Perempuan dan Anak Kelompok Paling Rentan Terdampak Buruknya Kualitas Udara

Jakarta berkontribusi sekitar 16% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2020). Ini menghasilkan polutan berbahaya yang mencemari udara dan berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat.

Perempuan dan anak menjadi kelompok yang paling terdampak. Seperti yang disampaikan Air Quality Lead WRI Indonesia, Muhammad Shidiq, yang juga memimpin implementasi Clean Air Catalyst di Jakarta, dalam acara bincang-bincang “Sisi Lain Dampak Polusi Pada Perempuan dan Anak,” yang diselenggarakan oleh Clean Air Catalyst, Sabtu (22/04).

“Data-data yang dikumpulkan oleh Clean Air Catalyst mengindikasikan bahwa perempuan termasuk dalam komunitas yang paling terdampak oleh polusi udara, dan pada saat bersamaan, anak-anak juga menerima dampak yang paling buruk dari polusi udara,” katanya.

Sumber mobile polutan datang dari pabrik-pabrik dan kegiatan industri manufaktur di kota satelit industri besar seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sedangkan sumber polutan non-mobile datang dari pembangkit listrik yang mayoritas berbahan bakar batu bara.

Lebih lanjut, Indonesia Country Coordinator for Environmental Health, Vital Strategies dan Co-Lead Clean Air Catalyst for Jakarta Pilot, Ririn Radiawati, mengungkapkan ibu hamil yang terpaparan polusi udara akan mempengaruhi kondisi lahir bayi.

Ini diperkuat dengan hasil penelitian Global Burden of Disease Study 2019 menemukan bahwa paparan polusi udara dalam jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan kondisi lahir bayi yang tidak baik, seperti berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur.

“Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa ada korelasi antara paparan polusi udara jangka panjang dengan kematian bayi dan stunting,” imbuhnya.

Polusi Udara Mengancam Anak

Disisi lain, Project Manager Phinla (Program Pengelolaan Sampah), Wahana Visi Indonesia, Franz Sinaga, mengatakan polusi udara juga mengancam anak baik di luar dan di dalam rumah.

Studi WHO di tahun 2016 menunjukkan bahwa sekitar 93% anak-anak di dunia yang berusia di bawah 55 tahun, atau kurang lebih 1,8 milyar anak, menghirup udara yang sangat tercemar, sehingga membahayakan kesehatan dan perkembangan mereka.

WHO juga memperkirakan pada tahun 2016, sekitar 600.000 anak meninggal karena infeksi saluran pernapasan bawah akut yang disebabkan oleh udara yang tercemar.

“Polusi udara rumah tangga dari memasak dan polusi udara luar menyebabkan lebih dari 50% infeksi saluran pernapasan bawah akut pada anak-anak di bawah usia 5 tahun di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah,” katanya.

Perlunya Regulasi Emisi


Selain itu, juga dengan meningkatkan kesadaran semua pemangku kepentingan tentang bahaya polusi udara terhadap kesehatan anak-anak, dan mengurangi paparan polusi bagi anak-anak, baik indoor maupun outdoor.

“Clean Air Catalyst berusaha memberikan kontribusi terhadap upaya Pemerintah dan masyarakat dalam upaya memecahkan permasalahan kualitas udara, melalui pemetaan masalah polusi udara dengan mempertimbangkan perubahan iklim, gender, dan ekuitas,” ungkap Ririn Radiawati.

Menurutnya, ini dilakukan dengan peletakan alat pemantauan kualitas udara di daerah dengan paparan polusi udara tinggi dan dihuni oleh populasi rentan, meluncurkan beberapa pemantauan mobile bekerja sama dengan Google Cars yang menjangkau komunitas rentan.

“Termasuk melakukan kajian Information Ecosystem Analysis (IEA) untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang polusi udara, dan melakukan seri workshop yang melibatkan akademisi, pemerintah, lembaga masyarakat, dan swasta, untuk memetakan permasalahan polusi udara yang berkaitan dengan perubahan iklim, gender, dan ekuitas,” papar Ririn.

Muhammad Shidiq menambahkan saat ini Clean Air Catalyst berupaya menyasar penyebab-penyebab polusi udara dan meningkatkan kualitas udara secara umum dengan tiga landasan.

“Pertama, udara bersih membantu menjaga kesehatan, melindungi nyawa, mendukung kesehatan anak-anak, dan mencegah penyakit-penyakit kronis. Kedua, udara bersih dapat memitigasi perubahan iklim, membantu menghindari peningkatan suhu bumi sebesar 0.6 derajat Celsius pada 2050 melalui pengurangan polutan. Ketiga, udara bersih mampu mengurangi kesenjangan sosial dengan mengurangi polusi dan meningkatkan kualitas udara bagi masyarakat yang paling rentan,” pungkasnya. (**)

Leave a Comment