Matrilineal Minangkabau dalam Seni dan Realita

Ais Fahira

News

Matrilineal Minangkabau dalam Seni dan Realita

Bincangperempuan.com– Sebuah festival budaya bertajuk Alek Mandeh digelar pada 2–4 Desember 2024 lalu di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Festival ini mengangkat tema besar matrilinealisme Minangkabau, sebuah sistem kekerabatan yang menarik perhatian banyak pihak karena dianggap memberi tempat istimewa bagi perempuan. Di tengah berbagai pertunjukan seni yang disuguhkan, satu pertunjukan meninggalkan kesan yang dalam bagi saya, Rundiang si Kalingkiang, kolaborasi tiga seniman perempuan—Siska Afrisia, Haiza Putri (Runi), dan Maharani Mancanagara.

Pertunjukan ini memadukan seni lukis, koreografi tari, dan permainan bayangan dalam bentuk wayang. Latar panggung dipenuhi kain panjang berwarna kuning dan oranye yang dicetak dalam lima babak cerita. Kain-kain ini menjadi medium utama narasi visual yang menggambarkan ingatan dan perjalanan batin tokoh Si Kalingkiang—seorang perempuan Minang dalam kisah rakyat yang sarat makna simbolik.

“Lima helai kain tersebut menggambarkan lima babak cerita. Mulai dari rumah yang damai, perkebunan milik orang tua Si Kalingkiang, rumah kakek yang terbakar, dan yang terakhir saya padukan dengan warna putih untuk melambangkan akhir yang terbuka (open ending),” jelas Runi, selaku perupa di balik latar tersebut.

Baca juga: Sistem Garis Ibu di Masyarakat Adat Enggano

Salah satu momen paling menyentuh dalam pertunjukan Rundiang si Kalingkiang adalah ketika Siska menari di balik kain, berinteraksi dengan bayangan sosok ibu dan ayah. Gerakannya pelan namun bermakna—seperti dialog diam-diam yang tak pernah benar-benar selesai. Ada getaran halus dalam setiap langkahnya, seakan tubuhnya sedang merayu, meminta restu, atau bahkan mempertanyakan sesuatu yang selama ini hanya disimpan dalam hati.

Maharani Mancanagara, seniman di balik permainan bayangan, menyebut adegan itu sebagai gambaran anak perempuan yang sedang berdialog dengan keluarganya. “Bayangan ini menggambarkan anak perempuan yang sedang berdialog dengan keluarga,” ungkapnya. Sebuah percakapan simbolik yang, bagi banyak perempuan, terasa sangat nyata: negosiasi emosional yang terus berlangsung—terutama saat pilihan hidup perempuan dianggap menyimpang dari ekspektasi keluarga.

Gerakan ini tidak hanya berbicara tentang hubungan antara anak dan orang tua, tetapi juga tentang posisi perempuan dalam keluarga Minangkabau—terutama saat mereka dianggap terlalu kecil, terlalu lemah, atau terlalu tidak mampu untuk membuat keputusan sendiri. Ini menjadi representasi dari dinamika yang kerap dialami perempuan: bahwa meskipun mereka dianggap penting dalam struktur adat, ruang aktual untuk bicara atau menentukan sikap sering kali dibatasi oleh pandangan patriarkis yang masih mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam babak lain, Si Kalingkiang bertemu sang kakek dan mencoba merebut kain oranye darinya—yang saya duga sebagai lambang emas atau harta pusaka. Dugaan saya ternyata benar.

“Kain oranye itu melambangkan emas atau kekayaan. Ketika Si Kalingkiang memintanya secara baik-baik, ia diremehkan. Ia lalu berusaha merebutnya secara paksa. Dalam cerita aslinya, bahkan digambarkan Si Kalingkiang masuk ke lubang hidung kakeknya hingga menyebabkan kematian,” terang Siska.

Adegan ini bukan sekadar metafora kekuasaan, tapi juga tentang negosiasi ruang dan hak. Perempuan Minang memang secara hukum adat memegang hak atas pusako tinggi—harta warisan garis ibu. Tapi dalam praktiknya, seperti Si Kalingkiang, mereka seringkali harus “meminta,” “merayu,” bahkan “memperjuangkan” hak tersebut. Apalagi bagi perempuan Minang yang merantau,  mereka mungkin kehilangan akses terhadap pusako atau justru dilupakan dalam proses pewarisan.

Selain Rundiang si Kalingkiang, saya juga menyaksikan Limpapeh di Anjuang Rumah Gadang, sebuah pertunjukan tari dari Sanggar Seni Berlian Saiyo. Tarian ini dibawakan oleh sepuluh remaja putri yang menggunakan properti seperti selendang, lasuang, dan alu—alat-alat yang biasa digunakan dalam pekerjaan domestik perempuan Minang. Gerakannya enerjik, dinamis, dan diiringi musik ceria yang membuat suasana terasa meriah.

“Melalui gerakan-gerakan yang cepat dan kuat, kami ingin menunjukkan bahwa perempuan Minang itu kuat dan tak pernah diam. Mereka sibuk, tangguh, dan bisa diandalkan,” kata Ujip, koreografer pertunjukan tersebut.

Memang, dalam berbagai pertunjukan tradisi Minang, perempuan kerap ditampilkan sebagai sosok yang kuat secara fisik maupun batin. Namun, penggambaran ini nyaris selalu berada di ranah domestik—sekitar Rumah Gadang. Entah menumbuk padi, menanak nasi, atau menjahit kain. Perempuan Minang yang muncul di panggung seni cenderung dibingkai sebagai penjaga adat, pekerja, dan penopang.

Hal ini dikonfirmasi oleh Geny Rivani, koreografer muda asal Sawahlunto. “Memang di kebanyakan tari tradisi Minang itu gerakan perempuan cepat dan enerjik. Karena realitanya juga, perempuan Minang harus kuat. Tapi tidak semua tari begitu. Ada juga yang anggun, misalnya tarian pasambahan untuk menyambut tamu.” katanya saat dihubungi pada 02  Mei 2025.

Menurut Geny, dalam seni tradisi, perempuan digambarkan kuat secara simbolik. Tapi dalam seni kontemporer, ruang untuk membongkar simbol itu lebih terbuka. “Kalau sudah masuk ke karya kontemporer, kamu bisa bicara banyak hal. Termasuk luka, kemarahan, atau keresahan.”

Hal senada disampaikan oleh Syifa, pegiat teater di Kota Padang. Baginya, seni pertunjukan adalah ruang penting untuk menyuarakan hal-hal yang tidak bisa diucapkan secara langsung. “Bedanya naskah yang ditulis perempuan dan laki-laki itu terasa banget. Cewek lebih banyak membawa pengalaman personal ke dalam cerita. Sayangnya, penulis naskah di teater Minang masih didominasi laki-laki. Perempuan lebih sering jadi aktor saja.”

Baca juga: Perceraian Meningkat, Solusinya Revisi UU atau Perbaikan Struktural?

Realita Perempuan Minangkabau

Namun, setelah panggung ditutup dan lampu dimatikan, realitas perempuan Minang tidak selalu seindah narasi budaya yang ditampilkan di atas pentas. Apakah matrilinealisme benar-benar memberi kuasa? Ataukah justru menciptakan tekanan diam-diam di balik simbol?

“Ya, kuasa itu mungkin hanya berlaku di sekitar Rumah Gadang. Dan itu pun harus terus bernegosiasi dengan saudara laki-laki atau mamak kapalo waris,” kata Ka’bati, seorang pegiat budaya Minangkabau saat dihubungi pada 01 Mei 2025.

Menurutnya, banyak perempuan Minang hari ini justru merasa cemas terhadap nasib pusaka mereka. “Mereka tidur tidak nyenyak karena takut rumah dan tanah pusakonya disertifikasi atau digadaikan oleh mamak atau penghulu kaumnya.”

Dalam pandangan antropologis, lanjut Ka’bati, sistem matrilineal hanya sistem kekerabatan—bukan sistem kekuasaan. “Kalau diibaratkan dalam permainan catur, perempuan Minang itu seperti Raja Catur: penting, tapi langkahnya terbatas. Ia tidak bisa bergerak tanpa perlindungan bidak-bidak di sekelilingnya.”

“Tanpa perempuan, permainan selesai. Tapi ruang geraknya tetap sempit.”

Ketika ditanya apakah ada ruang kepemimpinan untuk perempuan dalam sistem adat Minang, ia menjawab, “Ada. Di Rumah Gadang. Tapi untuk mendapatkannya, perempuan harus berjuang dengan air mata. Ruang yang lapang dan lempang itu tidak tersedia, karena struktur kekuasaan adat justru dibangun secara patriarkis.”

Dari seni ke realita, dari panggung ke matrilineal, narasi perempuan Minangkabau bukan hanya tentang kekuatan, tapi juga tentang pertarungan. Seni pertunjukan seperti Rundiang si Kalingkiang menjadi penting bukan hanya karena keindahan bentuknya, tapi karena keberaniannya menampilkan sisi perempuan yang jarang dibicarakan yaitu keresahan, dan perjuangan perempuan Minangkabau.

Seni bukan hanya hiburan dalam konteks ini. Ia menjadi ruang alternatif ketika ruang formal—seperti adat dan struktur sosial—tidak cukup memberi tempat bagi perempuan untuk bersuara. Ketika perempuan masih harus bernegosiasi untuk mewarisi tanah dari garis keturunannya sendiri, mungkin memang benar: matrilineal bukan berarti bebas. Ia bisa jadi warisan, bisa jadi simbol, tapi belum tentu kenyataan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Perempuan rentan menjadi korban perdagangan manusia

Perempuan Rentan Menjadi Korban Perdagangan Manusia

Apa Benar Kalau Menstruasi Bikin Perempuan Jadi Seperti Laki-laki? 

Krisis Iklim Meningkatkan Risiko Kekerasan Berbasis Gender

Leave a Comment