Semangat Perempuan Disabilitas, Potret Tangguh di Masa Pandemi Covid-19

TAK hanya saat pandemi, menjalani kehidupan sehari-haripun sudah harus tangguh”.  Seperti itulah kira-kira kalimat yang ingin disampaikan Dian, dengan menggunakan bahasa isyarat yang diketahuinya. Anggukan kepala, gerak bibir, mimik wajah dan gerak tangan. Tak lupa sesekali Dian juga menuliskan jawabannya di atas kertas putih. Tulisannya terlihat rapi. Meski tak bisa bicara dengan jelas, lebih terdengar seperti mengumam, namun jari jemari Dian mahir menulis.

SEMANGAT : Dian, menunjukan produk rempeyek dan kripik ubi yang diproduksinya selama pandemi Covid-19. (foto : betty herlina)

Ya, Dian adalah salah satu dari sekian perempuan penyandang disabilitas yang ada di Kota Bengkulu. Ibu satu anak ini, mengakui, sulitnya masa pandemi Covid-19, bukanlah hal baru baginya dan suaminya, yang juga penyandang disabilitas. Kekurangan fisik yang bertahun-tahun ia alami menjadi kekuatan baginya untuk bertahan. Terlebih saat ini Dian tengah menyekolah putra satu-satunya di bangku sekolah dasar.  Bersyukur, putranya lahir tanpa kekurangan.

“Biasa saja. Hidup harus kuat. Kemana-mana pakai masker jangan lupa. Cuci tangan,” ungkap Dian sembari menggerakan tangan untuk mempraktikkan cara memakai masker dan mencuci tangan.

Himbauan kebijakan pemerintah dan pemberlakuan social distancing, tidak menjadi penghalang bagi Dian untuk membuat dapurnya tetap ngepul. Sama seperti usaha mikro lainnya, mebel “Mimin” milik suaminya harus tutup produksi. Tak ada yang mengorder furniture seperti biasanya. Alih-alih suaminya mulai memproduksi alat kebutuhan rumah tangga berbahan kayu, parutan kelapa misalnya. Ini yang bisa dijual ke pasar. Itupun tak tentu laku dalam satu hari.  

Cukup untuk memenuhi kebutuhan di rumah? Tentu saja tidak. Dian memutar otak. Bagaimana caranya harus dapat membantu suaminya dan menghidupi anaknya. Ia memanfaatkan keahliannya membuat rempeyek berbahan dasar tepung dan kacang tanah. Ia memutuskan mulai memproduksi peyek dengan menggunakan brand “Peyek Kacang Ibu Dian”.

“Dijual Rp 10 ribuan,” tulis Dian lagi.  

Tak cukup sampai disitu. Karena diakui memiliki rasa yang gurih, Dian juga mulai memproduksi kripik pedas berbahan baku singkong. Ia menghabiskan pagi harinya untuk mengantarkan pesanan dari rumah ke rumah.  Tak lupa menggunakan masker rapi, dan tangan yang selalu dicuci setiap kali menyambangi rumah konsumen.  Dian juga menjajakan jualannya menggunakan media sosial.  Sore hari, ia gunakan waktunya untuk memasak.  Tidak sendiri, Dian juga dibantu saudaranya. Mulai dari produksi, hingga pengemasan dilakukannya mandiri.

“Ada Facebook dan WhatsApp,” angguk Dian seraya menunjukan postingan-postingan jualan di akun Facebook miliknya sambil tersenyum.

Soal pandemi Covid-19,  Dian mengaku banyak melihat informasi dari televisi.  Termasuk sesekali membaca berita yang ada di media online.  Selain itu, Dian mengaku ada banyak informasi yang kerap dibagikan dari grup WhatsApp khusus penyandang disabilitas di Bengkulu.

“Banyak dari teman-teman”, gumamnya.

Dian mengaku bersyukur, karena ia tergabung bersama Kelompok Perempuan Penyandang Disabilitas, sehingga ia tidak merasa sendiri. Ada yang saling menguatkan dan berbagi.  

“Kami diajari banyak hal, termasuk kerajinan tangan,” tutupnya seraya menunjukan foto-foto kegiatan belajar.

Serupa dituturkan Desi Feriyanti. Sambil didampingi putra sulungnya, Ramadhan, Ibu dua anak ini, tak surut untuk mengais rupiah meskipun pandemi.  Seminggu sekali, Desi bersama teman-temannya berkumpul.  Membuat tas rajut.  Aneka bentuk tas rajut dibuat, mulai dari sarung handphone, pouch hingga bentuk tote bag. Bentuk rajutannya pun berbeda-beda.  Semuanya dibuat dari bahan dasar tali kur. Untuk pemasangan resleting, Desi mahir menjahit tangan.

“Yang kecil Rp 50 ribu, yang besar Rp 150 ribu,  buatnya perlu 14 hari,” terangnya.

TAS RAJUT : Desi, perempuan panyandang disabilitas bersama tas rajut berbahan tali buatannya. (foto : betty herlina)

Desi beruntung, tetangganya yang memiliki toko persis di depan rumah Desi, bersedia mendisplay tas rajut buatan Desi. Sehingga ia tak perlu bersusah payah mencari tempat untuk menitipkan barang.

“Kalau habis, buat lagi. Tarok lagi, dan buat lagi,” ungkapnya dengan semangat. Terlihat dari raut wajahnya yang gembira.

Pembatasan aktivitas di luar selama pandemi, bagi Desi bukan lah hal baru. Sebagai kelompok marginal, ia sudah merasakan “pembatasan” sejak lama. Beruntung saat ini ia bergabung dalam organisasi Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) cabang Bengkulu.

“Semua informasi ada di grup. Termasuk soal pandemi,” terangnya sembari menunjukan handphone miliknya.

Bantuan khusus selama pandemi ? Desi hanya menggeleng. “Bantuan seperti umumnya beras ada,” ungkap anaknya.

Belum Ada Bantuan untuk Perempuan Penyandang Disabilitas Kelompok Rentan 

Ketua Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang Disabilitas (PIK-PPD), Irna Riza Yuliastuti mengatakan secara umum perempuan penyandang disabilitas, menjadi kelompok yang paling terdampak, baik secara ekonomi dan sosial. Bahkan rentan akan kekerasan. Selama pendemi Covid-19, perempuan penyandang disabilitas  yang menggantungkan perekonomian dari sektor informal dipastikan tidak dapat bergerak.

“Semisal perempuan penyandang disabilitas  netra, banyak yang menjadi penjual jasa tukang urut, karena pandemi ini banyak yang kemudian tidak bisa menjual jasanya, tuna rungu yang berjualan di sektor kuliner juga sangat terdampak. Belum lagi dimasa sekolah daring untuk anak-anak mereka, mereka tidak bisa kemudian maksimal mendampingi anak-anaknya sekolah,” kata Irna Riza.

Meskipun jelas sebagai kelompok rentan terdampak, namun hingga saat ini dikatakan Irna Riza, perempuan penyandang disabilitas tidak pernah mendapatkan sosialiasi khusus untuk pencegahan penyebaran pandemi Covid-19.

“Sejauh ini belum, sosialisasi mensasar secara umum, padahal kebutuhan penyandang disabilitas itu beragam. Media informasi terkait Covid belum aksesable, semisal iklan layanan masyarakat elektronik tidak difasilitasi atau untuk penyandang disabilitas netra,  layanan informasi bergerak secara visual atau tulisan tentu tidak terakses untuk mereka,” imbuhnya.

Termasuk dalam hal bantuan ekonomi selama pandemi, dikatakan Irna Riza hampir tidak ada.

“Kalau yang sifatnya bantuan  khusus tidak ada.  Kalaupun ada bantuan tersebut sifatnya umum,” lanjutnya.

Pandemi Covid-19, lanjut Irna menjadi tantangan yang besar bagi perempuan penyandang disabilitas. Dimana, disaat orang-orang mulai menggantungkan pada kemajuan teknologi dan digitalisasi, perempuan penyandang disabilitas belum mendapatkan kesempatan untuk mengakses teknologi yang ramah disabilitas.

“Belum ada pihak membantu mereka meningkatkan kemampuan itu. Termasuk di Mitra Masyarakat Inklusi (MMI) sendiri kita terkendala. Semisal ada pertemuan via zoom yang bagus di ikuti oleh perempuan penyandang disabilitas  tapi mereka karena tidak mengerti zoom maka terlewatkan. Jika diajarkanpun itu butuh waktu yang lumayan lama dan berulang ulang. Belum lagi tantangan terbesarnya adalah di era new normal ini, untuk teman tuli, yang biasanya berkomunikasi dengan isyarat bibir jadi terkendala karena memakai masker,” paparnya.

Irna sangat mengharapkan ada komitmen khsusus dari pemerintah, sehingga dapat menjamin terpenuhinya hak-hak perempuan penyandang disabilitas di Bengkulu.

Sementara itu Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bengkulu, Hj. Foritha Ramadhani Wati, SE, M.Si  menuturkan, persoalan bantuan khusus untuk disabilitas sebenarnya ada di dinas terkait. Pihaknya sifatnya hanya memfasilitasi, jika ada laporan  maka akan diinformasikan ke dinas tersebut.

“Untuk memberikan bantuan langsung terkendala karena tupoksinya bukan disini, tapi ada dinas terkait. Meskipun begitu, kami tetap mengupayakan bantuan fasilitas informasi bagi disabilitas. Selama ini kalau ada kegiatan pasti kami libatkan. Khususnya melalui HWDI,” katanya.

Foritha tidak menapik, hingga saat ini Provinsi Bengkulu juga belum memiliki perda khusus terkait disabilitas dan perempuan disabilitas. (betty herlina)

Leave a Comment