Home » News » Perempuan dan Pelestarian Lingkungan 

Perempuan dan Pelestarian Lingkungan 

Yuni Camelia Putri

News

Ekofeminisme

Bincangperempuan.com- Kerusakan lingkungan memberikan dampak yang besar bagi kehidupan perempuan. Relasi perempuan dan lingkungan, sama-sama melahirkan kehidupan. Hubungan keduanya tidak terpisahkan. Merusak lingkungan, berarti merusak kehidupan perempuan. Termasuk merusak cikal bakal kehidupan di masa depan yang akan dilahirkan.  

Ketika lingkungan rusak, perempuan akan menanggung beban yang sangat besar. Perempuan yang sehari-harinya, mengakses sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti air bersih, kayu bakar, dan hasil pertanian lokal akan terganggu jika terjadi kerusakan lingkungan, perubahan iklim, kekeringan, atau deforestasi yang dapat mengurangi ketersediaan sumber daya ini. 

Akibatnya perempuan harus melakukan perjalanan yang lebih jauh atau menghadapi kesulitan untuk memperolehnya. Hal ini jelas meningkatkan beban kerja perempuan dan mengurangi waktu yang dapat mereka habiskan untuk pendidikan atau kegiatan ekonomi lainnya. Tak jarang juga berdampak langsung pada penghasilan dan keamanan pangan keluarga perempuan, serta meningkatkan tekanan ekonomi dan sosial pada mereka.

Bila dilihat dari sisi kesehatan reproduksi, kerusakan lingkungan juga dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi perempuan. Pencemaran air atau tanah, dapat menimbulkan limbah industri atau pertanian sehingga membahayakan kesehatan perempuan dan janin mereka. Selain itu, perubahan iklim dan bencana alam dapat meningkatkan risiko kehamilan yang sulit dan melahirkan di tempat-tempat yang tidak aman.

Termasuk ketika terjadi bencana alam, perempuan menjadi kelompok yang paling rentan terhadap bencana alam, seperti banjir, gempa bumi, atau badai, karena faktor-faktor seperti mobilitas yang terbatas, tanggung jawab merawat anak, atau kurangnya pengetahuan tentang cara menghadapi bencana. 

Baca juga: Kawin Tangkap, Diskriminasi Gender Atas Nama Tradisi 

Untuk itu, penting untuk memahami bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah sosial yang memiliki dampak yang signifikan pada perempuan. Upaya untuk mengatasi kerusakan lingkungan harus memperhitungkan kebutuhan dan kontribusi perempuan dalam upaya mitigasi dan adaptasi untuk menjaga keberlanjutan lingkungan serta kesejahteraan mereka.

Sayangnya, partisipasi perempuan dalam pelestarian lingkungan kerap dianggap remeh karena bias gender. Kultur patriarki menempatkan laki-laki dianggap lebih layak dalam pekerjaan di sektor lingkungan karena melibatkan perhitungan teknis dan fisik. Akibatnya, kebijakan-kebijakan yang muncul, kerap kali tidak berpihak pada perempuan, karena suara yang didengar bukan perspektif perempuan. 

Relasi perempuan dan lingkungan, disuarakan lewat ekofeminisme, yakni gagasan dari feminis Prancis Françoise d’Eaubonne yang memandang bahwa lingkungan sebagai subjek feminine yang tunduk pada budaya mirip dengan patriarkis antara perempuan dan laki-laki. Untuk itu, Françoise d’Eaubonne berpendapat bahwa perempuan harus memimpin revolusi ekologi dalam proses menyelamatkan lingkungan. Baginya, perempuan memegang kunci dalam mengelola lingkungan berskala nasional hingga global.

Ekofeminisme telah mendorong banyak pihak termasuk negara dalam melakukan pembangunan yang berkelanjutan, karena harus mempertimbangkan kondisi generasi selanjutnya. Sehingga pembangunan tidak hanya didasari oleh sistem kepercayaan pasar bebas yang akan merugikan lingkungan. Tindakan ini justru menyebabkan ketidakseimbangan dalam kebijakan pembangunan nasional. Hal lainnya yang harus diperhatikan adalah perubahan iklim yang berdampak serius bagi komponen masyarakat terutama pada perempuan.

Ada beberapa alasan mengapa gagasan ekofeminisme dianggap penting,  diantaranya : 

  • Keterkaitan antara eksploitasi lingkungan dan penindasan perempuan

Ekofeminisme mengidentifikasi keterkaitan yang kuat antara penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi lingkungan. Konsep ini berpendapat bahwa pandangan dominan yang mendukung penguasaan manusia terhadap alam juga sering kali mendukung penguasaan pria terhadap perempuan. Dalam kedua kasus ini, kekuatan dan kontrol dikendalikan oleh kelompok yang lebih dominan, yang dalam banyak kasus adalah laki-laki.

  • Pemahaman terhadap nilai-nilai tradisional feminin

Ekofeminisme mengakui dan mendorong pemahaman terhadap nilai-nilai yang sering kali dikaitkan dengan perempuan, seperti kepedulian, keberlanjutan, dan empati terhadap alam. Nilai-nilai ini dianggap penting dalam menjaga keseimbangan ekologis dan berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan.

  • Kritik terhadap kapitalisme dan industrialisasi

Gerakan ekofeminisme sering kali mengkritik model ekonomi kapitalis dan industrialisasi yang mendorong eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dan menciptakan ketidaksetaraan ekonomi. Dalam konteks ini, perempuan sering kali menjadi korban pertama dari dampak-dampak negatif dari eksploitasi sumber daya alam dan ketidakberlanjutan ekonomi.

  • Pemberdayaan perempuan

Ekofeminisme mendukung pemberdayaan perempuan, baik secara ekonomi maupun sosial. Ini termasuk memberikan perempuan akses yang lebih besar terhadap pendidikan, sumber daya, dan peluang ekonomi, sehingga mereka dapat berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan dan pengambilan keputusan terkait lingkungan.

  • Kepentingan bersama dalam pelestarian lingkungan

Ekofeminisme menekankan bahwa semua orang, tanpa memandang gender, memiliki kepentingan bersama dalam menjaga lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, ekofeminisme mendorong kerja sama antara semua individu dan kelompok, tanpa memandang gender, dalam upaya untuk melindungi planet ini.

Gagasan ekofeminisme bertujuan untuk mengubah pandangan dan perilaku yang merusak lingkungan dan mendukung kesetaraan gender. Ini adalah pendekatan yang holistik yang memandang lingkungan dan perempuan sebagai bagian integral dari perjuangan untuk keberlanjutan dan keadilan sosial.

Baca juga: Ibu Rumah Tangga, Kelompok Rentan Risiko HIV/AIDS

Perempuan dan pelestarian lingkungan

Jika melihat sejarah peradaban, perempuan sudah menjadi garda terdepan yang melestarikan lingkungan melalui budidaya tanaman untuk dikonsumsi. Perempuan juga bertanggung jawab dalam mengatur siklus pertanian agar semakin berkembang. 

County Director Wildlife Conservation Society, Noviar Andayani mengatakan bahwa kelestarian alam akan berhasil jika berada dikelola oleh perempuan. Perempuan melakukan kolaborasi untuk melestarikan alam melalui cara tradisional dan modern yang unik.

Sebagai contoh, masyarakat papua dan Maluku yang melestarikan lingkungan dengan menjaga mutu dan populasi melalui hukum adat yang dijadikan sebagai pedoman. Lewat tradisi ini, perempuan memanfaatkan haknya untuk bekerja sama dengan seluruh pihak termasuk laki-laki untuk melestarikan lingkungan.

Selain itu, perempuan dapat mewartakan tentang pentingnya melestarikan alam dengan menggunakan pendekatan dari segi ilmiah dan budaya yang berkembang. Hal ini karena minimnya jumlah jurnalis yang mengangkat isu perubahan iklim sehingga masyarakat masih belum menyadari pentingnya isu lingkungan. Belum lagi, jurnalisme yang masih dikaitkan dengan dunia maskulin meskipun jurnalis perempuan di isu lingkungan semakin berkembang.

Faktor lain yang ditemukan adalah minimnya peneliti perempuan dalam isu lingkungan karena akses listrik dan kebersihan yang masih terbatas. Meskipun begitu, jumlah peneliti perempuan di bidang pelestarian lingkungan dan perlindungan alam semakin meningkat setiap tahunnya. Selain melakukan penelitian, perempuan turut mendampingi dan mengedukasi masyarakat yang tinggal di tapak desa atau kampung tentang pentingnya isu lingkungan melalui perspektif yang berbeda.

Meskipun sudah banyak perempuan yang terlibat dalam isu lingkungan, keterlibatan perempuan masih perlu didorong lagi terutama di daerah terpencil. Langkah ini digunakan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam melestarikan lingkungan seperti pengelolaan hutan, menjaga kebersihan sungai, dan lainnya. 

Upaya meningkatkan kesetaraan gender di bidang lingkungan

Keterlibatan perempuan dalam sektor lingkungan masih perlu ditingkatkan. Kultur patriarki yang masih kental telah membatasi perempuan untuk berkontribusi langsung dalam melestarikan lingkungan sekitarnya. Padahal, perempuan telah menciptakan banyak perubahan besar terhadap lingkungan sejak peradaban kuno. 

Untuk mengatasi hal ini, beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah, kelompok, atau individu diantaranya:

  • Meningkatkan kerjasama antara perempuan dan laki-laki dari segala segala usia untuk berpartisipasi dan memberikan ide dalam program atau proyek lingkungan dan perubahan iklim. Untuk mendukung hal ini, Green Climate Fund (GCF) membuat proyek perubahan iklim yang melibatkan perempuan dan laki-laki dalam programnya untuk meningkatkan pelestarian lingkungan yang responsif terhadap gender.
  • Menggunakan keahlian dan ilmu yang dimiliki perempuan selama proses pelestarian lingkungan untuk merancang strategi pengurangan risiko bencana. Hal ini bertujuan untuk mengurangi angka risiko bencana justru lebih merugikan perempuan. Selain itu, perempuan memiliki pendekatan yang lebih efektif dalam mengurangi risiko bencana dan meningkatkan kualitas lingkungan sekitarnya.
  • Terus meningkatkan partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan di bidang lingkungan. Untuk mencapai kesetaraan gender dalam sektor lingkungan, diperlukan partisipasi perempuan selama proses pengambilan keputusan untuk meningkatkan keberhasilan dalam proses keberlanjutan lingkungan. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah memberdayakan perempuan melalui pendidikan, sosialisasi, pelatihan atau menghilangkan hambatan yang dialami perempuan dalam program pelestarian lingkungan seperti penghijauan atau pengelolaan sampah. (**)

Sumber:

  • Afkar Aristoteles Mukhaer, 2022. “Bagaimana Peran Perempuan Indonesia di Bidang Pelestarian Lingkungan?”, dalam Nationalgeographic
  • Inayah Putri Wulandari, 2021. “Perempuan, Pembangunan, dan Lingkungan,” dalam detiknews

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

gerakan perempuan, perempuan dan hutan, perempuan dan lingkungan

Artikel Lainnya

Benarkah Perempuan Pengguna paylater terbanyak

Benarkah Perempuan Menjadi Pengguna Paylater Terbanyak?

Perempuan dan Fenomena Glass Ceiling di Dunia Kerja  

Sumatera, Darurat Kekerasan Seksual

Leave a Comment