 Desa Penyangga Situs Warisan Dunia.

“Pandemi Covid-19 berimbas perubahan perilaku manusia, tidak hanya lokal namun global termasuk perubahan kebijakan. Ini harus diketahui perempuan. Kita ingin menginformasikan hal-hal yang harus dilakukan perempuan untuk mengantisipasi dampak Covid-19. Khususnya dibidang pertanian dan lingkungan,”

Betty Herlina

Yakni, Rika Nofrianti, S, Rike Vevri Dwiyani,  Yuni Karlina Kusnandar dan Yunita. Serta Wahyuni Saputri dan Intan Yones Astika. Selama dua hari, Jumat (11/9) dan Sabtu (12/9), partisipan mendapatkan materi dari sejumlah pembicara yang kompeten dibidangnya. Diantaranya dosen Universitas Bengkulu, Yansen, S.Hut, M.App, Ph. D. Ia menyampaikan materi terkait ekologi, perempuan dan Covid-19. Ada juga, Tuti Tutuarima, STP, M.Si yang menyampaikan materi tentang media dan inovasi petani saat pandemi.  Terakhir, partisipan mendapatkan materi dari jurnalis sekaligus penggiat lingkungan, Dedek Hendry, terkait penyusunan outline liputan.

MENYUSUN OUTLINE : Partisipan mendapatkan materi dari jurnalis sekaligus penggiat lingkungan, Dedek Hendry, terkait penyusunan outline liputan. (foto : betty herlina/bincang perempuan)

“Nantinya hasil liputan partisipan akan kita tayangkan dalam bentuk majalah dinding (mading) yang akan kita sebar ke 10 desa,” lanjut Betty.

Ada 10 desa yang menjadi sasaran penyebaran Media Edukasi Covid- 19. Yakni lima desa di Kecamatan Bermani Ulu Rayam meliputi  Desa Pal 7, Desa Pal 8, Desa Tebat Tenong Luar, Desa Bangun Jaya dan Desa Babakan Baru.  Kemudian, 5 desa di Kecamatan Selupu Rejang. Yakni, Desa Air Duku, Desa Sambirejo, Desa Sumber Bening, Desa Karang Jaya dan Desa Mojorejo.

Baca juga : Akses Informasi Untuk Perempuan

Untuk diketahui ada 5 jurnalis perempuan di Indonesia yang mendapatkan program fellowship Jurnalis Perempuan PPMN- Unesco tahun 2020. Yakni Betty Herlina (Rakyat Bengkulu- Bengkulu), Sry Lestari (Kamsoskom.com- Sumatera Utara), Irma Hafni (Aceh), Hiswita Pangau (SuaraTifa Papua- Papua) dan Bekti Suryani (Harian Jogya- Yogyakarta). Kelima jurnalis perempuan ini merupakan alumni dari program Citradaya Nita yang digagas Pusat Pengembangan Media Nusantara (PPMN) sejak tahun 2016. (**)

Leave a Comment