Home » News » Mengenal KOALA, Ojek Online Khusus Perempuan di Kota Serambi Mekkah

Mengenal KOALA, Ojek Online Khusus Perempuan di Kota Serambi Mekkah

Nurul Hasanah

News

KOALA hadir di penghujung tahun 2017 memberikan layanan antarjemput untuk para perempuan terutama muslimah yang tidak nyaman duduk di kendaraan yang dikemudikan lawan jenis. Layanan ojek online ini digebrakkan oleh kelompok mahasiswi di kampus ternama Aceh, Universitas Syiah Kuala.

Bincangperempuan.com– Layanan antarjemput dari perempuan dan untuk perempuan KOALA hadir berkat buah pikiran dari Farah Febriani, perempuan kelahiran Banda Aceh, 13 Februari 1994 yang pada waktu itu masih berstatus sebagai mahasiswi Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran di Universitas Syiah Kuala.

Rini panggilan akrabnya mengeksekusi gagasannya itu bersama teman-temannya yang kemudian kesamaan tujuan tersebut membentuk sebuah Komunitas Ojek Akhwat Syiah Kuala, singkatan dari KOALA. Komunitas itu didirikan pada 25 November 2017 dan mulai beroperasi melayani antarjemput khusus empuan pada 1 Desember 2017.

KOALA sendiri bukan hanya sekadar singkatan dari nama komunitas. Nama itu mengandung filosofi tersendiri yang berkaitan erat dengan ciri khas fauna asal Australia. Hewan berkantung tersebut terkenal sering menggendong anaknya dipunggung. Kesamaan ini mirip dengan aktivitas ojek online yang membawa penumpang.

“Nama itu dikaitkan dengan induk koala yang sering menggendong anaknya dipunggung. Jadi terkait dengan aktivitas bonceng membonceng yang dilakukan ojek online, pengemudi di depan dan penumpang di belakang,” katanya.

Kehadiran layanan ojek online KOALA awalnya memang berangkat dari keresahan para mahasiswi yang merasa risih saat harus menggunakan jasa antarjemput yang dikemudikan oleh laki-laki. Koala dihadirkan untuk menjawab tantangan tersebut dengan menyediakan pengemudi yang juga perempuan.

Namun, itu bukan satu-satunya alasan. Keterbatasan ekonomi Rini juga menjadi alasan lain layanan ini hadir dan bertahan hingga kini lima tahun lamanya. Ia ingin mencari pekerjaan sampingan yang dapat menghidupi kebutuhan sehari-hari terutama saat itu masih berstatus sebagai mahasiwa. 

Pernah muncul dibenaknya untuk bergabung menjadi driver ojek online yang sudah ternama. “Cuma kalau harus bergabung dengan Grab ataupun Gojek tidak bisa memilih penumpang (perempuan),” pikirnya.

Selain itu, ia juga bercita-cita ingin menciptakan lapangan pekerjaan yang dapat membantu para perempuan mengais rezeki yang halal. “Mungkin ada beberapa perempuan yang mempunyai stamina kuat dan hobi jalan, cocok banget bekerja di KOALA,” katanya.

Saat ini tercatat sekitar 80-100 orang perempuan bekerja sebagai pengemudi sepeda motor dan 5-10 orang pengemudi mobil di layanan antarjemput KOALA. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan dengan perkiraan usia mulai 20 sampai 40 tahunan.

Layanan antarjemput khusus perempuan ini beroperasi di seputaran kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar. Ia berharap jangkauannya dapat diperluas sampai ke seluruh daerah Aceh.

Untuk menggunakan jasa layanan ini, para pelanggan dapat melakukan pemesanan melalui grup WhatsApp 085275803544 atau juga bisa menghubungi admin langsung dengan menyebutkan format tujuan pengantaran, alamat penjemputan, dan waktu penjemputan.

Sebelumnya, KOALA juga mempunyai sebuah aplikasi yang dapat memudahkan dalam memberikan layanan antarjemput kepada pelanggan sama seperti ojek online lainnya. Namun, aplikasi tersebut gagal sehingga akhirnya kembali menggunakan WhatsApp, sebuah aplikasi berkirim pesan dan panggilan ciptaan Jan Koum dan Brian Acton.

“Tidak kita buat lagi aplikasi karena terbatas dari segi ilmu dan dana,” jelasnya.

Tarif yang dikenakan saat menggunakan layanan ini juga terbilang terjangkau, pelanggan yang menggunakan KOALA motor dengan jarak perjalanan 0-2 km dikenakan tarif Rp6.000 per perjalanan, dan Rp2.750 per km apabila jarak perjalanannya di atas 2 km.

Sedangkan tarif KOALA mobil Rp25.000 per perjalanan 0-2 km dan apabila jarak perjalanannya di atas 2 km tarifnya Rp5.500 per km. Lalu, juga ada tarif tunggu Rp2.000 per lima menit berlaku untuk pengguna layanan KOALA motor dan KOALA mobil.

Sejak dirintis hingga sekarang, KOALA telah melayani antarjemput ribuan penumpang. Saat ini jumlah pelanggan yang tercatat mencapai 500-1.000 orang. Jumlah ini sebenarnya turun dibandingkan tahun 2019 yang pernah mencatat jumlah pelanggan sampai sekitar 2.000 orang.

“Awalnya sangat sedikit pelanggan dan drivernya juga sangat sedikit, tetapi perlahan-lahan kita promosikan melalui sosial media dan dari mulut ke mulut. Alhamdulillah sangat berkembang di tahun 2019,” ungkapnya.

Layanan yang dihadirkan KOALA ini pun tidak hanya mendapat respon dari perempuan muslim, ada juga pengguna layanan berlatar belakang perempuan dengan keyakinan agama lain dan juga dosen berkebangsaan Amerika yang sudah menjadi pelanggan.

“Mereka menjadi pelanggan KOALA karena merasa nyaman drivernya perempuan,” tuturnya.

Namun, kini, sang owner yang juga merangkap driver mengaku dihadapkan oleh sejumlah tantangan yang membuat dirinya kewalahan. Tantangan itu berasal dari persoalan yang diterima dari driver dan juga berkurang jumlah orderan karena munculnya pesaing baru.

Manfaat yang telah dirasakan dari layanan KOALA bagi para perempuan ini tentunya harus terus digemakan agar layanan ojek khusus perempuan ini yang sudah menginjak usia lima tahun ini dapat berumur panjang. Dengan begitu, perempuan dapat terus memiliki layanan yang nyaman serta ekonomi perempuan makin berdaya. (Nurul Hasanah)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

gerakan perempuan, ojek online perempuan

Artikel Lainnya

Bayang-bayang Kekerasan Seksual Menghantui Perempuan dan Anak di Tanah Syariat

Tren Ani-ani atau sugar baby

“Ani-ani” dan Keresahan Masyarakat atas Kesuksesan Perempuan

Queen bee syndrom

Queen Bee Syndrome: Fenomena Sosial di Tengah Dominasi Maskulinitas

Leave a Comment