Misha Atika, Pelestari Padi Kuning dan Tradisi Perempuan Memanen Secara Bergotong-royong

TUMPUKAN 10 karung plastik berwarna putih terlihat dengan jelas dari pintu masuk di samping kanan rumah Misha Atika di Desa Tebat Tenong Luar, Kabupaten Rejang Lebong. Disusun rapi di ruang tengah di antara dapur dan ruang tamu, karung-karung berukuran 50 kg itu berisikan padi kuning (padi lokal) yang dipanen dari sawah tadah hujan miliknya.

Sembilan dari 10 karung tersebut berisikan padi yang siap diolah menjadi beras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya dan dijual, sedangkan satu karung lagi berisikan benih. “Setiap kali panen, saya selalu membuat benih padi kuning agar bisa terus bersawah dengan padi kuning,” ujar Misha, yang juga anggota Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Karya Mandiri.

Dia memilih untuk terus bersawah dengan padi kuning karena memiliki berbagai kelebihan. Berdasarkan pengalaman Misha, padi kuning memberikan hasil panen lebih banyak, kualitas beras lebih bagus dan membantu mengurangi risiko gagal panen akibat serangan hama. “Kalau bertanam padi kuning hampir dapat dikatakan pasti akan berhasil, dan keluarga saya tidak pernah kekurangan atau membeli beras,” kata Misha.

Bersawah dengan padi kuning, sambung Misha, juga membantu mengurangi pengeluaran untuk perawatan, mengurangi risiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan zat kimia dan tidak merusak alam. Itu dikarenakan perawatan padi kuning tidak memerlukan pupuk kimia dan pestisida.

“Saya pernah diberi bantuan benih pabrikan oleh pemerintah. Namun, tidak saya gunakan, saya berikan kepada orang lain yang mau menggunakannya. Saya tetap memilih untuk terus bersawah dengan padi kuning,” kata Misha yang telah bersawah dengan padi kuning selama 18 tahun.

Tidak hanya untuk kebutuhan benih di sawahnya, Misha juga membuat benih padi kuning untuk mengajak petani lain agar tetap bertanam dan ikut melestarikan padi kuning. Petani yang ingin menggunakan benih padi kuning yang dihasilkan oleh Misha bisa memperolehnya dengan membawa beras sebagai penukar.

Untuk setiap 1 kaleng benih padi kuning ditukar dengan 5 cupak beras (1 cupak beras sekitar 1,6 kg beras). “Tradisi di sini benih padi tidak boleh dijual. Pantangan. Menurut para tetua, padi adalah dewi yang memberi kehidupan dan keberkahan untuk masyarakat,” kata Misha.

Misha saat mempersiapkan benih padi kuning yang akan digunakan untuk bertanam kembali. (foto : intanyonesastika/jendelaperempuandesa)

Menurut Misha, membuat benih padi kuning tidaklah sulit. Hanya saja, panen buah padi untuk benih lebih lambat dibandingkan panen padi untuk beras. Padi untuk benih baru akan dipanen bila semua buah padi di tangkai sudah menguning dan warna kuningnya sudah memunculkan daya tarik tersendiri.

Untuk memanen, Misha menggunakan ani-ani, yakni alat pemotong batang padi yang terbuat dari papan tipis berbentuk segiempat berukuran 5 x 4 cm, bambu bulat kecil dengan panjang 5 cm dan mata pisau yang tipis. “Ngani-ani, kami di sini menyebut tradisi memanen dengan ani-ani,” kata Misha.

Batang-batang padi yang telah dipotong, kemudian dikumpulkan dan diikat untuk selanjutnya digiles atau diinjak dengan kaki tanpa alas untuk merontokan buah padi dari tangkainya. Setelah dibersihkan, buah padi dijemur di bawah sinar matahari selama empat jam. Waktu yang tepat untuk menjemur dimulai pukul 09.00 hingga pukul 13.00.

Setelah dijemur, buah padi dimasukan ke dalam karung, dibiarkan terlebih dahulu sekitar 60 menit, baru kemudian karungnya diikat dan disimpan di tempat penyimpanan. “Disimpan sampai masuk turun tanam pada bulan November. Dalam setahun, hanya satu kali turun tanam,” kata Misha.

Baca juga : Supartina Paksi, Penggerak Perempuan untuk Desa Kopi Tangguh Iklim

Bukan hanya memanen padi untuk benih, Misha juga memilih tidak menggunakan mesin saat memanen padi yang akan diolah menjadi beras untuk melestarikan tradisi memanen secara bersama-sama atau bergotong royong oleh perempuan. Menurut Misha, keterlibatan perempuan dalam memanen padi merupakan bagian dari upaya perempuan untuk mencukupi ketersediaan pangan keluarga.

Oleh karena itu, Misha tidak pernah membatasi jumlah perempuan yang ingin terlibat memanen di sawahnya. “Siapa saja yang ingin ikut gotong-royong memanen, tidak pernah saya larang. Setiap musim panen berkisar 15 – 20 orang yang bergotong royong,” kata Misha.

Keterlibatan perempuan dalam memanen akan mendapatkan bagian sebesar 1/5 dari hasil yang diperoleh. Dalam satu hari, seorang perempuan biasanya berhasil menanen padi sebanyak lima kaleng. Dengan hasil tersebut, pemanen akan mendapatkan bagian sebanyak satu kaleng padi.

Namun, Misha tidak hanya memberikan bagian sebesar 1/5 dari hasil panen. Misha juga memberikan tambahan sebanyak dua cupak padi kepada setiap pemanen.  “Menurut para tetua, musim panen merupakan salah satu kesempatan untuk berbagi rezeki (pangan),” kata Misha.

Misha saat mempersiapkan benih padi kuning yang akan digunakan untuk bertanam kembali. Insert : alat sederhana yang digunakan Misha untuk memilah benih padi kuning. (foto : intanyonesastika/jendelaperempuandesa)

Selain untuk melestarikan ruang berbagi pangan, Misha sengaja melestarikan tradisi memanen secara bergotong royong juga untuk mempertahankan ruang perempuan untuk menjalin silaturhami, berbagi pengetahuan dan pengalaman (cerita) dalam bertani atau lainnya, dan berbagi informasi penting bagi perempuan.

Seperti informasi mengenai hajatan yang akan diadakan di desa. “Saling mengingatkan untuk membantu warga yang mempunyai hajatan. Kalau ada hajatan, sesuai dengan tradisi di sini, kami (perempuan) akan bergotong-royong memasak kue dan lauk di rumah orang yang punya hajatan,” kata Misha.

Upaya Misha menjaga tradisi memanen secara bergotong-royong oleh perempuan bukan tidak menghadapi tantangan. Tidak Jarang, Misha ditawari untuk menggunakan mesin pemotong padi agar mempercepat pemanenan dan menghemat pengeluaran karena tidak perlu menyediakan lebih banyak konsumsi untuk pemanen. “Selalu saya tolak. Saya memilih untuk tetap melestarikan tradisi memanen secara bergotong-royong,” kata Misha.

Bila selama ini upaya Misha melestarikan benih padi kuning dan tradisi menanen secara bergotong-royong oleh perempuan tersebut cenderung bersifat personal, ke depan Misha ingin mengajak anggota KPPL Karya Mandiri untuk melakukan secara bersama sebagai bagian dari upaya membangun kedaulatan pangan. “Termasuk untuk melestarikan tradisi menyimpan padi di tengkiang (lumbung padi),” kata Misha. (Intan Yones Astika)

*) Tulisan ini hasil kolaborasi bincangperempuan.com dan  jendelaperempuandesa.wordpress.com, yang didukung Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) dan Kedutaan Belanda sebagai program Media dan Gender : Perempuan dalam Ruang Publik.

1 thought on “Misha Atika, Pelestari Padi Kuning dan Tradisi Perempuan Memanen Secara Bergotong-royong”

Leave a Comment