Home » Tokoh » Empat Ilmuwan Perempuan yang Berpengaruh dalam Dunia Sains

Empat Ilmuwan Perempuan yang Berpengaruh dalam Dunia Sains

Yuni Camelia Putri

Tokoh

Bincangperempuan.com- Keterlibatan perempuan sebagai seorang ilmuwan masih jarang diabadikan oleh sejarah. Kebanyakan orang cenderung berpikir jika penemuan-penemuan di dunia merupakan hasil dari kecerdasan seorang laki-laki. Yah, inilah faktanya!

Persepsi bahwa hanya laki-laki akan menjadi peneliti jenius dan perempuan yang dinilai tidak cocok di ranah sains menjadikan usaha mereka dalam dunia sains tidak pernah dihargai. Kuatnya bias gender di masyarakat memperlakukan perempuan sebagai objek untuk melanggengkan diskriminasi dalam sains. Dalam catatan sejarah, pencapaian perempuan dalam sains sangat jarang diakui atau bahkan sengaja dihilangkan untuk mempertahankan kekuatan maskulin didalamnya.

Para ahli menegaskan bahwa literatur dalam sejarah sains kerap dibingkai berdasarkan narasi ‘maskulin’ dan ‘ilmuwan pahlawan besar’. Narasi ini identik dengan seseorang yang jenius atau membuat terobosan sendiri. Kebanyakan catatan sejarah hanya menunjukkan laki-laki sebagai pigak yang terlibat. Tentu saja, fakta ini bukanlah hal yang mengejutkan jika mengingat bahwa sains berkaitan erat dengan seksisme dan rasisme.

Sejak zaman dahulu, perempuan tidak diberikan akses untuk mendapatkan pendidikan yang maju, laboratorium, publikasi sebuah penelitian, dan terlibat dalam kelembagaan akademi. Ironinya, beberapa oknum bahkan secara sengaja melenyapkan kontribusi perempuan dalam sains.

Tak hanya itu, kamu mungkin sudah tidak asing lagi dengan kontribusi perempuan yang dikaitkan dengan bayang-bayang dari laki-laki yang populer di sains. Sebagai contoh, Lise Meitner, seorang fisikawan nuklir perempuan yang harus merelakan hadiah nobel tahun 1944 diberikan kepada kolaborator juniornya, Otto Hahn.

Meskipun demikian, permasalahan ini tidak memutuskan semangat perempuan untuk terlibat dalam sains. Dalam hal ini, terdapat segelintir ilmuwan perempuan yang kontribusi dan pencapaiannya berhasil diabadikan dalam sejarah sains. Kira-kira, siapa aja ilmuwan perempuan yang memiliki berkontribusi besar dalam dunia sains? Yuk, kepoin sampai habis!

Baca juga: Perempuan Padek Minta Bebaskan Bahusni dan Hentikan Kriminalisasi Petani Kumpeh

Marie Curie Sklodowska

Marie Curie Sklodowska merupakan perempuan pertama yang dianugerahi Nobel untuk dua bidang penghargaan yang berbeda. Perempuan kelahiran Warsawa, 7 November 1867 ini merupakan seorang fisikawan Prancis yang terkenal dengan karyanya tentang radioaktif.

Sejak kecil, Marie memiliki daya ingat yang luar biasa dan dibuktikan dengan medali emas yang didapatkannya saat menyelesaikan pendidikan menengahnya di Rusia pada usia 16 tahun. Rasa kepeduliaannya yang tinggi telah mendorong Marie untuk mempelajari banyak hal baru agar dapat memberikan pendidikan bagi perempuan disana. Dimasa kuliahnya, Marie melakukan banyak penelitian untuk menemukan berbagai subyek baru dalam dunia sains. Salah satu penemuannya yang terkenal adalah hasil tesisnya ia mengkaji tentang sifat yang dapat ditemukan dalam uranium yang dapat ditemukan dalam materi lain yaitu thorium.

Pasca menyelesaikan tesisnya, Marie menyadari bahwa ini lebih tertarik dengan mineral bijih-bijih uranium. Untuk itu, Marie dan Pierre Curie melakukan penelitian bersama yang mengarah pada penemuan unsur baru yaitu radium dan polonium. Dalam hal ini, penemuan Marie telah berkontribusi besar dalam kimiawi dan fisika terutama di bidang radioaktif.

Atas pencapainnya, Marie dianugerahi hadiah nobel fisika tahun 1903 bersama Pierre Curie dan Henri Becquerel. Selanjutnya, ia menjadi satu-satunya ilmuwan yang dianugerahi Nobel Kimia pada tahun 1911.

Mary Anning

Mary Anning lahir di Lyme Regis, 21 Mei 1799 yang ahli di bidang pemburuan fosil. Sejak muda, Mary sudah melakukan pemburuan fosil untuk menambah pendapatan keluarganya. Mary dikenal sebagai pemburu fosil dan ahli anatomi Inggris yang berjasa atas penemuan beberapa fosil dinosaurus yang membantu perkembangan pawal dalam penelitian tentang dinosaurus.

Pada usia 12 tahun, Mary menemukan fosil di tebing yang ada di Dorset dan bepengaruh besar pada dunia sains. Penemuan kali ini berupa fosil ichtyosayurus dan dua tulang plesiosaurus. Penemuan ini telah membantu karier banyak ilmuwan inggris dengan menyediakan specimen untuk dipelajari dan menyusun bagian penting dalam sejarah geologi bumi. Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa penemuan Mary Anning menjadi dasar dari teori evolusi Charles Darwin.

Rosalind Elsie Franklin

Rosalind Elsie Franklin merupakan biofisika perempuan yang lahir di London, 25 Juli 1920. Selama karirnya, Rosalind berkontribusi dalam menemukan DNA yang menjadi suatu penyusun kromosom yang berfungsi untuk menkodekan informasi genetik. Saat menemukan DNA, Rosalind menyimpulkan bahwa DNA bersifat padat dan berada dalam konformasi heliks. Tak hanya DNA, Rosalind turut memberikan wawasan baru mengenai struktur virus dan membantu meletakkan dasar bagi bidang virologi struktural.

Pasca perang dunia II, Rosalind memulai karirnya dengan bekerja di Laboratorium Kimia milik negara di Paris pada tahun 1947 sampai 1950. Di Laboratorium ini, ia memperlajari teknologi difraksi sinar-X. Pekerjaannya ini mendorong Rosalind untuk melakukan penelitian tentang perubahan struktural yang disebabkan oleh pembentukan grafit dalam karbon yang dipanaskan. Hasil penelitiannya memiliki pengaruh besar dalam industri kokas hingga saat ini.

Selanjutnya, Rosalind memilih untuk bergabung dengan peneliti di Laboratorium Biofisika di King’s College pada tahun 1951. Selama bekerja, ia menerapkan metodd difraksi sinar-X untuk menemukan kepadatan dalam struktur DNA yang ada dalam konformasi heliks. Karya Rosalind digunakan sebagai dasar untuk memperjelas pola sinar-X molekul DNA untuk penelitian di masa depan. Salah satunya adalah penelitian dari James Watson dan Francis Crick di tahun 1953 yang menemukan DNA memiliki struktur polimer heliks ganda dan sebuah spiral yang terdiri dari dua untai DNA yang dililitkan satu sama lain.

Baca juga: Fatmayana, Perempuan Pelopor Pendidikan di Bengkulu Utara

Dorothy Crowfoot Hodgkin

Dorothy Hodgkin merupakan kimiawan perempuan yang dianugerahi penghargaan Nobel di bidang kimia pada tahun 1964. Perempuan kelahiran Kairo, 12 Mei 1910 ini berhasil memecahkan struktur atom yaitu penislin dan insulin dengan menggunakan kristalografi.

Di bidang pendidikan, Dorothy mendapatkan gelar sarjana kimia di Universitas Oxford pada tahun 1928. Kemudian, ia memilih pindah ke Universitas Cambridge pada tahun 1932 untuk melakukan penelitian doktoral bersama fisikawan Inggris, John Desmond Bernal. Di laboratorium Universitas Cambridge, Dorotyhy memperluas penelitiannya mengenai molekul biologis seperti sterol dan studi difraksi sinar-X pada pepsin berbentuk protein kristal.

Pada tahun 1945, ia berhasil menggambarkan susunan atom dalam tiga dimensi dengan penisilin sebagai molekul terbesar yang menyerah pada metode sinar-X. Di pertengahan tahun 1950an, Dorothy menemukan struktur vitamin B12 setelah melakukan perhitungan yang rumit. Keinginannya untuk menemukan struktur insulin membuatnya terus melakukan penelitian dengan berbagai teknik. Hasilnya, ia berhasil mengabadikan foto kristal insulin dengan sinar-X.

Sumber:

  • Britannica Team, 2024. “Rosalind Franklin”, dalam Britannica
  • Britannica Team, 2024. “Marie Curie”, dalam Britannica
  • Claire Jones, 2018. “Women have been written out of science history – time to put them back”, dalam The Conversation
  • Georgina Ferry, 2024. “Dorothy Hodgkin”, dalam Britannica
  • John. P. Rafferty, 2024. “Maria Anning”, dalam Britannica

gerakan perempuan, ilmuwan perempuan di dunia

Artikel Lainnya

Enjellia: Keterbatasan Bukan Hambatan untuk Berjuang

Rita Wati

Rita Wati, Inspirasi Perempuan yang Memperjuangkan Hak Atas Hutan

Menjadi Ketua KUPS Perempuan, Melawan Dominasi Laki-Laki

Leave a Comment