Bincangperempuan.com- B’Pers pernahkah kamu belanja karena sedang stres atau cemas, tetapi ketika barangnya sudah ada di tanganmu, justru malah menyesal? Misalnya, begitu gaji baru cair, kamu membuka aplikasi belanja dan langsung tergoda dengan produk promo. Tanpa pikir panjang, transaksi berhasil, meski barang itu sebenarnya bukan kebutuhan mendesak. Fenomena inilah yang disebut doom spending—kebiasaan menghabiskan uang sebagai pelarian dari rasa cemas atau tekanan hidup.
Apa Itu Doom Spending?
Beberapa sumber menjelaskan bahwa doom spending adalah perilaku menghabiskan uang untuk mengatasi stres atau kecemasan, meskipun orang tersebut sadar akan kondisi ekonomi yang tidak menentu. Istilah ini mirip dengan doom scrolling—kebiasaan terus membaca berita buruk di media sosial—bedanya, doom spending menyalurkan rasa cemas lewat belanja yang impulsif.
Apa Bedanya dengan Self Reward?
Sekilas doom spending dan self-reward, tampak mirip, tetapi sebenarnya dua istilah ini lahir dari motivasi yang berbeda. Doom spending biasanya muncul dari rasa cemas, stres, atau pesimisme terhadap masa depan. Orang merasa masa depan terlalu suram untuk ditabung, sehingga lebih memilih menghabiskan uang di momen sekarang tanpa banyak pertimbangan. Pola ini seringkali berujung pada kondisi finansial yang semakin berat karena dilakukan sebagai mekanisme pelarian.
Sementara itu, self-reward lahir dari perasaan positif, misalnya setelah berhasil mencapai target kerja, menyelesaikan ujian, atau sekadar ingin merayakan pencapaian kecil. Self-reward cenderung lebih terkontrol karena ada alasan jelas di baliknya, dan bila dilakukan sewajarnya, bisa menjadi bagian dari perawatan diri (self-care).
Baca juga: Belajar Demokrasi dari Gen Z Nepal yang Pilih Perdana Menteri Lewat Discord
Benarkah Gen Z Gemar Melalukan Doom Spending?
Sebuah studi dari Intuit Credit Karma menemukan bahwa lebih dari seperempat (27%) orang Amerika melakukannya untuk mengatasi stres. Angkanya bahkan lebih tinggi pada generasi muda, sebanyak pada 35% Gen Z dan 43% milenial.
Menurut Kendall Meade, seorang certified financial planner di SoFi, kondisi ini muncul karena banyak anak muda merasa kehilangan harapan finansial. Harga rumah—baik untuk sewa maupun beli—melambung terlalu tinggi, ditambah beban utang pendidikan yang menjerat. “Banyak Gen Z dan milenial yang berpikir mereka tidak akan pernah mampu memiliki rumah sendiri. Akhirnya, mereka memilih menghabiskan sisa uang setiap bulan daripada menabung,” ujarnya kepada US News.
Sering kali doom spending disederhanakan sebagai gaya hidup konsumtif generasi muda yang tidak bisa menahan diri. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Banyak dari mereka tumbuh dalam kondisi ekonomi yang tidak ramah: biaya pendidikan makin mahal, gaji stagnan, dan peluang kerja tidak selalu menjanjikan. Dalam situasi ini, menabung untuk tujuan besar seperti rumah atau dana pensiun terasa seperti mimpi yang mustahil tercapai.
Di titik inilah doom spending muncul—bukan karena “boros” atau “ingin tampil gaya,” melainkan sebagai bentuk pelarian dari ketidakpastian. Sistem finansial yang mendorong konsumsi instan lewat paylater, iklan agresif, hingga budaya media sosial juga ikut memperkuat pola ini. Jadi, menyalahkan anak muda gagal beli rumah hanya karena nongkrong di kafe sama saja dengan menutup mata terhadap realitas ekonomi yang menekan mereka.
Baca juga: Cuma Temen, HTS, Situationship sampai FWB: Kenapa Hubungan Gen Z Penuh Label?
Tips Mengendalikan Doom Spending
Jika kamu pernah merasa tergoda untuk berbelanja hanya demi meredakan stres, kamu tidak sendirian. Namun, agar tidak terjebak dalam kebiasaan doom spending yang berlebihan, ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengendalikan dorongan tersebut. Rekomendasi berikut dirangkum dari US News dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Gunakan budget anggaran.
Mulai dari cara sederhana, misalnya aturan 50/30/20. Artinya, 50% pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan atau hiburan, dan 20% untuk tabungan atau tujuan jangka panjang.
2. Kenali emosi di balik pengeluaran.
Doom spending biasanya muncul sebagai pelarian dari stres. Sayangnya, rasa lega itu hanya sesaat. Penting untuk melatih kesadaran diri, coba perhatikan, apakah belanja impulsif dipicu rasa cemas, bosan, atau tertekan? Menyadari pemicunya bisa membantumu menemukan coping mechanism lain yang lebih sehat.
3. Otomatiskan kebiasaan baik.
Jangan hanya mengandalkan niat. Atur sistem yang membuatmu otomatis menabung atau membayar tagihan. Misalnya, sebagian gaji langsung dipotong untuk tabungan atau investasi sebelum sempat kamu belanjakan.
4. Cari hiburan gratis atau murah.
Kesenangan dan hiburan tidak selalu harus mahal. Jalan-jalan di taman, memanfaatkan perpustakaan umum, main game di rumah, nonton video edukatif di YouTube, atau sekadar mendengarkan musik juga bisa jadi pelepas stres yang ramah kantong.
5. Seimbangkan kebutuhan dan keinginan.
Memberi hadiah kecil untuk diri sendiri itu wajar. Masalah muncul kalau pengeluaran lepas kendali dan tidak masuk dalam perencanaan finansial. Menjaga keseimbangan antara self-reward dan tanggung jawab finansial adalah kunci agar tetap sehat secara emosional sekaligus finansial.
Pada akhirnya, doom spending adalah cermin dari beban hidup yang berat. Di tengah inflasi, ketidakpastian kerja, dan impian yang terasa semakin jauh, wajar kalau sesekali kita ingin mencari pelarian. Namun, belanja secara impulsif tidak akan benar-benar menyembuhkan rasa cemas itu.
Hal yang bisa kita lakukan adalah merawat diri dengan cara yang lebih berkelanjutan seperti mengatur aliran uang, dan sadar bahwa nilai kita tidak diukur dari barang yang kita beli. Di dunia yang sering membuat kita merasa tidak pernah cukup, memilih untuk bijak bisa jadi bentuk kecil dari perlawanan.
Referensi:
- Walrack, J. (2024, 24 Mei). What is ‘doom spending’ and how can you avoid it? U.S. News & World Report. https://money.usnews.com/money/personal-finance/spending/articles/what-is-doom-spending-and-how-can-you-avoid-it
