Home » Isu » Feminisme » Sejarah Gerakan Feminisme di Indonesia

Sejarah Gerakan Feminisme di Indonesia

Cindy Hiong

Feminisme

Sejarah Gerakan Feminisme di Indonesia

Bincangperempuan.com- Feminisme adalah sebuah gerakan sosial dan politik yang berfokus pada kesetaraan gender dan hak-hak perempuan. Di Indonesia, gerakan feminisme memiliki sejarah panjang dan kaya, yang mencerminkan perjuangan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Sejarah ini dapat dibagi menjadi beberapa periode penting yang menunjukkan evolusi pemikiran feminis di Indonesia.

Periode Kolonial: Awal Kebangkitan Kesadaran Gender

Gerakan feminisme di Indonesia dapat ditelusuri kembali ke masa kolonial Belanda. Pada awal abad ke-20, perempuan Indonesia mulai menyadari perlunya pendidikan dan hak-hak yang setara. Salah satu tokoh penting pada masa ini adalah Raden Ajeng Kartini, seorang bangsawan Jawa yang dikenal karena pemikirannya yang maju tentang pendidikan dan emansipasi perempuan. Melalui surat-suratnya yang kemudian diterbitkan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Kartini menginspirasi banyak perempuan untuk memperjuangkan hak mereka.

Selain Kartini, tokoh lain yang berperan penting adalah Dewi Sartika dan Maria Walanda Maramis. Mereka mendirikan sekolah-sekolah untuk perempuan dengan tujuan memberikan akses pendidikan yang sama seperti laki-laki. Upaya ini merupakan langkah awal dalam membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai alat untuk mencapai kesetaraan gender.

Periode Kemerdekaan: Kontribusi Perempuan dalam Pembentukan Bangsa

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, peran perempuan dalam pembangunan bangsa semakin terlihat. Pada masa ini, banyak perempuan terlibat dalam politik dan pemerintahan. Salah satu tokoh penting adalah S.K. Trimurti, yang menjadi Menteri Perburuhan perempuan pertama di Indonesia. Trimurti aktif dalam memperjuangkan hak-hak pekerja, termasuk pekerja perempuan.

Pada tahun 1950-an, organisasi-organisasi perempuan seperti Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mulai bermunculan. Kowani menjadi wadah bagi berbagai organisasi perempuan untuk bersatu dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, termasuk hak politik, pendidikan, dan kesehatan. Gerakan ini semakin kuat dengan adanya Deklarasi Hak Asasi Manusia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1948, yang menginspirasi perjuangan hak-hak perempuan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Baca juga: Sebelum Membuang Pembalut, Ingat Hal Berikut Ini

Periode Orde Baru: Represi dan Kebangkitan Kembali

Pada masa Orde Baru (1966-1998), gerakan feminisme mengalami tantangan besar. Pemerintah Orde Baru, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, menerapkan kebijakan-kebijakan yang membatasi peran perempuan dalam politik dan masyarakat. Ideologi negara yang dikenal sebagai “Ibuisme Negara” mengarahkan perempuan untuk fokus pada peran domestik sebagai ibu dan istri, dan menekan partisipasi mereka dalam ranah publik.

Namun, meskipun mengalami tekanan, gerakan feminisme tetap bertahan dan beradaptasi. Pada tahun 1980-an dan 1990-an, muncul organisasi-organisasi non-pemerintah (LSM) yang fokus pada isu-isu perempuan, seperti Yayasan Kesehatan Perempuan dan Yayasan Jurnal Perempuan. LSM ini memainkan peran penting dalam advokasi hak-hak perempuan, termasuk kesehatan reproduksi, kekerasan dalam rumah tangga, dan hak-hak buruh perempuan.

Reformasi dan Era Modern: Kebangkitan Gerakan Perempuan

Reformasi tahun 1998 menandai titik balik dalam sejarah gerakan feminisme di Indonesia. Jatuhnya rezim Orde Baru membuka ruang bagi kebebasan berekspresi dan berorganisasi. Gerakan feminisme pun mengalami kebangkitan kembali dengan munculnya berbagai organisasi dan jaringan perempuan yang lebih beragam dan inklusif.

Salah satu momen penting pada era Reformasi adalah disahkannya Undang-Undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT) pada tahun 2004. UU ini merupakan hasil dari perjuangan panjang aktivis perempuan yang mendesak pemerintah untuk memberikan perlindungan hukum terhadap perempuan yang menjadi korban kekerasan. Selain itu, gerakan feminisme di Indonesia juga berhasil mendorong pengesahan Undang-Undang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis pada tahun 2008, serta berbagai kebijakan yang mendukung kesetaraan gender di berbagai sektor.

Baca juga: Stalking Gebetan, Bentuk Cinta atau Obsesif

Feminisme Kontemporer: Tantangan dan Harapan

Saat ini, gerakan feminisme di Indonesia terus berkembang dengan menghadapi tantangan dan harapan baru. Isu-isu seperti kekerasan berbasis gender, kesenjangan ekonomi, dan representasi politik masih menjadi fokus utama. Media sosial telah menjadi alat penting bagi feminis Indonesia untuk menyebarkan kesadaran dan mobilisasi massa. Kampanye-kampanye seperti #MeToo dan #GerakBersama menunjukkan bagaimana feminis Indonesia menggunakan platform digital untuk melawan kekerasan dan diskriminasi.

Selain itu, gerakan feminisme di Indonesia semakin inklusif dengan melibatkan berbagai kelompok yang sebelumnya terpinggirkan, seperti perempuan pedesaan, pekerja migran, dan komunitas LGBT+. Organisasi-organisasi seperti Perempuan Mahardhika, Solidaritas Perempuan, dan Aliansi Laki-Laki Baru menunjukkan bagaimana gerakan feminisme berusaha menciptakan solidaritas lintas kelompok dan memperjuangkan kesetaraan yang lebih luas.

Sejarah gerakan feminisme di Indonesia adalah sejarah perjuangan panjang yang penuh dengan tantangan dan kemenangan. Dari masa kolonial hingga era modern, perempuan Indonesia telah berjuang untuk hak-hak mereka dan mencapai kemajuan yang signifikan. Meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, gerakan feminisme di Indonesia terus berkembang dan menunjukkan bahwa kesetaraan gender adalah tujuan yang dapat dicapai melalui kerja keras dan solidaritas. Gerakan feminisme di Indonesia bukan hanya tentang kesetaraan gender, tetapi juga tentang keadilan sosial, hak asasi manusia, dan membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Artikel Lainnya

Pentingnya Mendiskusikan Feminisme yang Plural dan Inklusif

Salah Paham tentang Feminisme yang Perlu Dihilangkan

Misogini dan Bagaimana Cara Melawannya

Leave a Comment