Roehana Koeddoes, Google Doodle Hari Ini

Roehana Koeddoes menghiasi Google Doodle, Senin (8/11). Roehana Koeddoes dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama dari Sumatera Barat.  Roehana Koeddoes membuat Koran dengan nama Soenting Melajoe. Soenting berarti perempuan dan kata Melajoe berarti tanah Melayu. Terbit perdana 10 Juli 1912, Soenting Melajoe memiliki jargon “Soerat Chabar Perempoean di Alam Minangkabau”

Roehana Koeddoes lahir di Koto Gadang, Kecamatan Ampekkoto, Sumatera Barat pada tanggal 20 Desember 1884. Roehana Koeddoes wafat di usia 87 tahun pada 17 Agustus 1972.  Atas prestasinya, pada 7 November 2019 atas nama pemerintah Indonesia menobatkan Roehana Koeddoes sebagai pahlawan nasional langsung oleh Presiden Jokowi.

Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik

Roehana Koeddoes

Roehana Koeddoes merupakan anak dari Mohamad Rasjad Maharadja Soetan, yakni seorang jaksa pada masa tersebut. Roehana Koeddoes memiliki adik tiri yakni Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama.

Meskipun dilahirkan sebagai putri  Hoofd Djaksa Landraad, namun Roehana Koeddoes tidak leluasa mengenyam pendidikan. Keterbatasan akses sekolah membuat Roehana Koeddoes harus belajar membaca dan menulis secara otodidak.

Soenting Melajoe adalah koran yang diterbitkan atas inisiatif seorang perempuan bernama Siti Roehana (Koeddoes). Berangkat dari idealism agar pengetahuan dapat tersebar lebih luas kepada khalayak perempuan Minang. Meski kemunculannya tak lepas dari andil Datoek Soetan Maharadja, tapi ia menjadi koran perempuan pertama yang terbit atas inisiatif perempuan. Dari, oleh dan untuk perempuan

Seabad Pers Perempuan : Bahasa Ibu, Bahasa Bangsa  

Sejak usia 8 tahun, Roehana Koeddoes  sudah mengajari orang di sekitarnya. Hingga pada 11 Februari 1911, Roehana Koeddoes mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia. Melalui sekolah ini Roehana Koeddoes ingin memperluas wilayah ajarnya, tidak terbatas pada perempuan Minang saja.

Roehana Koeddoes sempat menjadi pemimpin redaksi surat kabar Oetoesan Melajoe, surat kabar milik Datuk Sutan Maharadja. Hingga akhirnya Roehana Koeddoes membuat korannya sendiri, Soenting Melajoe. Beberapa isu penting yang ada di Soenting Melajoe yakni mengkampanyekan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Termasuk bagaimana mendudukan perempuan pada posisi setara dengan laki-laki. Serta beberapa peristiwa politik maupun kriminal juga menghiasi Soenting Melajoe. (betty herlina)

*) dilansir dari berbagai sumber

Leave a Comment