Nasib Industri Rumah Tangga Olahan Ikan Salai di Tengah Ancaman Krisis Air dan Jerat Tengkulak

MUARA TAKUS –  Ressi, seorang ibu muda, sibuk membalik posisi ikan yang berjejer rapi di salayan, di atas perapian.  Sebagian ikan Motan, ada pula ikan Mali-mali. Tangannya terlihat lincah. Tak sampai 5 menit, ikan-ikan tersebut sudah menghadap sisi yang berbeda. 

Bila sebelumnya menghadap perapian, berganti menghadap sisi yang lain. Setelah semua ikan berganti sisi, ia menutup pintu tempat pengasapan atau penyalaian. Ini dilakukan agar asap dari pembakaran kayu tidak menyebar.  Sebaliknya meresap ke kulit ikan.  

Matanya seperti tak merasakan perih, akibat asap dan debu dari hasil pembakaran kayu linggang. Kayu khas setempat yang digunakan untuk menghasilkan bara api. Kayu jenis ini masih terbilang mudah didapatkan di sekitar hutan Kabupaten Kampar. 

Meskipun memiliki struktur yang keras, kayu linggang tidak pernah digunakan untuk bahan bangunan. Pemilihan kayu menjadi salah satu faktor penting dalam proses menyalai ikan. Bila menggunakan kayu yang banyak mengandung resin atau damar, dipastikan kurang baik untuk pengasapan, karena akan menghasilkan rasa pahit pada ikan salai. 

“Selalu menggunakan kayu ini, kalau menggunakan kayu lain ikan asapnya akan menjadi berbau dan tidak gurih,” kata Ressi. 

Aktivitas membuat ikan salai, memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan perempuan di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau. Meski bukan menjadi sumber penghasilan utama yakni berkebun, namun tradisi membuat salai sudah dilakukan lebih dari 30 tahun,  sejak desa tersebut dipindahkan akibat dampak pembangunan proyek PLTA Koto Panjang tahun 1990-an silam. 

Proses pengasapan ikan salai menggunakan bara api dari kayu linggang, kayu khas daerah setempat. (foto : betty herlina)

Dulunya Desa Muara Takus berada persis di bawah  candi Muara Takus. Namun desa tersebut harus ditenggelamkan bersama 10 desa lainnya.  Desa ini dapat diakses menggunakan transportasi darat dari Kota Pekanbaru Ibu Kota Provinsi Riau dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam.  

Perempuan memegang peranan penting dalam setiap tahapan proses pembuatan ikan salai. Mulai dari produksi hingga distribusi. Tradisi ini sudah dilakukan turun temurun di Kabupaten Kampar.  Mulai dari membersihkan ikan-ikan hasil tangkapan, pengolahan, packing hingga menjualkannya. 

Lazimnya proses pengasapan ikan Motan dan Mali-mali bisa memakan waktu hingga 3 jam. Diawali dengan penyiangan dan pencucian. Selama proses menyalai, ikan harus terus dibolak- balik agar panas dan asap merata pada kedua sisi ikan hingga benar-benar kering, berwarna kuning atau coklat keemasan. 

Setelah itu, perapian dapat dipadamkan. Ikan-ikan dibiarkan hingga dingin, diangkat dari penyalaian, lalu siap dikemas.  

Ressi mulai menekuni pembuatan ikan asap, sejak ia menikah yakni tahun 2004. Awalnya ia memulai usahanya sendiri hanya di rumah. Jumlah ikan Mali-mali dan Motan terbilang banyak dan mudah ditangkap di sekitar sungai Takui, sungai kecil yang bermuara ke sungai Kampar Kanan dan danau PLTA Koto Panjang. 

“Lumayan untuk menambah uang dapur,” imbuhnya. 

Hingga akhir tahun 2018, ia diajak bergabung dengan Kelompok Perikanan Air Tawar Candi Mahligai Jaya, Desa Muara Takus yang baru saja terbentuk. Dirasa lebih menguntungkan, ajakan tersebut terang langsung diterimanya. 

Surutnya sungai, jerat tengkulak dan pandemi  

Kelompok Perikanan Air Tawar Candi Mahligai Jaya, menjadi salah satu kelompok binaan dari salah satu grup perbankan terbesar di dunia yakni, HSBC.  Kelompok ini diketuai Hendeni dan beranggotakan 20 orang ibu-ibu rumah tangga pembuat ikan salai rumahan. Tak hanya ikan salai, Kelompok Perikanan Air Tawar Candi Mahligai Jaya juga memproduksi ikan asin, dengan bantuan alat pengering berpanel surya.

Hasil produksi ikan salai Kelompok Perikanan Air Tawar Candi Mahligai Jaya, Desa Muara Takus yang siap dipasarkan. (foto : betty herlina)

Proses produksi dan distribusi yang tadinya dilakukan sendiri-sendiri, mulai dilakukan bersama-sama.  Setiap pagi, sebelum pergi ke kebun, para suami membantu menangkap ikan di sungai. Ikan-ikan tersebut kemudian dikumpulkan untuk diolah ibu-ibu menjadi ikan salai dan ikan asin. 

“Lebih enak berkelompok, kami tidak susah menjualnya,” imbuh Ressi.  

Sejak tergabung dengan kelompok, Ressi mulai menerima pendapatan tetap. Setiap minggunya ia bisa mengkantongi uang bervariasi, kisaran Rp 500 ribu. Jumlah tersebut merata diterima setiap anggota kelompok. Pendapatan bersih dibagi sesuai jumlah anggota kelompok setelah disisihkan sebagian untuk simpanan kas kelompok. 

“Namun belakangan ikan mulai sedikit, apalagi kalau musim panas, sungai surut. Kami paling terimanya Rp 300 ribu,” katanya. 

Serupa disampaikan Yerlisa. Biasanya per minggu kelompoknya bisa menghasilkan hingga 30 kg ikan salai dan 30 kilogram ikan asin. Per kg ikan salai biasa dijual Rp 60 ribu, sedangkan ikan asin per kilogramnya dihargai Rp 30 ribu.  Namun belakangan produksinya terbatas hanya 15 kilogram untuk ikan salai dan 15 kilogram untuk ikan asin. 

Tak hanya itu, menyusutnya jumlah produksi berimbas dengan pemberlakukan sistem piket terhadap anggota.  “Gantian, ada yang masuk minggu ini, maka minggu depan libur. Karena ikannya sedikit, hasilnya juga sedikit,” lanjutnya. 

Tak hanya persoalan berkurangnya jumlah ikan yang menjadi bahan baku utama untuk salai dan asin, pandemi Covid-19 juga membuat pendapatan Kelompok Perikanan Air Tawar Candi Mahligai Jaya berkurang. Pasalnya kunjungan wisatawan ke kompleks Candi Muara Takus juga berkurang. 

“Kami biasanya jualan di candi, banyak yang datang ke candi, karena Covid, jadi ikan dioper ke tauke, per kilogram harganya jadi Rp 50 ribu untuk salai dan ikan asin jadi Rp 20 ribu,” terangnya. 

Jarak desa dengan candi Muara Takus kurang lebih 1 kilometer.  Kompleks Candi Muara Takus sudah diakui UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia pada tahun 2009. Candi tersebut merupakan salah satu situs peninggalan agama Budha yang ada di Pulau Sumatera.  

Sebagai situs peninggalan agama Budha di Sumatera, Candi Muara Takus selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal dan manca negara, apalagi pada saat peringatan keagamaan. (foto : betty herlina)

Candi Muara Takus diperkirakan dibangun pada abad ke-4.  Ada juga yang mengatakan dibangun pada masa pemerintahan kerajaan Sriwijaya, dan menjadi peninggalan kebesaran kerajaan Sriwijaya pada masa itu. Ini ditunjukkan pada salah satu bangunannya yang berbentuk seperti stupa, yakni lambang dari Budha Gautama.  

“Sore-sore itu ramai di candi, enak jualan di candi,” timpalnya. 

Yerlisa mengaku, keterbatasan memaksimal gawai, membuat ia dan anggota kelompok tidak tahu bagaimana mengakses penjualan di market place. Sehingga masih bergantung dengan tauke dan berjualan di candi sebagai oleh-oleh khas setempat.  

“Enggak ngerti ibu jualan menggunakan hape,” katanya sambil tersenyum malu. 

Soal sungai yang mulai surut.  Yerlisa tidak mengetahui persis apa penyebabnya. “Mungkin karena faktor cuaca yang lebih panas saja. Kalau musim panas ya begini, air dikit, ikannya juga sedikit,” pungkasnya. 

Ikan Motan dan Mali-mali 

Ikan salai merupakan makanan tradisional dengan harga yang relatif terjangkau dan memiliki rasa yang khas dan gurih. Ada dua jenis ikan yang digunakan Kelompok Perikanan Air Tawar Candi Mahligai Jaya, Desa Muara Takus sebagai bahan baku utama untuk membuat salai dan ikan asin, yakni ikan Motan dan Mali-mali. 

Ikan Motan, ada dua jenis, yakni Motan Besar Kepala (Thynnichthys polilepis) dan Motan Siruncin (Thynnichthys thynnoides). Kedua jenis ikan ini mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dan cukup digemari masyarakat.

Dilansir dari Jurnal Lingkungan, Universitas Riau, diketahui, ciri-ciri ikan Motan kepala besar memiliki tubuh berbentuk hampir stream line, kepala meruncing, posisi mulut terminal, mulut bersifat protractil, tubuh ditutupi oleh sisik-sisik kecil putih yang umumnya berbentuk cycloid, sirip ekor berbentuk bercagak (forked), permulaan dasar sirip dada dekat ujung bagian belakang (posterior) tutup insang (operculum). Panjang total tubuh bisa mencapai 225 mm, jumlah sisik linea lateralis. 

Hulu Waduk PLTA Koto Panjang saat ini sudah mulai dipadati dengan keramba jaring apung, bagian hulu ini merupakan danau yang digemari ikan motan dan mali-mali. (foto : betty herlina)

Spesies ini paling dominan jika dibandingkan dengan 50 spesies ikan air tawar lainnya yang ada di waduk PLTA Koto Panjang.  Biasanya jumlah ikan Motan yang tertangkap jaring nelayan bisa sampai 75 persen dari seluruh ikan yang tertangkap, baik di siang atau malam hari. 

“Ikan Motan cocok hidup di air yang tenang, seperti di danau PLTA,” terang Yasualdi salah seorang anggota Kelompok Perikanan Air Tawar Candi Mahligai Jaya . 

Sedikit berbeda dengan ikan Mali-mali yang memiliki nama latin Labiobarbus festivus. Ikan ini memiliki  panjang  total  16  cm dengan bentuk  tubuh  ramping  tegak,  kepala tumpul dan mata  yang  besar. Tipe  mulut  subterminal,  tubuh  di  tutupi  sisik,  linea lateralis  tidak begitu  jelas. Sedangkan dibagian ujung sirip  punggung  dan  sirip  ekor  berwarna  gelap,  sirip  dada,  sirip  perut  dan  sirip  ekor berwarna kemerah-merahan, tipe sirip ekor bercagak. 

“Tapi paling banyak menggunakan ikan Motan,” katanya singkat. 

Pengawetan ikan menjadi salai dengan perlakuan pengeringan metode asap, dapat meningkatkan daya awet dari ikan tersebut, meningkat nilai tambah, jangkauan pemasaran dan daya terima masyarakat. Termasuk membuka peluang usaha sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

“Ikan Motan segar per kg harganya Rp 8.000, kalau dijadikan salai bisa tembus Rp 80 ribu per kilogram. Untuk produksi 1 kilogram salai ikan Motan membutuhkan 3-4 kilogram Motan basah, jadi jika dihitung-hitung hasilnya memang menjanjikan,” bebernya.  

Perubahan Vegetasi dan Penurunan Kualitas Air 

Tidak hanya cuaca yang panas atau musim kemarau,  namun banyaknya aktivitas di sekitar sungai Kampar dikatakan Akademisi dari Universitas Riau, Dr. Suwondo,MSi menjadi penyebab utama terjadinya penurunan kualitas air sehingga berdampak pada perubahan jumlah habitat, yakni berkurangnya keanekaragaman ikan.

Aktivitas tersebut dapat dilihat dari perubahan tutupan lahan yang semakin terbuka, digantikan dengan tanaman sawit dan karet serta gambir di bagian hulu. Meskipun lama kelamaan tanaman seperti karet dapat menyerupai vegetasi hutan, namun tetap membutuhkan waktu. Perubahan kondisi tutupan dan jumlah lahan terbuka yang semakin banyak menyebabkan terjadi jarak yang cukup signifikan antara musim kemarau dan hujan terhadap debit air.

Ketika lahan terbuka, kata Suwondo, air hujan yang turun langsung menyentuh permukaan tanah. Akibatnya menyebabkan material tanah ikut sehingga menimbulkan kekeruhan di sungai dan menjadi salah satu penyebab berubahnya kualitas air. 

“Makin lama makin terjadi gap dari tahun ke tahun terhadap debit sungai pada musim kemarau dan hujan makin jauh. Perubahan habitat akan menyebabkan perubahan fisik kimia air dan biota akan semakin tertekan. Ini menjadi salah satu faktor penyebab populasi ikan makin turun. Tidak hanya Mota yang jumlahnya mendominasi akan berkurang, namun ikan lain juga bisa berkurang terus,” katanya. 

Berdasarkan riset yang dilakukannya, penurunan kualitas air di Sungai Kampar sudah berlangsung sejak tahun 2000. Ini seiring dengan berkembangnya infrastruktur dan investasi di Kabupaten Kampar yang menyebabkan lahan semakin sedikit, populasi bertambah dan aliran sungai menyempit. Kurun 10 tahun terakhir, indeks kualitas air mengalami tren penurunan 30-40 persen.

“Daya dukung air harus dihitung untuk setiap aktivitas yang ada dipinggir sungai. Jika tidak trennya akan turun terus,” lanjutnya.

Untuk mengantisipasi agar penurunan kualitas air tidak terus terjadi, maka perlu dilakukan perbaikan kualitas air secara komprehensif. Yakni dengan mempertimbangkan keberlanjutan dalam berbagai aspek, seperti lingkungan, ekologi, ekonomi, tata kelola, dan hukum.

“Pemerintah harus memberikan edukasi lebih pada masyarakat, untuk meninggalkan budaya mengambil sumber daya alam tanpa mempertimbangkan keberlangsungan sungai,” lanjutnya.

Suwondo mengatakan, pengendalian dan pengawasan yang dilakukan pemerintah masih minim, seperti dalam pelaksanaan konsep tata ruang. Seharusnya kawasan hutan namun kenyataannya tidak memiliki hutan. Kemudian aspek penegakan hukum yang tidak berjalan dengan baik, masih ditemukannya galian C di sekitar kawasan sungai Kampar.

“Bukan berarti melarang adanya galian C namun harus diperhatikan kondisi sungainya, tidak semua bagian sungai bisa dijadikan untuk galian C, dampaknya bisa menyebabkan sedimentasi dan keruh. Penggalian di badan sungai jika tidak dikendalikan bisa bahaya. Harus dilihat bagian mana yang boleh ditambang bagian yang mana yang tidak boleh ditambang,” katanya

Ia menganalogikan kondisi DAS Kampar, jika dapat menampung air pada musim hujan sebanyak 1 juta liter dengan kedalaman 5 meter, maka ketika terjadi sedimentasi sedalam 1 meter, akan menyebabkan daya tampung menjadi berkurang, atau hanya tertampung 800 ribu liter air. 

“Lantas 200 ribunya kemana ? ya jadi banjir. Begitu juga ketika sedang musim panas, airnya menjadi sangat surut, akibat gap debit air yang terlalu besar,” tutupnya (betty herlina)

*) Liputan ini merupakan bagian dari Program Fellowship Kelas Belajar Krisis Air : Program Revitalisasi DAS Kampar yang digagas The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dandidukung HSBC Indonesia dan sudah tayang lebih dahulu di Rakyat Bengkulu. 

Leave a Comment