Stroberi, Siasat Cerdas Perempuan Desa

PANDEMI Corona virus Disease (Covid-19) memukul banyak sektor. Meski begitu, ia tak menyurutkan para perempuan di desa untuk kreatif. Mereka memiliki siasat sendiri bagaimana bertahan di masa sulit. Simak beberapa catatan yang menginspirasi dari para perempuan desa yang kini justru memetik rezeki selama pandemi.

Perempuan petani sayur di Desa Sumber Bening Kabupaten Rejang Lebong memiliki siasat cerdas untuk memenuhi kebutuhan dapur selama menunggu masa panen sayur tiba. Siasat itu berupa menanam tanaman stroberi di antara tanaman sayur yang usia panennya lebih lama.

“Karena buahnya bisa dipanen dengan rentang waktu dua hari sekali. Kebutuhan dapur sehari-hari keluarga saya mudah dipenuhi karena stoberi,” kata Ernawati (57) yang mengaku sudah 10 tahun mempraktikkan cara itu di kediamannya, Jumat, 2 Oktober 2020.

Resi Yoseva (39), perempuan lainnya mengakui jika menanam stoberi memang lebih menguntungkan dibandingkan dengan menanam sayur. Misalnya usia panen, tanaman ini cuma butuh waktu tiga bulan. Kemudian perawatannya yang tidak terlalu sulit,yang bisa dilakukan secara bersamaan saat memanen buah. Seperti melepas daun tua dan anak stoberi agar bisa berbuah lebih banyak.

“Kalau kita bisa merawat stoberi dengan baik maka kita bisa memanennya lebih dari setahun,” ujar Resi.

Ia mencontohkan pengalamannya menanam stroberi di areal kebun daun bawangnya yang mencapai 1.600 meter persegi. Dari luasan tanaman itu, ia bisa menyelipkan ratusan batang stroberi dengan jarak 30 sentimeter hanya dalam satu bedeng tanaman bawang sepanjang 20 meter. Hasilnya pun memang mengagumkan. Kata Resi, jika sedang di puncak masa panen. Stroberi miliknya bisa berbuah hingga 15 kilogram dan bisa dijual dengan harga Rp 30.000 per kilogram-nya. “Jadi dua hari sekali saya memperoleh uang Rp300 ribu,” kata Resi.

Bahkan, tambahnya, guna lebih memaksimalkan pendapatannya. Ia sekarang juga telah mengolah stroberi menjadi produk olahan lain berupa selai dan dodol, yang lebih lama umurnya. Dengan begitu, ia bisa memasarkan lebih jauh hasil taninya. Baik itu melalui media sosial seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram. “Banyak keuntungan yang saya peroleh dari menanam stoberi,” katanya.

Untuk Perempuan

Tanaman Stroberi, bagi warga desa memang sudah dianggap tanaman khas para perempuan. Ini berkaitan dengan penanganannya yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. “Stroberi lebih cenderung kepada pekerjaan perempuan karena perawatannya butuh kesabaran. Laki-laki palingan hanya menyiapkan lahan,” kata Shinta (35).

Di luar itu, kini bisnis stroberi yang banyak dijalankan oleh para perempuan di Desa Sumber Bening sudah menjadi produk unggulan dan mendapat tempat tersendiri. “Stoberi menjadi ciri khas jualan di sini karena mudah tumbuh. Pembeli pun kebanyakan dari orang luar. Dari Bengkulu, Linggau, dan Palembang,” kata Mintarsih (48).

Lewat itu juga kini para perempuan desa bisa mandiri dan memiliki pendapatan sendiri yang bisa menopang ekonomi keluarga. “Ini bisa disebut sebagai pendapatan,” kata akademisi Universitas Bengkulu Dr Titiek Kartika. (yunita)

*) Penulis adalah salah satu anggota KPPSWD yang ikut serta dalam workshop  Peningkatan Kapasitas Jurnalis Warga dalam Melakukan Peliputan Antisipasi Dampak Covid-19  yang diinisiasi PPMN dan Unesco.

Leave a Comment