Hilang Rasa Begitu Disukai Balik? Bisa Jadi Itu Bukan Cinta, Tapi Limerence

Ais Fahira

News, Hubungan

Hilang Rasa Begitu Disukai Balik Bisa Jadi Itu Bukan Cinta, Tapi Limerence

Bincangperempuan.com- BPer’s, pernah nggak sih ketemu orang yang gampang banget jatuh hati, tapi begitu perasaannya dibalas, dia malah tiba-tiba hilang rasa? Dari yang awalnya ngejar mati-matian, chat duluan, bikin kode ke sana-sini, eh pas target bilang “aku juga suka,” malah langsung dingin. Padahal kalau pakai logika kebanyakan orang, itu harusnya jadi momen paling ditunggu.

Fenomena aneh ini punya nama: limerence. Kondisi di mana intensitas rasa suka cuma hidup pas proses ngejar, bukan ketika hubungan itu beneran timbal balik. Begitu si doi ngasih sinyal positif, gairah yang tadinya meledak malah padam.

Jadi, Limerence Itu Apa?

Istilah ini pertama kali dipopulerkan sama psikolog Dorothy Tennov di tahun 1970-an. Limerence menggambarkan kondisi jatuh cinta yang obsesif banget. Orang yang ngalamin limerence biasanya kepikiran terus sama orang yang disukainya, penuh fantasi, dan bergantung pada respons yang dia terima. Intinya, yang bikin rasa itu hidup adalah ketidakpastian: apakah dia juga suka balik? Apakah chat bakal dibalas? Apakah gue cukup menarik?

Bedanya sama cinta, kalau cinta biasanya tumbuh dari rasa peduli dan keinginan buat bareng-bareng, limerence justru lebih mirip dorongan internal buat dapet kepastian. Fantasi dan rasa “nggak pasti” jadi bensin utamanya. Tennov bahkan bilang limerence punya tiga fase: infatuation (ketertarikan awal), crystallization (obsesi makin intens), dan deterioration (rasa perlahan memudar begitu realita atau balasan muncul).

Baca juga: Kenapa Ada Batas Usia Legal? Memahami Batasan dalam Hubungan

Kenapa Bisa Hilang Rasa Pas Dibalas?

Hilangnya ketertarikan pas perasaan dibalas ternyata nggak muncul dari ruang hampa. Jenny Lutman, konselor dari Overcome Counseling, bilang ada beberapa faktor psikologis yang main di baliknya.

Pertama, soal gaya keterikatan (attachment styles). Orang dengan secure attachment biasanya nyaman sama keintiman dan balasan kasih sayang. Tapi mereka dengan anxious-preoccupied cenderung ngeraguin ketulusan balasan itu, jadi rasa sukanya perlahan memudar. Yang dismissive-avoidant biasanya malah mundur kalau hubungan terasa terlalu intens. Sementara yang fearful-avoidant terjebak konflik batin: pengen deket tapi takut sakit hati, sehingga respon positif bikin mereka kabur.

Kedua, ada scarcity principle alias prinsip kelangkaan. Secara psikologis, kita sering menganggap sesuatu yang susah didapat itu lebih bernilai. Dalam hubungan, aura “susah digapai” bikin seseorang keliatan lebih menarik. Tapi begitu rasa itu dibalas, aura langkanya hilang, ketertarikan pun ikut pudar.

Ketiga, bisa juga dipicu oleh trauma dari hubungan lama. Kalau pernah sering diabaikan atau dikhianati, luka itu bisa bikin orang susah membuka diri. Jadi ketika ada yang beneran tulus, rasa takut luka lama kebuka lagi bikin dia mundur.

Keempat, terkait harga diri dan rasa pantas dicintai. Orang dengan self-esteem rendah sering ngerasa nggak layak dicintai. Pas ada yang nunjukin rasa suka, bukannya bahagia, malah susah percaya dan akhirnya menarik diri sebagai mekanisme proteksi.

Kelima, ada faktor overthinking dan kecemasan. Kebiasaan mikir terlalu jauh bikin orang sibuk bikin skenario negatif: “Dia beneran suka nggak sih? Jangan-jangan dia cuma kasihan.” Padahal semua itu bisa aja nggak nyata. Pikiran yang penuh kecemasan malah bikin momen indah jadi nggak bisa dinikmati.

Jadi jelas, hilangnya rasa pas dibalas itu biasanya hasil dari kombinasi banyak faktor: mulai dari gaya keterikatan masa kecil, prinsip kelangkaan, trauma masa lalu, harga diri rendah, sampai overthinking.

Baca juga: Menunggu atau Mengejar? Mitos Perempuan dalam Hubungan

Sehat Nggak Kalau Pola Ini Terus Berulang?

Kalau cuma sekali dua kali, mungkin ini sekadar fase atau tanda ketidakcocokan. Tapi kalau polanya selalu gitu—suka cuma pas ngejar, lalu padam begitu dibalas—itu bisa jadi sinyal ada masalah lebih dalam, terutama di gaya keterikatan.

Fenomena ini juga makin diperkuat budaya hookup dan situationship zaman sekarang. Relasi singkat, intens tapi tanpa komitmen, kayak jadi tren. Tarik-ulur memberi sensasi dopamine, tapi tanpa tanggung jawab emosional. Hubungan jadi kayak game, bukan proses membangun koneksi yang beneran sehat. Padahal kalau pengen hubungan stabil, perlu proses panjang, kesabaran, dan keterbukaan emosional. Nggak cukup cuma seru-seruan dalam “the chase.”

Apa yang Bisa Kita Belajar dari Limerence?

Limerence nunjukin bahwa cara kita jatuh cinta banyak dipengaruhi sistem sosial dan teknologi. Di era serba instan, wajar kalau rasa suka juga cepat muncul, cepat hilang. Tapi dengan sadar pola ini, kita bisa mulai melawan. Kita bisa pilih hubungan yang bukan cuma ngasih euforia dopamine sesaat, tapi juga rasa aman, saling dukung, dan ruang untuk tumbuh.

Akhirnya, limerence mengingatkan kita kalau nggak semua rasa suka akan bertahan setelah ketidakpastian hilang. Kadang orang jatuh cinta bukan sama sosoknya, tapi sama proses ngejarnya. Jawaban gimana menyikapinya bisa beda-beda tiap orang. Tapi kalau kita terus terjebak dalam siklus limerence, hubungan kita cuma akan muter-muter di drama tarik-ulur tanpa pernah sampai ke kedalaman yang sebenarnya.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Diligent

Diligent: Generasi Alpha Bengkulu Siap Beraksi

Body Dissatisfaction, Ketika Tubuh Tak Sesuai Standar Layar Kaca

Body Dissatisfaction, Ketika Tubuh Tak Sesuai Standar Layar Kaca

Seruan Layanan Kespro dan Hak Aborsi Aman

Seruan Layanan Kespro dan Hak Aborsi Aman

Leave a Comment