Bincangperempuan.com– Setelah hubungan usai alias putus atau cerai, status pun berubah. Dari kekasih menjadi mantan, dari suami menjadi mantan suami, hubungan usai seolah tak ada komunikasi tapi diam-diam masih mengulik akun media sosial, dan orang pun akan bertanya-tanya: siapa yang duluan upload story sama orang baru?
Mungkin, di banyak cerita, laki-laki hampir selalu menang di babak ini. Belum juga seminggu, dia sudah terlihat baik-baik saja. Bahkan terlalu baik. Sementara di sisi lain, perempuan masih sibuk merapikan sisa-sisa perasaan yang belum selesai.
Kelihatannya laki-laki memang lebih gampang move on. Tapi benarkah segampang itu? Atau jangan-jangan yang kita lihat cuma versi permukaan padahal sebenarnya di dalamnya jauh lebih berantakan?
Benarkah laki-laki lebih cepat dapat pasangan setelah putus?
Jika melihat dari beberapa penelitian dan artikel, memang banyak pola yang menunjukkan kalau laki-laki cenderung lebih cepat masuk ke hubungan baru setelah putus.
Salah satu penjelasannya datang dari studi tentang re-partnering (mencari pasangan baru setelah hubungan berakhir). Mengutip data dari Understanding Society, laki-laki secara konsisten lebih mungkin masuk ke hubungan baru dibanding perempuan setelah putus. Kesenjangan ini bahkan muncul di banyak penelitian lain, jadi bukan kebetulan satu-dua kasus saja.
Kenapa bisa begitu? Sebagian jawabannya memang struktural. Perempuan terutama dalam pernikahan lebih sering memiliki tanggung jawab pengasuhan setelah putus, yang secara praktis membuat mereka lebih sulit untuk kembali ke dunia dating. Tapi faktor ini tidak menjelaskan semuanya, karena bahkan di luar konteks itu, pola yang sama tetap muncul. Artinya, ada cara yang berbeda dalam merespons putusnya hubungan.
Baca juga: Siapa Sangka? Laki-laki Justru Lebih Ingin Punya Anak daripada Perempuan
Rebound: Cepat Punya Pacar atau Sekadar Pelarian?
Sering kali kita mengira punya pasangan baru sama artinya dengan tanda sudah move on. Padahal tidak sesederhana itu, penelitian oleh Christine Shimek & Ronald Bello (2014), menemukan bahwa setelah hubungan serius berakhir, banyak orang—terutama laki-laki—cenderung masuk ke rebound relationship.
Relasi ini bukan berarti tentang cinta yang baru, tapi justru malah soal cara mengalihkan rasa sakit, mengurangi kesepian dan mempertahankan rasa dibutuhkan.
Penelitian tersebut menemukan bahwa laki-laki lebih mungkin masuk ke hubungan rebound karena dukungan sosial yang lebih rendah, keterikatan emosional yang belum selesai dengan mantan, kecenderungan melihat hubungan sebagai “permainan” (ludus love style).
Jadi, ketika laki-laki lebih cepat memulai hubungan baru, belum tentu dia sudah move on. Bisa jadi ini jadi semacam pelarian. Sebab lingkungan sosialnya tak bisa memberi dukungan emosional yang biasa ia dapat dari pasangan.
Laki-Laki Juga Terpukul, Tapi Caranya Beda
Selain itu ada asumsi lama yang mengatakan kalau laki-laki tidak terlalu terdampak secara emosional setelah putus. Tapi penelitian justru menunjukkan hal sebaliknya. Studi oleh John L. Oliffe dkk. (2022) menemukan bahwa laki-laki juga mengalami dampak signifikan terhadap kesehatan mental setelah hubungan berakhir.
Bedanya, cara mereka merespons tidak selalu terlihat. Beberapa laki-laki memproses sendiri (solitary work), mencari distraksi, membangun koneksi baru atau bahkan mencari bantuan profesional.
Artinya, mereka tidak selalu “menghindar,” tapi sering kali tidak punya ruang atau kebiasaan untuk memproses emosi secara terbuka. Dan inilah alasan paling masuk akal kenapa hubungan baru jadi salah satu jalan keluar yang terasa paling cepat bagi mereka.
Baca juga: Siapa Tempat Curhat Laki-laki? Ketimpangan Dukungan Emosional dalam Relasi
Sosialisasi Emosi: Akar yang Jarang Dibahas
Dari kecil, banyak laki-laki diajarkan supaya jangan nangis, jangan terlalu terbuka, jangan terlihat lemah. Akhirnya, ketika hubungan berakhir, mereka tidak terbiasa duduk dengan rasa kehilangan. Mereka tidak dilatih untuk mengurai emosi. Yang ada justru dorongan untuk segera baik-baik saja atau terlihat kuat dengan pasangan baru.
Masalahnya, emosi yang tidak diproses tidak hilang. Tetapi hanya berpindah tempat. Entah itu ke distraksi atau hubungan baru. Kamu mungkin pernah lihat semacam meme tentang perbedaan laki-laki dan perempuan setelah putus. Di awal, laki-laki terlihat santai—hidupnya jalan terus, nongkrong, kerja, bahkan sudah dekat dengan orang baru. Sementara perempuan justru jatuh duluan—berduka, menangis, overthinking, seolah dunianya ikut runtuh.
Tapi beberapa bulan kemudian, grafiknya berbalik. Perempuan pelan-pelan naik. Mereka mulai stabil, mulai terbiasa sendiri, mulai menemukan ritme baru tanpa mantan. Sementara laki-laki justru mulai turun karena rasa kehilangan yang sempat ditunda itu muncul lagi, kadang lebih berat karena tidak pernah benar-benar diselesaikan dari awal.
Kedengarannya seperti stereotip atau bahkan bahan bercandaan internet. Tapi kalau ditarik ke temuan penelitian, pola ini ternyata tidak sepenuhnya salah.
Banyak laki-laki memang cenderung mengalihkan rasa sakit alih-alih menghadapinya. Karena mereka tidak terbiasa duduk dengan emosi itu. Jadi yang terjadi bukan proses, tapi penundaan. Dan hal yang ditunda, punya cara sendiri untuk kembali.
Sementara itu, perempuan meski terlihat lebih lama move on justru lebih terbiasa menghadapi emosi secara langsung. Mereka menangis, bercerita, mengulang-ulang kejadian di kepala, mencoba memahami di mana letak retaknya.
Move On Bukan Ajang Kompetisi
Kebiasaan banyak orang menilai siapa yang lebih cepat punya pacar baru, dia yang menang. Tapi kalau ditarik sedikit lebih dalam, ini bukan soal kecepatan. Tetapi cara orang menghadapi kehilangan.
Laki-laki mungkin terlihat lebih cepat karena mereka lebih terdorong untuk kembali ke dalam relasi—entah karena kebutuhan emosional, tekanan sosial, atau sekadar tidak nyaman sendirian. Perempuan mungkin terlihat lebih lambat karena mereka benar-benar berhenti sejenak untuk merasakan semuanya.
Padahal, move on bukanlah kompetisi. Punya pasangan baru setelah putus juga bukan bukti bahwa seseorang sudah benar-benar pulih. Bisa jadi itu langkah maju, tapi bisa juga cuma cara lain untuk menghindari rasa yang belum selesai. Karena yang terlihat paling cepat belum tentu yang paling selesai.
Referensi:
- Oliffe, J. L., Kelly, M. T., Gonzalez Montaner, G., Seidler, Z. E., Kealy, D., Ogrodniczuk, J. S., & Rice, S. M. (2022). Mapping men’s mental health help-seeking after an intimate partner relationship break-up. Qualitative Health Research, 32(10), 1464–1476. https://doi.org/10.1177/10497323221110974
- Shimek, C., & Bello, R. (2014). Coping with break-ups: Rebound relationships and gender socialization. Social Sciences, 3(1), 24–43. https://doi.org/10.3390/socsci3010024
- Understanding Society. (2024). New relationships after a break-up. https://www.understandingsociety.ac.uk/blog/2024/12/10/new-relationships-after-a-break-up/
