Home » Kesehatan » Ibu dan Anak » Perempuan dan Jerat Diskriminasi Saat Mengalami Keguguran

Perempuan dan Jerat Diskriminasi Saat Mengalami Keguguran

Bincangperempuan.com- Keguguran menjadi momok tersendiri bagi perempuan. Mereka seringkali merasa jadi penyebab petaka tersebut hingga berujung depresi, bahkan membenci tubuhnya sendiri. Kondisi tersebut diperparah dengan respons diskriminasi dari lingkungannya. 

Keguguran sendiri dimaknai sebagai berhentinya kehamilan pada usia kurang dari 20 minggu. Berat bayi yang lahir juga kurang dari 500 gram. Sebanyak 80% keguguran terjadi pada trimester pertama dan 3% lainnya ketika janin berusia 16 minggu. Keguguran kerap terjadi pada kehamilan pertama dan menimpa satu dari enam pasangan di Indonesia. Beberapa di antaranya bahkan mengalami keguguran secara berulang. 

Duka semacam ini tentu tidak mudah untuk dihadapi. Namun, perempuan kerap diharapkan bisa langsung meneruskan hidupnya tanpa diberikan waktu untuk berkabung. Pelestarian relasi gender yang tidak seimbang membuat keguguran dipandang sepele dan tidak terlalu diperhatikan. Tragedi ini dibiarkan lewat begitu saja. 

Tak ada ucapan berduka cita, doa-doa yang dilantunkan secara khusus, bahkan mungkin makam yang bisa dikunjungi. Memori di kepala jadi satu-satunya pengingat bahwa janin tersebut pernah ada. Keguguran dianggap tidak setragis kematian. Terlebih, apabila si ibu masih muda dan dianggap tidak akan kesulitan untuk memiliki anak lagi. Empati jadi jarang diberikan. 

Baca juga : Berbagai Alternatif Pembalut bagi Perempuan

Perempuan diajarkan untuk mengamalkan sifat pasif sebagai sesuatu yang normal. Tabu membicarakan kejadian keguguran yang dialami menempatkan mereka sebagai orang lain. Ini merupakan doktrin yang diintepretasikan dan direinterpretasi dari satu generasi ke generasi yang lain. Sayangnya, pemikiran diskriminasi ini tampak begitu sulit untuk diubah karena telah lama dianggap sebagai realitas yang baku.

Mengurangi risiko keguguran

Ada banyak faktor yang bisa menjadi penyebab risiko perempuan keguguran. Karena itu, perlu penegasan bahwa keguguran tidak serta-merta menjadi kesalahan perempuan. Terlebih, ada berbagai tindakan preventif yang bisa dilakukan bersama untuk mengurangi risikonya. 

Salah satu yang paling penting adalah pemilihan makanan. Nutrisi dan vitamin banyak diperlukan. Keduanya bisa diperoleh dari ikan, buah-buahan, dan sayuran. Hal ini bisa ditunjang dengan suplemen khusus yang disesuaikan dengan resep dokter. Asupan air putih yang terpenuhi juga penting untuk mencegah terjadinya dehidrasi sekaligus melancarkan aliran darah ibu ke janin. 

Awas pada kegiatan dan lingkungan juga perlu. Ibu hamil perlu istirahat yang cukup dan mengurangi aktivitas berat sehingga tidak merasa kelelahan. Aktivitasnya pun disesuaikan, termasuk dalam olahraga yang dilakukan secara khusus. 

Pada kenyataannya memang tidak semua perempuan hamil bisa terpenuhi kebutuhannya. Hak-hak ini jadi semacam privilese dan kemewahan untuk bisa dinikmati, bahkan diperkirakan 50% ibu hamil di Indonesia sudah dalam kondisi tidak sehat sejak awal kehamilan. Buruknya kondisi ini sesungguhnya dapat dilihat sejak mereka masih remaja. Banyak di antaranya mengalami hipertensi, anemia, kurang energi kronis, sampai terserang berbagai infeksi. Padahal, anak yang sehat jelas hanya bisa dihasilkan dari ibu yang sehat. 

Lingkungan yang tidak mendukung juga meningkatkan risiko keguguran. Ibu hamil kerap dipaksa tetap melakukan aktivitas berat. Kondisi tersebut pernah menyebabkan seorang buruh garmen mengalami keguguran saat bekerja di salah satu Perusahaan di KBN cakung. Ia mendapat instruksi untuk mengambil barang di ruang yang memuat banyak bahan kimia.  Di sana ia diperintahkan untuk mengambil setengah karung hasil cuci. Meski keberatan, ia tetap menjalankannya. Tidak sampai 12 jam setelahnya, dirinya mengalami pecah ketuban dan anaknya hanya bertahan selama 4 jam saja. 

Memulihkan kondisi setelah keguguran

Keguguran diawali dengan tanda-tanda khusus, seperti pendarahan, mules, serta pembukaan mulut rahim. Meski demikian, tidak semua pendarahan selama kehamilan menjadi gejala keguguran. Biasanya diikuti rasa sakit dan kram yang datang dan pergi secara berulang. Pada beberapa kondisi, juga diikuti dengan keluarnya janin yang mati ataupun jaringan lainnya. Dalam proses ini banyak perempuan akan merasakan demam dan kedinginan. 

Salah satu pemulihan fisik yang dapat dilakukan adalah kuret. Prosedur medis ini untuk mengeluarkan sisa jaringan yang mati. Waktu untuk melakukan operasi kuret biasanya cukup cepat, yakni 10-15 menit saja. 

Mengambil istirahat yang cukup setelah keguguran terjadi juga merupakan penunjang penting untuk memulihkan fisik. Hindari aktivitas berat dan lebih banyak beristirahat. Di samping itu, hubungan seksual juga jangan dilakukan selama pendarahan belum selesai. Umumnya proses ini membutuhkan waktu 1-2 minggu. 

Baca juga : Jalan Panjang Perjuangan Perempuan Hadapi PCOS

Perempuan yang mengalami keguguran juga harus fokus untuk memulihkan kondisi psikis. Salah satunya melalui konseling pasca-keguguran. Setidaknya ada dua konseling yang bisa didapatkan, yaitu konseling kedukaan dan konseling penggunaan alat kontrasepsi untuk perencanaan kehamilan. Konseling bermanfaat agar perempuan bisa melegakan jiwanya serta mengambil sikap terbaik untuk menyelesaikan trauma yang mungkin terjadi.

Pemulihan kondisi setelah keguguran harus berpusat pada perempuan. Ini dimaknai dengan memperhatikan keperluan dan kesehatan fisik, emosional individu, maupun kemampuan akses layanan kesehatan reproduksi perempuan. Esensi terpenting dari seluruh proses tersebut adalah dukungan untuk bangkit dari tragedi ini. 

Persoalan keguguran perlu banyak diperbincangkan. Hal sederhana seperti pernyataan dukacita sesungguhnya bisa menegaskan bahwa rasa sakit yang dialami ini nyata. Selain itu, penting untuk mencari penyebab dari kegagalan kehamilan sehingga bisa melakukan pencegahan di masa mendatang.(**)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Artikel Lainnya

Membangun Kesehatan Fisik dan Mental untuk Ibu dan Janin

Gender Reveal Party 

Gender Reveal Party: Sejarah dan Kontroversinya

Pentingnya Mendampingi Ibu Saat Mengalami Sindrom Baby Blues

Pentingnya Mendampingi Ibu Saat Mengalami Sindrom Baby Blues

Leave a Comment