Kenapa Bulu Ketiak Perempuan Dianggap Masalah?

Ais Fahira

News

Kenapa Bulu Ketiak Perempuan Dianggap Masalah

Bincangperempuan.com- Dari pencukur bulu ketiak, wax sampai perontok bulu mungkin sudah akrab kita temui di rak toko dan iklan kecantikan. Guna produk-produk tersebut tidak lain dan tidak bukan untuk membabat bulu atau rambut tubuh, terutama ketiak. Tapi sebenarnya sejak kapan para perempuan melakukan ini? Iklan-iklan dan berbagai anggapan yang beredar mengharuskan bahwa perempuan yang bersih harus memiliki ketiak mulus dan cerah. Jika tidak, mereka akan dinilai jorok dan kurang mengurus diri. Namun, sejak kapan pemikiran ini muncul? Sejak kapan bulu ketiak perempuan dianggap masalah?

Sejarah Perempuan Mencukur Bulu Ketiak

Pada awal abad ke-20, mencukur bulu ketiak bukanlah kebiasaan umum. Perempuan pada masa itu mengenakan pakaian yang menutupi hampir seluruh tubuh, sehingga bagian seperti kaki dan ketiak jarang terlihat. Karenanya, menghilangkan bulu di area tersebut bukanlah prioritas. Produk perontok bulu biasanya hanya digunakan oleh aktris, penari, atau dalam konteks medis.

Merangkum dari Vox, perubahan dimulai sekitar tahun 1915, ketika majalah Harper’s Bazaar mulai menampilkan iklan krim perontok bulu yang menargetkan area ketiak. Hal ini beriringan dengan tren busana tanpa lengan yang terinspirasi dari gaya Yunani-Romawi. Karena lengan dan ketiak perempuan  terekspos, industri kecantikan lantas menciptakan narasi bahwa bulu ketiak tidak indah dan harus dihilangkan.

Industri pencukur pun tak ketinggalan, pada tahun 1917 ada iklan dari Gillette. Iklan tersebut menampilkan alat cukur khusus perempuan sebagai alat yang digunakan oleh “perempuan yang terawat” untuk menjaga ketiak tetap halus dan putih.

Kemudian seiring berjalannya waktu, teknologi baru seperti razor dengan pisau sekali pakai dan krim cukur instan juga membuka pasar yang lebih luas. Perempuan didorong untuk mengikuti tren mencukur demi terlihat modis dan diterima secara sosial.

Hingga pada tahun 1940-an, mencukur kaki dan ketiak telah menjadi norma. Majalah Harper’s Bazaar menulis bahwa bulu kaki tak seharusnya terlihat di kampus, bahkan menyarankan pemberian hukuman kepada mahasiswa perempuan yang tidak mencukur. Bahkan, pada dekade 1960-an, sebanyak 98 persen perempuan Amerika usia 15–44 tahun mengaku rutin menghilangkan sebagian rambut tubuh mereka.

Baca juga: Bukan Revenge Porn, Tapi Non-Consensual Intimate Image

Normalisasi Tubuh Tanpa Bulu: Antara Estetika dan Kapitalisme

Berdasarkan sejarah tersebut, standar kecantikan dari iklan secara aktif membentuk konstruksi sosial. Iklan-iklan tersebut tidak hanya menyesuaikan diri dengan preferensi publik, melainkan memberitahu publik apa yang seharusnya dianggap menarik. Dari situ kita bisa melihat bahwa tuntutan untuk mencukur bulu ketiak bukanlah kebutuhan alamiah atau estetika murni, melainkan hasil dari konstruksi budaya yang dimotori oleh industri.

Dalam artian tubuh perempuan dijadikan ladang kapital. Semakin banyak “masalah” yang ditemukan di tubuh perempuan, semakin banyak produk yang bisa dijual. Bulu tubuh? Diberi label “jorok.” Kulit gelap? Disebut “tidak cantik.” Pori-pori? Harus disamarkan. Selulit? Dianggap cacat. Padahal, semua hal itu sangat manusiawi. Tapi, ketakutan dan rasa malu dibuat agar perempuan terus membeli solusi.

Padahal, Bulu Ketiak Itu Normal

Rambut atau bulu ketiak memiliki berbagai fungsi alami yang kerap diabaikan. Di antaranya: melindungi kulit dari gesekan, membantu mengeluarkan feromon, hingga menjaga kelembaban tubuh. Selain itu, rambut tubuh juga berperan dalam memperkuat fungsi sensorik kulit, membantu mengatur suhu tubuh, serta melindungi kulit dari luka akibat gesekan atau iritasi saat bercukur.

Sayangnya, seluruh fungsi tersebut malah dikesampingkan demi memenuhi standar kecantikan bahwa tubuh perempuan harus mulus, putih, dan terlihat “bersih.” Padahal, kebersihan tidak bisa disamakan dengan ketiadaan bulu. Tidak mencukur bulu ketiak bukan berarti jorok atau malas. Sementara itu, laki-laki justru tidak pernah dicap kotor hanya karena bulu ketiaknya dibiarkan tumbuh. Ini menunjukkan adanya standar ganda yang bias gender dalam cara kita memandang rambut tubuh.

Baca juga: Body Dissatisfaction, Ketika Tubuh Tak Sesuai Standar Layar Kaca

Saatnya Standar Kecantikan Diubah

Yang paling diuntungkan dalam standar kecantikan tanpa bulu adalah industri. Mereka memonopoli rasa percaya diri perempuan lewat iklan, lalu menawarkan produk sebagai penyelamat. Tubuh perempuan terus-menerus dikapitalisasi, seolah tak pernah cukup “layak” sebelum disentuh produk.

Alih-alih tunduk pada standar yang dibuat demi menjual, perempuan seharusnya diberi ruang untuk memilih dengan sadar, bukan karena tekanan sosial atau karena rasa malu, tapi karena keputusan pribadi.

Mencukur Itu Pilihan, Bukan Kewajiban

Mencukur bulu ketiak bisa jadi keputusan yang masuk akal, apalagi jika sudah terlalu panjang dan terasa mengganggu. Tetapi keputusan tersebut seharusnya datang dari kenyamanan personal, bukan karena tuntutan norma sosial atau rasa malu karena tidak ingin dianggap perempuan yang tak bisa merawat diri.

Menurut Dr. Shani Francis, asisten profesor klinis di University of Chicago Pritzker School of Medicine, bulu ketiak bukanlah penyebab bau badan. “Bau badan justru berasal dari bakteri yang berkembang di area ketiak yang lembab dan tidak bersih. Bulu ketiak memang dapat menjadi tempat bakteri menempel, tetapi mencukurnya hanya menghilangkan rumah si bakteri—bakterinya tetap ada. Jadi, meskipun ketiak dicukur habis, tanpa menjaga kebersihan tubuh secara menyeluruh, bau tetap akan muncul,” katanya kepada Health. Artinya, yang paling penting bukan ada atau tidaknya bulu ketiak, melainkan bagaimana seseorang menjaga kebersihan tubuhnya.

Pada akhirnya bulu ketiak bukan simbol kemalasan atau ketidakteraturan, melainkan bagian alami tubuh manusia. Menyebut perempuan “jorok” hanya karena memiliki bulu ketiak adalah refleksi dari standar kecantikan yang timpang dan bias gender.Mari berhenti menghakimi perempuan atas tubuh mereka sendiri. Tubuh perempuan bukan ladang bisnis, apalagi objek kritik massal.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Pengaduan PMI Perempuan Tahun 2022 Meningkat, Apa yang Terjadi?

Mengapa Perempuan Terlibat dalam Terorisme?

Terkendala KTP, Sulit Akses Layanan Kesehatan

Leave a Comment