Bincangperempuan.com– Dulu, orang tua kita punya cara mudah melihat hubungan anak muda. Kalau ada laki-laki dan perempuan sering jalan bersama, lalu terlihat akrab, tebakannya adalah mereka berpacaran. Namun, generasi sekarang tampaknya lebih rumit. Pertanyaan sederhana “kalian pacaran?” justru sering dijawab dengan berbagai istilah baru: “Enggak kok, cuma teman,” atau “Cuma HTS,” “baru PDKT,” “situationship,” bahkan “FWB.”
Label-label baru ini semakin membingungkan, terutama bagi generasi milenial dan X yang tumbuh dengan konsep kencan lebih jelas seperti pacaran atau tidak pacaran. Lalu, mengapa generasi sekarang, terutama Gen Z, memilih menggunakan istilah-istilah abu-abu dalam urusan asmara?
Apa Saja Label Hubungan dalam Dunia Relationship Saat Ini?
Istilah Hubungan Tanpa Status (HTS) sudah lama dikenal, dahulunya milenial mungkin akrab dengan TTM atau Teman Tapi Mesra. tetapi kini muncul istilah lain yang lebih cair yaitu situationship. Merangkum dari Marriage.com Situationship sama dengan HTS tetapi tanpa kepastian. Hubungan ini punya kedekatan emosional, tetapi tak terikat komitmen seperti pacaran. Bahkan kedua belah pihak tidak membicarakan soal kesepakatan hubungan sama sekali, berbeda dengan HTS yang sama tahu saling suka. Situationship juga bisa berakhir kapan saja entah dengan kejelasan atau salah satunya meninggalkan. Karena sesuai namanya, tergantung situasi.
Selain itu, ada pula konsep Friends with Benefits (FWB). Dalam hubungan ini, dua orang tetap berteman, tetapi juga menjalin hubungan fisik tanpa melibatkan komitmen romantis. Bagi sebagian orang, FWB terasa lebih praktis karena bisa memenuhi kebutuhan intim sekaligus mempertahankan kebebasan pribadi.
Ada pula yang lebih jauh menantang norma tradisional: open relationship. Dalam hubungan yang terbuka, seseorang tetap punya pasangan utama tetapi sepakat boleh menjalin relasi intim dengan orang lain. Konsep ini jelas mengguncang pandangan lama tentang monogami, dan menuntut komunikasi serta kepercayaan yang sangat kuat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi sekarang tidak lagi merasa perlu menempelkan label pacaran sebagai satu-satunya bentuk sah hubungan. Mereka menciptakan spektrum baru, dari sekadar teman dekat seperti HTS, FWB, hingga open relationship.
Baca juga: Paradoks Mahasiswa: 40,5% Terlibat FWB tapi Edukasi Seks Tetap Jadi Tabu
Namun, Benarkah Gen Z Tidak Mau Menikah?
Di Indonesia, persepsi bahwa Gen Z enggan menikah cukup kuat. Namun, data justru menunjukkan nuansa berbeda. Indonesia Gen Z Report 2024 dari IDN Institute menemukan mayoritas Gen Z masih ingin menikah. Dari 51 responden Gen Z lajang, 73,7% menyatakan keinginan menikah, hanya 5,3% yang menolak tegas, sementara 21,2% masih ragu.
Data ini membantah stigma bahwa Gen Z sepenuhnya menolak institusi pernikahan. Meski begitu, mungkin akan banyak dari mereka memilih lambat memutuskan untuk menikah. Faktor finansial, kesiapan mental, serta perbedaan nilai hidup menjadi alasan utama. Di tengah derasnya konten media sosial tentang keruwetan rumah tangga, Gen Z lebih selektif dalam menentukan pasangan. Dengan kata lain, keinginan menikah masih ada, tetapi waktunya mungkin akan tertunda.
Tren Global: Karier, Keuangan, dan Ketidakpastian
Fenomena serupa terlihat di Amerika Serikat. Survei oleh Utah Marriage Commission dan Brigham Young University terhadap lebih dari 5.000 lajang usia 20–30 tahun menemukan bahwa pernikahan dan kencan bukan lagi prioritas utama. Kurang dari setengah responden menempatkan pernikahan sebagai prioritas hidup, sementara karier jauh lebih dominan.
Lebih lanjut, 72% laki-laki dan 75% perempuan menyebut keuangan sebagai hambatan utama untuk menikah. Bahkan, biaya berkencan saja dirasa membebani, dari aplikasi kencan hingga kencan langsung. Kekhawatiran terhadap inflasi membuat banyak anak muda merasa investasi finansial dalam hubungan romantis tidak sebanding dengan risikonya.
Selain itu ada faktor psikologis yakni rendahnya kepercayaan diri. Survei menunjukkan separuh laki-laki dan 44% perempuan merasa kurang percaya diri memulai hubungan romantis. Sebagian besar juga trauma oleh pengalaman buruk di masa lalu, membuat mereka enggan membuka diri lagi.
Baca juga: Cinta Tanpa Eksklusivitas, Mengenal Poliamori Lebih Dekat
Generasi Abu-Abu: Antara Kebebasan dan Hasrat
Dari fenomena ini, terlihat jelas bahwa generasi sekarang ingin menegosiasikan ulang makna hubungan. Mereka menginginkan keintiman, tetapi juga menjaga kebebasan. Mereka masih memimpikan pernikahan, tetapi dengan tempo lebih lambat dan syarat yang lebih ketat.
Label-label seperti HTS, FWB, atau situationship bukan sekadar tren bahasa gaul, melainkan cermin dari kebutuhan generasi kini yaitu ruang aman untuk dekat tanpa harus terikat.
Masyarakat mungkin bingung, bahkan khawatir. Namun, data menunjukkan mayoritas Gen Z tidak menolak cinta atau pernikahan. Mereka hanya menolak terburu-buru. Tekanan sosial untuk segera menikah justru memperlebar jurang antara ekspektasi orang tua dan realitas anak muda.
Hubungan manusia selalu berubah mengikuti zaman. Jika dulu pacaran adalah label dominan, kini kita hidup di era ada berbagai jenis label. Semua label itu lahir dari keinginan generasi sekarang untuk menjaga kendali atas hidupnya sendiri, di tengah realitas finansial, sosial, dan emosional yang semakin kompleks.
Daripada menghakimi, mungkin kita perlu belajar mendengar. Generasi muda bukan kehilangan arah, melainkan sedang mencari cara baru mencintai—yang sesuai dengan kebutuhan, prioritas, dan keberanian mereka. Dan mungkin, dalam kebebasan memberi label, justru ada upaya untuk lebih jujur pada diri sendiri dan orang lain.
Referensi:
- IDN Research Institute. (2024). Indonesia Gen Z Report 2024. IDN Media. https://cdn.idntimes.com/content-documents/indonesia-gen-z-report-2024.pdf
- Porter, D. (2025, March 25). Different types of relationship statuses and what they mean. Marriage.com. https://www.marriage.com/advice/relationship/relationship-status/
- Willoughby, B. (2025, August 11). Committed romance is scary for young adults. Deseret News. https://www.deseret.com/family/2025/08/11/committed-romance-is-scary-for-young-adults/
