Home » News » Melihat Fenomena Friends with Benefits

Melihat Fenomena Friends with Benefits

Cindy Hiong

Hubungan, News

Friends With Benefits

Bincangperempuan.com- Fenomena “Friends with Benefits” (FWB) atau “teman dengan keuntungan” sudah menjadi semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan generasi muda yang lebih terbuka terhadap eksplorasi hubungan non tradisional atau non monogami.

Hubungan ini memungkinkan dua individu untuk menikmati hubungan fisik tanpa komitmen romantis yang mendalam. Lebih tepatnya hubungan ini didasarkan pada kesepakatan bahwa kedua belah pihak tidak akan menumbuhkan perasaan romantis masing-masing dan akan tetap mempertahankan status pertemanan.

FWB biasanya muncul dari kebutuhan untuk memenuhi hasrat tanpa tekanan komitmen yang sering kali menyertai hubungan romantis tradisional.

Bagi sebagian orang, FWB adalah hubungan pertemanan yang menguntungkan, menjadi cara terbaik untuk menghabiskan waktu dengan orang lain. Sebagian orang lagi khususnya yang menganut monogani, hubungan yang tidak memiliki komitmen yang nyata tidak dapat dipertahankan. Sementara dilihat dari konteks budaya patriarki yang masih kuat mengakar di banyak masyarakat, hubungan FWB dapat membawa dampak negatif yang signifikan, terutama bagi perempuan.

Ada beberapa alasan mengapa FWB menjadi pilihan bagi beberapa orang:

  1. Kebebasan dan Fleksibilitas: Hubungan ini memberikan kebebasan bagi individu untuk memiliki hubungan fisik tanpa terikat dalam komitmen jangka panjang.
  2. Penghindaran Komitmen: Bagi mereka yang belum siap atau tidak tertarik pada hubungan yang serius, FWB menawarkan solusi sementara.
  3. Kemudahan Akses: Di era di mana aplikasi kencan dan media sosial mempermudah pertemuan antar individu, FWB menjadi lebih mudah diakses dan diterima secara sosial.

Baca juga: Vasektomi, Upaya Melawan Ketidaksetaraan Gender 

Dampak positif dan negatif

Meskipun FWB mungkin terdengar ideal bagi sebagian orang, hubungan ini memiliki dampak positif dan negatif yang perlu dipertimbangkan BPer’s. Disatu sisi pasangan FWB dapat memenuhi keintiman tanpa harus terlibat dalam dinamika hubungan yang kompleks namun bermanfaat bagi kesejahteraan emosional. Tanpa komitmen, individu mungkin merasa lebih santai dan tidak terbebani oleh ekspektasi hubungan romantis. Tanpa ada rasa cemburu ataupun tanggungjawab yang mengikat.

Disisi lain, meskipun diawal memasuki hubungan FWB ada kesepakatan untuk tidak menumbuhkan atau memiliki perasaan, namun sebagai manusia perasaan emosional tetap bisa muncul yang dapat menyebabkan konflik dan ketidaknyamanan. Pada perempuan khususnya mungkin menghadapi stigma sosial yang lebih besar jika diketahui terlibat dalam FWB. Selain itu risiko kesehatan. Hubungan FWB yang tidak eksklusif dapat meningkatkan risiko penyakit menular seksual (PMS) jika tidak dilakukan dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat. Termasuk dampak ketidakpastian relasional dimana tanpa komitmen yang jelas, hubungan FWB bisa menjadi tidak stabil dan membingungkan bagi kedua belah pihak.

Melihat FWB dari konteks patriarki

Dalam kultur patriarki, perempuan seringkali dihadapkan pada standar moral yang lebih ketat dibandingkan laki-laki. Hubungan FWB, yang dianggap melanggar norma seksual tradisional, dapat menyebabkan perempuan menerima stigma sosial yang berat. Mereka mungkin dicap sebagai “tidak bermoral” atau “tidak berharga,” yang dapat merusak reputasi sosial dan pribadi mereka. Stigma ini bisa datang dari keluarga, teman, dan masyarakat luas, dan dapat berdampak jangka panjang pada kesejahteraan mental dan emosional perempuan.

Selain itu, patriarki seringkali memperlakukan seksualitas perempuan sebagai sesuatu yang harus dikendalikan dan diawasi, sementara seksualitas laki-laki dianggap lebih bebas dan wajar. Ketika menjalani FWB, perempuan mungkin menghadapi penilaian negatif hanya karena terlibat dalam hubungan tersebut, sedangkan laki-laki cenderung lebih diterima atau bahkan dipuji. Ketidakadilan ini dapat memperkuat stereotip gender yang merugikan dan menghalangi kemajuan menuju kesetaraan gender.

Perempuan sering kali lebih rentan terhadap dampak emosional dari hubungan FWB. Meskipun ada kesepakatan untuk tidak mengembangkan perasaan romantis, emosi tetap bisa muncul dan sulit dikendalikan. Dalam budaya patriarki, ekspresi emosi perempuan sering kali dianggap sebagai kelemahan, yang dapat memperburuk keadaan. Ketika perasaan romantis tidak terbalas atau hubungan berakhir tiba-tiba, perempuan mungkin mengalami kekecewaan, kesedihan, dan rasa rendah diri yang mendalam.

Terlibat dalam hubungan FWB dalam kultur patriarki dapat mempengaruhi harga diri perempuan secara negatif. Perasaan bahwa mereka hanya dihargai sebatas objek seksual tanpa nilai lebih dalam hubungan dapat mengikis rasa percaya diri. Tekanan sosial dan stigma yang dihadapi perempuan juga dapat menyebabkan stres psikologis yang signifikan, mempengaruhi kesejahteraan mental mereka dalam jangka panjang.

Baca juga: Pergeseran Representasi Perempuan dalam Disney Princess

Mengelola Hubungan FWB

Bagi BPer’s yang memilih menjalani hubungan ini, penting untuk memiliki komunikasi yang jujur dan terbuka mengenai ekspektasi dan batasan agar FWB berjalan dengan baik. Menetapkan aturan yang jelas sejak awal untuk menghindari kesalahpahaman. Misalnya, kedua pihak harus sepakat tentang seberapa sering mereka akan bertemu, bagaimana mereka akan menangani perasaan yang mungkin muncul, dan bagaimana mereka akan menjaga kesehatan seksual masing-masing.

Nah jika BPer’s berpikir untuk menjalin hubungan FWB tentunya harus berpikir dengan matang apakah jenis hubungan ini akan memberikan manfaat bagi BPer’s dalam dalam segala hal. FWB menjadi fenomena hubungan yang menawarkan kebebasan dan fleksibilitas, tetapi juga datang dengan berbagai tantangan dan risiko.Be aware BPer’s!

Sumber:

  • Friends With Benefits: What Does It Mean and Is It the Right Relationship Type for You? dalam bride.com

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Kesehatan Mental, Relationships

Artikel Lainnya

Bijak Memilih Daycare untuk Anak

Perempuan, Jangan Pernah Takut Gagal

Lima Media Perempuan Ikuti Advance Training for The Media Business Viability

Leave a Comment