Dr. Titiek Kartika Hendrastiti, Membangun Ilmu Pengetahuan dari Sudut Pandang Perempuan

Kembangkan Metodologi Etnografi Feminis Poskolonial

TESISKU di Belanda dulu tahun 1992 soal Kowani (Kongres Wanita Indonesia, 22 Desember 1928,red). Namun, ketertarikan terhadap isu perempuan itu sudah sejak tahun 80-an waktu kuliah S1. Lalu jadi dosen di sini (Universitas Bengkulu, red), makin menjurus mendalami tema dinamika gerakan perempuan yang tercakup di dalam organisasi,” ungkap Dr. Titiek Kartika Hendrastiti memulai perbincangan dengan bincangperempuan.com belum lama ini.

Titiek Kartika Hendrastiti selama ini memang dikenal sebagai peneliti senior dalam bidang gender dan pembangunan. Isu utama yang menjadi perhatian penelitian adalah isu perempuan dan tatakelola lingkungan dan sumber daya. Seperti, gerakan perempuan melawan tambang pasir besi, gerakan perempuan melawan korporasi tambang emas, perempuan dan Daerah Aliran Sungai (DAS), perempuan dan konservasi dalam konteks keterlibatan perempuan di Taman Wisata Alam (TWA) dan Taman Nasional.

Isu perempuan dinilainya menarik. Dia mengakui ketertarikannya terhadap isu perempuan ini sudah mulai terbangun dari keluarga. Dia dibesarkan di lingkungan keluarga Jawa dengan budaya yang sangat kuat dengan kultur patrarki, dimana perempuan sangat mengikuti laki-laki. Beruntungnya, dia dibesarkan di keluarga yang sangat demokratis.

“Paradigma masyarakat Jawa, perempuan menurut sama suami. Saya dibesarkan di keluarga yang sangat demokratis. Ayah saya tidak membeda-bedakan, (dia, red) tidak pernah mengalami diskriminasi di rumah. Saya punya kebebasan berpikir. Termasuk memilih bidang studi juga tidak ada kendala,” kenang wanita kelahiran Madiun, 30 Maret 1960 ini.

BERSAMA : Titiek saat bersama perempuan petani di Kabupaten Kepahiang. (foto : dok/pribadi)

Titiek merupakan sarjana Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (gelar Dra). Kemudian melanjutkan studi di Program Studi Politics of Alternative Development Strategis (PADS), Institute of Social Studies, The Haque, The Netherlands (gelar MA). Mengikuti Program Diploma untuk  Women & Migration, Women University (IFU), hnnover, Germany (tanpa gelar). Lalu meraih gelar Dr pada Program Studi Doktor Imu Sosial, Fakultas Paskasarjana, Universitas Airlangga, Surabaya. Saat ini dia mengajar pada Jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu.

“Prof. Sulistyowati Irianto tumbuh bersama saat S1. Awal tahun 80-an kita pernah bikin paper bareng. Kita menemukan bahwa stereotip tentang kumpul kebo itu pada perempuannya. Perempuan jadi yang salah ya. Pergeseran nila-nilai, kok perempuan yang disalahkan dalam hidup bersama. Mulai dari situ ternyata banyak hal yang menarik perhatian tentang isu-isu perempuan,” katanya.

Demi memperkaya pandangan dan perspektif berpikir mengenai isu perempuan, Titiek juga rajin membaca buku-buku Kartini. “Sebelum ambil S2, framenya (pola pikir, red) sudah study perempuan dan gender,” imbuhnya.

Baca juga : Roisa, Penggerak Perempuan Desa untuk Pemulihan Ekosistem TNKS

Baginya, hal yang menarik untuk didiskusikan adalah tentang perempuan, lingkungan hidup  dan sumber daya alam. Sebagai pakar gerakan perempuan dan lingkungan dia pernah memotret perempuan Sumba tahun 2018 lalu. Hasil penelitiannya pun sudah dibukukan. Lalu pada tahun 2019-2020 ia juga memotret perempuan di DAS Rindu Hati, Talang Empat, serta Tanjung Jaya. “Itu juga mau dituliskan dalam buku,” ujarnya.

Potret-potret para perempuan tersebut menarik perhatiannya. Ia tertarik mengamati aktivisme perempuan lokal dalam “mencari jalan”. Terlebih di era tanpa batas ini, diskursus besar tentang gerakan perempuan menghadapi tantangan kuat, yaitu adanya realita keragaman dari aktivisme perempuan komunitas untuk memperbaiki kondisi atau situasi hidupnya.

Narasi besar gerakan perempuan global telah memberi “tetesan” semangat dan teorisasi tentang hak-hak perempuan di berbagai bidang, revisi substansi dan teknis kebijakan kesetaraan. Kini perempuan lokal di komunitas berhasil melakukan berbagai eksperimen dan inovasi yang sangat kreatif untuk perubahan. Aktivisme mereka bukan hanya membuktikan keniscayaan kemampuan perempuan yang tak berbatas, melainkan mendesak suatu pengakuan bahwa mereka ada, mereka empower dan eksis dalam kehidupan masyarakat.

“Melakukan perjuangan mengadvokasi diri sendiri. Di Seluma di Penago Baru, ada kelompok perempuan yang berjibaku berjuang. Perempuan mengambil alih peran laki-laki. Ini sebuah gerakan sosial. Studi saya selama 3 tahun di Sumba juga memperlihatkan itu. Kalau mau belajar pluralisme belajar di sebelah timur Indonesia. Bagaimana saling menghargai,” ungkap Titiek.

Isu-isu global, regional dan nasional tentang “ketertindasan” dan “keterpurukan” perempuan senyatanya menjadi bagian dari perjuangan gerakan perempuan lokal di berbagai daerah di Indonesia. Inilah yang seharusnya menjadi bagian penting dari paradigma shift tentang demokratisasi di Indonesia. Tanpa pengakuan itu, maka peradaban di era high tech dan disrupsi, hanya akan menyisakan kerugian besar dan korban kejahatan kemanusiaan yang serius.

“Mempelajari perempuan dan lingkungan, membuka aib negara tentang bagaimana negara ini sudah merdeka, tapi belum membuat kesejahteraan yang seimbang. Perempuan-perempuan yang melakukan perlawanan, melindungi kedaulatan pangan. Melindungi peradaban,”

Titiek Kartika Hendrastiti

Selama melakukan penelitian tentang perempuan, Titiek banyak menemukan hal-hal baru. Seperti ketika melakukan penelitian perempuan DAS Rindu Hati, Talang Empat, serta Tanjung Jaya. Konteksnya bukan gerakan perempuan, akan tetapi resiliensi, bagaimana mereka bisa bertahan di DAS yang semakin lama makin rusak. “Menariknya dari 3 desa itu, bukan soal banjirnya. Tapi bagaimana perempuan berdampingan hidup dengan sungai,” katanya.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa masyarakat di Desa Rindu Hati lebih dekat dengan sungai. Masyarakat yang hidupnya sebagai masyarakat DAS. Namun semakin dekat dengan kota, para perempuan sudah tidak punya tautan dengan sungai.

“Rindu Hati sungai itu di depan rumah, dibaik-baiki dan dijaga. Kalau Talang Empat sudah mulai tidak hidup dari sungai. Tapi kalau kekeringan, masih memanfaatkan sungai. Jadi sedikit bagian, buat mencuci kalau kemarau.  Nah, kalau masyarakat Tanjung Agung, budayanya sudah seperti hidup tanpa sungai,” beber Titiek.

BENCENGKRAMA : Titiek bercengkrama dengan para pemetik teh di salah satu perkebunan di Kabupaten Kepahiang. (foto : dok/pribadi)

Masyarakat Tanjung Agung sudah tidak lagi menganggap mereka itu sebagai masyarakat DAS. Mereka tidak merasa sungai itu eksis. Hanya menganggap sungai mendatangkan banjir kalau hujan. Sungai sebagai musuh karena mendatangkan bencana. “Padahal perempuan itu dekat sekali dengan air. Semua masyarakat yang memberdayakan perempuan pada domestic work, perempuan membutuhkan air. Di sini yang seperti itu hanya di Rindu Hati,” terangnya.

Lantas dari sekian banyak penelitian mengenai isu perempuan apa yang ingin dicapai Titiek? Ilmu pengetahuan. Begitu jawabnya. Dia menilai selama ini ilmu pengetahuan yang diproduksi tidak seimbang. Ilmu pengetahuan banyak diproduksi oleh ilmuwan laki-laki yang sedikit banyak mengambil dari sudut pandang laki-laki.

“Nah, dari hasil riset perempuan menjadi pengetahuan baru yang lebih berpihak pada perempuan. Jadi saya ingin ikut membangun ilmu pengetahuan dari sudut pandang yang berbeda. Seperti perempuan dan lingkungan. Bagaimana perempuan menyanggah perekonomian keluarga. Mengungkap knowledge, sistem sosial itu penyangganya itu siapa. Ternyata dua-duanya. Bukan hanya laki-laki saja. Ini membuktikan kalau perempuan tidak melakukan sesuatu, keluarga tidak bertahan,”

Titiek Kartika Hendrastiti

Sejak 13 tahun terakhir Titiek mengembangkan metodologi etnografi feminis poskolonial, dan saat ini sedang mempersiapkan edited book tentang Etnografi Feminis Indonesia bersama Prof. Dr. Sulistyowati Irianto dari FH – UI dan Prof. Siti Kusujiarti, Ph.D dari Program Studi Sosiologi dan Antropologi, Warren Wilson College, Asheville, North Carolina, USA.

“Setiap teori selalu membawa konsekuensi metodologi. Bagaimana perempuan bisa mengeluarkan pendapatnya. Ada metode-metode yang mengikuti teori. Dikembangkan peneliti feminis. Nggak harus selalu perempuan, bisa laki-laki tapi yang sangat menghargai perempuan. Supaya nggak hanya mahir berteori, tapi metodologi. Karena ada pengalaman-pengalaman di lapangan,” tutup Titiek. (betty herlina)

*) Produksi tulisan ini didukung Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) dan Kedutaan Belanda sebagai program Media dan Gender : Perempuan dalam Ruang Publik.

3 thoughts on “Dr. Titiek Kartika Hendrastiti, Membangun Ilmu Pengetahuan dari Sudut Pandang Perempuan”

Leave a Comment