Home » News » Perempuan Generasi Z: Antara Dorongan dan Beban Ganda

Perempuan Generasi Z: Antara Dorongan dan Beban Ganda

Bincang Perempuan

News

Generasi Z dan fenomena “Pamer” di Media Sosial

bincangperempuan.com– Generasi Z adalah generasi yang lahir dari pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, di mana tanggal pastinya bervariasi tergantung pada penulis yang dipilih, tetapi yang paling umum adalah 1995–2010. Gen Z dikenal sebagai generasi “digital native” sejati pertama (Lanier, 2017), yang berarti usia generasi z sekarang kisaran dari 13 hingga 28 tahun.

Berdasarkan temuan tersebut, generasi z memiliki karakter lebih terbuka dengan perbedaan dan jiwa toleransi mereka sangat tinggi. Dikarenakan Perkembangan teknologi berkembang pesat di era generasi z ini maka tidak mengherankan  jika generasi ini sangat dekat dengan teknologi. Dampaknya, gen z terbilang terhubung satu dengan lain melalui media sosial.

Tidak hanya itu, gen z juga lebih terbuka dengan perbedaan karena mereka bisa mengakses berbagai informasi dari internet dengan mudah, berbeda dengan generasi sebelumnya yang membutuhkan banyak upaya untuk mengeruk informasi yang ada. Namun, fenomena generasi z yang terhubung erat dengan media sosial membuat budaya flexing atau pamer kerap terjadi dan berimbas pada pengikut di sosial medianya.

Nuha (24), generasi Z yang sehari-hari dia aktif sebagai content writer menyampaikan hal-hal yang akan membuat dirinya merasa insecure.

“Tingkat insecure bertambah ketika melihat orang-orang bisa lebih cepat berkembang secara karir dan akademik dibanding kita,” terang Nuha.

Mengunggah apapun kegiatan hingga pencapaian, mengakibatkan beberapa tekanan baru untuk generasi sekarang terlebih lagi untuk generasi z. Efeknya akan ada penghakiman pada diri sendiri. Merasa bahwa diri sendiri lebih terbelakang dibanding orang lain, praduga ini muncul hanya dari sebuah unggahan di sosial media.

Penilaian diri sendiri inilah yang banyak membuat perempuan pada umumnya mendapata banyak tekanan. Tekanan untuk menjadi wanita karir seperti kebanyakan postingan yang dilihatnya atau tekanan berhubungan dengan tingkat pendidikan seperti yang dikutip dari pernyataan Nuha.

Nuha mengatakan bermain sosial media membuat dia sangat terganggu karena perasaan harus mengikuti setiap trend atau perubahan yang muncul. Namun di sisi lain Nuha mengungkapkan bahwa sosial media juga berperan penting agar dirinya selalu terhubung dengan keluarga maupun teman yang tinggal jauh terpisah.

Perempuan Generasi Z VS Budaya Patriarki Era Modern

Di era sekarang, generasi Z memiliki kesempatan lebih terbuka khususnya bagi perempuan. Perempuan diberikan kebebasan lebih besar untuk berkarya, seperti salah satunya Putri. Dia aktif sebagai penulis di komunitas dan aktif menulis di website pribadinya. Ternyata di era generasi z sosial media bisa memberdayakan perempuan agar mereka memililiki ruang guna memberikan suara mereka.

Kendati demikian, dia merasa bahwa masih banyak tantangan yang ia rasakan meskipun saat ini perempuan terlihat lebih bebas menentukan hidupnya. Budaya partriarki era modern saat ini nyatanya masih tetap memberikan beban penuh rumah tangga kepada perempuan. Di satu sisi perempuan diberikan hak untuk berkarir dengan catatan terkadang harus dapat memberikan pembuktian yang besar karena perempuan kerap dinilai melawan kodrat ketika bekerja sehingga harus membuktikan dirinya layak baru keputusannya untuk bekerja diterima- namun sisi lain ia juga masih dibebankan pada urusan rumah tangga yang besar.  

Tentu saja itu tidak salah, memiliki harapan agar perempuan bisa masuk ke dalam berbagai peran sekaligus. Namun, pada kenyataanya untuk menyeimbangkan antar pekerjaan serta keluarga bukanlah hal mudah. Hal inilah yang kemudian membuat perempuan kerap kali harus mengorbankan jenjang karirnya, seperti menjadi pemimpin, karena harus memprioritaskan keluarga. Hal ini membuat perempuan memiliki beban ganda lebih banyak dari laki-laki.

Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, beban ganda adalah beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja di ranah publik, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di ranah domestik.

Contohnya terjadi pada Putri, dia tinggal di kota kecil, anak perempuan pertama dengan permasalahan kemiskinan struktural. salah satu penyebab dominan dari generational trauma yang putri alami berasal dari keluarga. Di awal sebuah keluarga dibentuk mereka tidak siap secara finansial. Sehingga praduga yang muncul di perasaan anak adalah mereka tidak bahagia dalam menjalani hubungan keluarga.

Dampak lainnya kepada Putri yaitu perasaan takut dan trauma untuk membangun sebuah keluarga, perasaan takut dan cemas jikalau anaknya nanti juga akan merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan.

Menurut Melanie English Ph. D, psikolog klinis, mengungkapkan bahwa jenis trauma ini biasanya sulit didefinisikan, diam, dan kerap tersembunyi.Namun, tanpa disadari itu tertanam pada hidup seseorang dan masuk ke dalam nilai-nilai yang diajarkan orang tua sejak anak masih usia dini hingga mereka dewasa,” terangnya. 

“Aku harus menjadi tulang punggung keluarga, namun di sisi lain keluargaku berharap aku memiliki kehidupan seperti seorang wanita pada umumnya. Yaitu, memiliki karir yang cemerlang dan berkeluarga,” lanjut Putri.

Tantangan “beban ganda” ini harus dituntaskan. Putri berharap perusahaan tidak mendiskriminasi perempuan terutama perihal regulasi terkait cuti biologis dan dia juga berharap perusahaan tidak hanya menerapkan kebijakan maternity leave atau cuti melahirkan tapi juga paternity leave dimana pria pun berhak menerima waktu cuti untuk menemani sang istri lebih lama setelah melahirkan.

Cuti hamil atau maternity leave sudah diterapkan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Ketenagakerjaan. Tapi istilah paternity leave dimana seorang ayah juga memiliki hak untuk cuti ketika istrinya melahirkan masih belum terdengar. Bahkan belum dibuat aturannya. Oleh sebab itu Putri berharap ada penegakan regulasi yang seadil-adilnya dan dari korporasi harus berperan dalam menerapkan peraturan yang tidak bersifat misoginis.

Kenyamanan untuk berperan di masyarakat, apakah sudah terjamin?

Seperti yang disampaikan sebelumnya, perempuan generasi z memiliki akses yang lebih terbuka terhadap peran publik. Ini tentunya memberikan kemudahan kepada perempuan untuk mengekspresikan dirinya di media sosial dan mengaktualisasi perannya di publik melalui berbagai karya, salah satunya lewat pekerjaan. Namun sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan kenyamanan perempuan belum begitu menunjukkan perubahan yang signifikan.

Berdasarkan data komisi Perempuan, tercatat dari Januari hingga November 2022 sudah ada 3.014 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan, tercantum 860 kasus kekerasan seksual di ruang publik dan 899 di ruang lebih personal. Bukankah ini masih memprihatinkan.

“Di era modern, seharusnya sebagai perempuan kami merasan aman dan nyaman terlepas dari kekerasan verbal maupun fisik,” pernyataan dari Nuha.

Perempuan generasi z memiliki kehidupan berbeda dari generasi sebelumnya. Dia di satu sisi didukung untuk berekspresi tapi di sisi lain diberikan ekspektasi tinggi untuk tetap menjalankan beban berlebihan sebagai seorang peermpuan. Belum lagi, ekspektasi untuk berkarya di dunia publik tidak didorong dengan pemberian kenyamanan yang layak pada perempuan. Untuk itu, sudah seharusnya dukungan pada keterlibatan perempuan di ranah publik juga didorong dengan dukungan pembagian peran yang adil bagi perempuan dan laki-laki di ranah domestik. (kunni alimatun)

gerakan perempuan

Artikel Lainnya

Bijak Memilih Daycare untuk Anak

Buka Akses Informasi Antisipasi Dampak Covid 19 Bagi Perempuan di 10 Desa Penyangga Situs Warisan Dunia

19 Tahun UU PKDRT, Mengapa Angka Pelaporan KDRT Masih Tinggi?

Leave a Comment