Dekonstruksi Patriarki atau Stigma? Posisi Perempuan dalam Gowok

Ais Fahira

News, Feminisme

Dekonstruksi Patriarki atau Stigma Posisi Perempuan dalam Gowok

Bincangperempuan.com- Film Gowok: Kamasutra Jawa karya Hanung Bramantyo dijadwalkan akan tayang di bioskop pada 5 Juni 2025. Film ini mengangkat kisah seorang perempuan yang berprofesi sebagai gowok—sosok yang dalam tradisi Jawa dipercaya mengajarkan seksualitas dan peran rumah tangga kepada laki-laki muda yang hendak menikah. Lewat film ini, Hanung tampaknya ingin menantang pandangan dominan bahwa budaya Jawa dan Islam semata-mata patriarkal.

“Jawa itu sangat patriarkal. Apalagi Islam, sangat patriarkal. Tapi ternyata gowok mengubah banyak hal,” ucap Hanung dalam sesi diskusi film di XXI Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 8 Mei 2025. Ia menyebut peran gowok sebagai bentuk pendidikan laki-laki menjadi “laki-laki sejati” tak hanya dalam hal ranjang, tetapi juga dalam kehidupan rumah tangga. Tapi benarkah tradisi ini mendekonstruksi patriarki? Atau justru melanggengkan stigma terhadap perempuan?

Baca juga: Salah Kaprah tentang Patriarki: Benarkah Peran Domestik adalah Penindasan?

Apa Itu Gowok?

Budaya Jawa, terutama di wilayah Banyumas, tradisi pendidikan seksual informal ini dikenal dengan istilah gowokan. Melansir Historia, tradisi ini berkembang sejak abad ke-15, yang melibatkan perempuan dewasa—disebut gowok, mereka bertugas membimbing laki-laki muda agar siap menjalani kehidupan rumah tangga.

Minimnya informasi soal seks dan anggapan tabu terhadap pendidikan seksual mendorong lahirnya kebutuhan ini. Orang tua khawatir anak laki-lakinya akan gagal menjadi suami “ideal” jika tidak mendapat bimbingan. Maka muncullah peran gowok, sebagai guru praktik yang mengajarkan peran suami secara menyeluruh mulai dari urusan ranjang hingga urusan dapur.

Gowok biasanya berasal dari kalangan perempuan yang telah berpengalaman dalam kehidupan rumah tangga. Mereka dianggap memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjalankan peran ini. R. Prawoto dalam tulisannya “Huwelijksgebruiken en met het Huwelijk Verwants Verhouding in Oude Ost-Banjoemas” (1931) yang dikutip dalam Historia menyebut bahwa gowok dibayar f.0,25 hingga f.0,30 per hari, di luar tambahan berupa beras, kelapa, dan kebutuhan harian lainnya.

Namun, menjadi gowok bukan sekadar hubungan transaksional. Mereka harus menjalankan kontrak sosial yang kompleks, seperti melakukan tugas domestik mulai dari memasak, mencuci, mengurus pemuda yang didampingi, bahkan berperan sebagai istri dan menantu sementara. Jika gagal, gowok bisa diminta mengembalikan peningset (seserahan) yang diterima.

Baca juga: Candaan Seksis Ahmad Dani: Potret Kentalnya Patriarki di Ruang Publik

Posisi Ambigu dalam Masyarakat

Meski diakui sebagai bagian dari tradisi, posisi perempuan gowok berada dalam kerumitan sosial. Di satu sisi, mereka dihormati secara fungsional, seebagai guru, sebagai pendidik laki-laki bangsawan, dan sebagai simbol pengetahuan tentang tubuh dan relasi sosial. Mereka dipercaya mampu mentransfer ilmu yang tak bisa diajarkan oleh ibu atau kerabat perempuan lainnya—terutama karena seks dianggap tabu dibicarakan secara terbuka.

Namun di sisi lain, mereka hidup dalam stigma. Tubuh mereka boleh diakses, tapi harga diri mereka dipertaruhkan. Dalam struktur moral patriarkal, perempuan seperti gowok kerap dianggap “tak layak” dinikahi, dijauhkan dari kehidupan rumah tangga formal, dan eksistensinya disingkirkan dari ruang sosial terbuka. Mereka dilegitimasi secara tertutup, tapi distigmatisasi di ruang publik.

Seperti ditulis Ester Pandiangan dalam Sebab Kita Semua Gila Seks (2021), seks dalam masyarakat kita adalah hal yang didewakan tetapi juga ditabukan dalam waktu yang bersamaan. Begitu juga dengan peran gowok, mereka dihormati secara diam-diam, tapi dikucilkan secara terang-terangan. Kini tradisi gowokan bahkan telah ditinggalkan, karena perubahan nilai dalam masyarakat.

Dekonstruksi atau Alat Patriarki?

Lantas pakah tradisi gowok merupakan bentuk pembebasan perempuan dari sistem patriarki, atau justru manifestasi lain dari relasi kuasa yang timpang? Pada titik tertentu, bisa saja peran ini dibaca sebagai ruang bagi perempuan untuk menegosiasikan posisi sosialnya—terutama ketika akses pendidikan dan pekerjaan terbatas.

Namun, kita juga perlu mencermati bagaimana sistem ini tetap dikendalikan oleh kebutuhan laki-laki dan norma patriarkal. Perempuan gowok tidak pernah sepenuhnya menjadi subjek, mereka tetap diposisikan sebagai alat untuk menyempurnakan laki-laki menjadi suami ideal. Mereka dibayar untuk memenuhi fungsi itu, lalu disingkirkan setelahnya.

Jika kita tarik ke ranah teoritik, ini adalah bentuk dari othering—konsep dalam studi feminisme yang menunjukkan bagaimana suatu kelompok diposisikan sebagai liyan  atau “yang lain” untuk memenuhi kebutuhan mayoritas atau kelompok dominan. Dalam hal ini, perempuan seperti gowok menjadi simbol dari “kebutuhan tersembunyi” masyarakat patriarkal, mereka ditolak eksistensinya, tapi dibutuhkan keberadaannya.

Tradisi ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat patriarkal merancang sistem untuk tetap mempertahankan ketimpangan—dengan menyisipkan elemen yang terlihat progresif, padahal tetap berada dalam bingkai kontrol.

Kebutuhan Edukasi Seksual: Dulu dan Kini

Alih-alih menggantungkan harapan pada romantisasi tradisi seperti gowok, mungkin saat ini kita lebih membutuhkan sistem pendidikan seksual yang komprehensif dan inklusif. Pendidikan seks bukan hal yang memalukan atau tabu, tapi kebutuhan dasar manusia yang bisa mencegah kekerasan seksual, pernikahan dini, hingga hubungan yang timpang.

Tradisi seperti gowok menunjukkan bahwa masyarakat dulu pun menyadari pentingnya pendidikan seksual—hanya saja bentuknya kontekstual dengan nilai zamannya. Gowok memang bisa dibaca sebagai bentuk dekonstruksi terhadap narasi laki-laki sebagai satu-satunya pemilik otoritas seksual. Tapi jika tidak dikritisi, gowok justru bisa menjadi contoh lain dari bagaimana patriarki berhasil membungkus kontrol dengan budaya, membungkam perempuan dengan kontradiksi.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Inovasi Sabun Batang Ramah Lingkungan dengan Eco Enzyme

Krisis Pertemanan Dewasa: Mengapa Mencari Sahabat Tak Lagi Semudah Dulu?

Monitoring Program INKLUSI oleh Bappenas dan DFAT Perkuat Layanan Inklusif di Bengkulu

Bersama Bappenas dan DFAT: Perkuat Layanan Inklusif di Bengkulu

Leave a Comment