Bahagia Lihat Pasangan dengan yang Lain, Kok Bisa? Mengenal Compersion, Kebalikan Cemburu

Ais Fahira

News

Bahagia Lihat Pasangan dengan yang Lain, Kok Bisa Mengenal Compersion, Kebalikan Cemburu

Bincangperempuan.com- Umumnya, ketika melihat pasangan bersama orang lain dalam konteks romantis, kita akan merasa cemburu. Terlebih jika orang lain tersebut mendapatkan perhatian lebih dari pasangan dibanding kita. Namun, pernahkah kamu atau mungkin seseorang yang kamu kenal justru merasa bahagia saat melihat pasangannya menjalin kedekatan dengan orang lain?

Mengenal Compersion

Perasaan positif ketika melihat pasangan terlibat dengan orang lain dikenal dengan istilah compersion. Istilah ini sering disebut sebagai “kebalikan dari rasa cemburu”. Dan pertama kali dikenal lewat komunitas Kerista di San Francisco pada akhir 1980-an, sebuah kelompok eksperimental yang mempraktikkan hubungan berbasis komunalisme dan poliamori.

Namun, secara esensial, compression bukanlah konsep yang sepenuhnya baru. Dalam ajaran Buddhisme, ada konsep serupa yang disebut mudita, yaitu rasa bahagia atas kebahagiaan orang lain tanpa rasa iri. Jika kamu pernah merasa tulus bahagia saat temanmu mendapat beasiswa, promosi, atau menemukan cinta, itu bentuk sederhana dari compersion juga.

Meskipun berasal dari komunitas poliamori, compersion tidak melulu eksklusif milik hubungan tersebut. Tetapi juga bisa muncul dalam berbagai bentuk non-monogami konsensual lainnya, seperti hubungan open relationship, swinging, atau bahkan poligami. Intinya, selama ada transparansi, komunikasi, dan persetujuan (consent) antara pihak-pihak yang terlibat, compersion bisa berkembang sebagai bentuk keintiman baru yang tidak selalu identik dengan kepemilikan.

Baca juga: Cinta Tanpa Eksklusivitas, Mengenal Poliamori Lebih Dekat

Apakah Mungkin Merasakan Compersion di Hubungan Monogami?

Psikolog Joli Hamilton, PhD, yang meneliti tentang relasi, mengatakan kepada Psych Central bahwa banyak orang dalam hubungan monogami mengalami compersion hanya saja mereka belum tahu istilahnya.

Menurutnya, compersion bisa muncul dari situasi-situasi yang juga berpotensi menimbulkan cemburu. Misalnya perasaan ini hadir ketika pasangan mengalami momen menyenangkan, seperti meraih pencapaian di tempat kerja, menjalin pertemanan yang sehat, atau mendapatkan dukungan dari lingkaran sosialnya.

Selain itu, compersion juga bisa muncul dalam momen transisi. Dalam relasi monogami yang sudah tidak lagi terikat secara emosional atau komitmen jangka panjang, salah satu atau kedua pihak mungkin menemukan kedekatan baru di luar hubungan. Alih-alih marah atau merasa kehilangan, ada kalanya seseorang justru merasa lega, bahkan bahagia, melihat mantan pasangannya menemukan orang yang membuatnya bahagia. Dalam konteks ini, compersion mengakui bahwa kebahagiaan orang yang kita cintai adalah hal terbaik, meskipun bukan bersama kita.

Manfaat Compersion dalam Hubungan

Sebuah studi tahun 2021 dalam Archives of Sexual Behavior menunjukkan bahwa antisipasi terhadap compersion berkorelasi dengan tingkat kepuasan hubungan yang lebih tinggi. Dalam relasi konsensual non-monogami, mereka yang merasakan compersion cenderung mengalami lebih sedikit kecemburuan dan konflik. Namun, manfaat ini tak terbatas pada mereka yang menjalani hubungan terbuka.

Bahkan pada pasangan monogami, pengalaman langsung melihat pasangan menjalin relasi atau kedekatan emosional di luar hubungan inti, seperti persahabatan yang sangat dekat atau keberhasilan individu dapat memicu rasa compersion. Ini membantu individu menyadari bahwa emosi manusia itu kompleks.

Lebih lanjut, penelitian ini menggarisbawahi bahwa compersion bisa menjadi indikator dari emotional maturity dalam hubungan. Ketika seseorang mampu merayakan kebahagiaan orang lain tanpa merasa terancam, artinya ia sudah membangun rasa aman dalam dirinya dan dalam hubungan yang dijalani.

Tak hanya itu, compersion juga berkontribusi pada:

  • Penguatan komunikasi: Karena hubungan yang terbuka terhadap rasa compersion biasanya dilandasi komunikasi yang jujur dan terbuka tentang emosi, batasan, dan harapan.
  • Pengurangan konflik berbasis ego: Ketika hubungan tidak didasarkan pada rasa kepemilikan atau kompetisi, ruang untuk konflik karena rasa insecure bisa berkurang.
  • Peningkatan empati: Merasakan bahagia atas kebahagiaan orang lain memperkuat kemampuan empatik, yang penting bukan hanya dalam cinta romantis, tapi juga dalam relasi sosial lain.

Dengan kata lain, compersion bisa menjadi jalan untuk membangun hubungan yang lebih sehat, setara, dan dewasa baik dalam bentuk monogami maupun non-monogami.

Baca juga: Kasus Gisèle Pelicot Membuka Fakta, Tak Ada Ruang Aman Bagi Perempuan

Bagaimana Rasanya Compersion?

Secara fisik, compersion bisa terasa seperti kehangatan di dada, perut yang rileks, leher dan bahu yang ringan, atau sensasi geli menyenangkan di jari. Mengenali sinyal-sinyal fisik ini bisa membantu kita lebih sadar akan perasaan yang kita alami.

Namun, perlu diketahui bahwa compersion dan cemburu bukanlah dua emosi yang saling meniadakan. Justru keduanya bisa hadir bersamaan. Misalnya, jika kamu dan pasangan sama-sama menunggu promosi kerja dan hanya pasanganmu yang berhasil. Kamu mungkin merasa senang melihatnya bahagia, tetapi juga sedikit kecewa karena kamu tidak mendapatkan hal yang sama. Mengalami kecemburuan dan compersion secara bersamaan justru menunjukkan bahwa kamu manusia dengan emosi yang kompleks.

Mengapa Kita Perlu Tahu tentang Compersion?

Selama ini kita lebih sering diajarkan bahwa cinta identik dengan rasa cemburu, posesif, kompetisi dan dorongan untuk memiliki. Compersion menawarkan sudut pandang berbeda, bahwa mencintai seseorang juga bisa berarti ikut merayakan kebahagiaannya, bahkan ketika kebahagiaan itu bukan berasal dari kita.

Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Erich Fromm dalam The Art of Loving (1956). Fromm menyatakan bahwa cinta seharusnya bersifat aktif dan membangun, bukan tentang kepemilikan. Menurutnya cinta bukanlah soal “memiliki” orang lain, melainkan tentang menjadi, tumbuh bersama, memberi, dan memahami. Jika cinta direduksi hanya pada kepemilikan, maka cinta ikut beroperasi dalam logika pasar, yaitu siapa yang memiliki lebih banyak akan dianggap lebih berharga.

Memahami compersion bisa menjadi pintu masuk untuk membongkar cara-cara lama dalam menjalin hubungan. Dalam relasi apa pun baik romantis, pertemanan, maupun keluarga. Compersion bisa mengajarkan bahwa relasi sehat bukan tentang siapa yang paling dibutuhkan atau paling dimiliki, melainkan tentang bagaimana kita bisa hadir tanpa menguasai. Dengan adanya kejelasan batas dan persetujuan bersama (consent), kita dapat membangun hubungan yang sehat tanpa perlu terus-menerus diliputi rasa takut kalah bersaing, kecemasan ditinggalkan, atau hasrat untuk mengontrol.

Compersion mengingatkan kita bahwa kebahagiaan orang yang kita cintai tidak harus mengancam kebahagiaan kita sendiri. Justru, ketika kita mampu merasa bahagia atas kebahagiaan orang lain, kita sedang mewujudkan bentuk cinta yang dewasa.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Tren Tube Girl

Pro dan Kontra, Fenomena Tube Girl 

Asam Manis, Jadi Jurnalis Perempuan di Bengkulu

Akhiri stigma perawan tua pada perempuan lajang

Akhiri Stigma ‘Perawan Tua’ pada Perempuan Lajang

Leave a Comment