Bincangperempuan.com- Awal tahun 2025, masyarakat Bengkulu dikejutkan oleh wacana pergantian julukan provinsi mereka. Selama ini dikenal luas sebagai “Bumi Rafflesia”, Bengkulu kini diusulkan berganti nama menjadi “Bumi Merah Putih.” Berselang waktu, saat ini hampir di setiap sudut kota Bengkulu sudah didominisi warna merah putih. Bahkan beberapa spot kota, berganti tulisan menjadi merah putih.
Usulan ini pertama kali disampaikan oleh Rektor Universitas Islam Negeri Fatmawati Soekarno (UIN FAS) Bengkulu, dan langsung mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Bengkulu. Ide tersebut juga dinilai sejalan dengan visi Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, yang ingin menghadirkan semangat baru bagi provinsi di pesisir barat Sumatera itu.
Alasan Perubahan Julukan: Simbol Perjuangan dan Nasionalisme
Mengutip dari Detik.com, Rektor UIN FAS, menilai penggunaan nama Rafflesia tidak lagi relevan karena berakar dari masa penjajahan. Nama itu diambil dari Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Bengkulu pada masa Hindia Belanda, yang kemudian diabadikan menjadi nama bunga langka Rafflesia arnoldii—bunga terbesar di dunia yang ditemukan di hutan Bengkulu.
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan mendukung pendapat tersebut. Menurutnya perubahan julukan daerah ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan bagian dari upaya membangun semangat baru di Bengkulu.
Ia juga menekankan bahwa simbol Rafflesia selama ini dianggap kurang tepat karena dikaitkan dengan masa penjajahan. “Nama-nama warisan kolonial tidak akan abadi di negeri kita. Pergantian ini sejalan dengan semangat dekolonisasi dan kebangkitan identitas bangsa,” tegasnya.
Baca juga: Setelah Dua Abad, Rafflesia Mekar di Tangan Peneliti Perempuan
Pandangan Pegiat Lingkungan: Identitas Ekologis Jangan Sampai Hilang
Namun, tidak semua pihak sepakat bahwa perubahan nama ini hanya membawa dampak positif. Salah satu suara kritis datang dari Sofian, pegiat lingkungan dari Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu.
Menurutnya, perubahan branding ini memang bisa dimaknai sebagai langkah strategis pemerintah provinsi, namun harus dilihat secara kritis dan proporsional.
“Saya memahami bahwa branding baru tersebut dimaksudkan untuk memperluas citra Bengkulu, tidak hanya berfokus pada satu ikon alam, tetapi juga mencakup nilai nasionalisme dan sejarah perjuangan. Tapi kekhawatiran saya, perubahan ini bisa menggeser perhatian publik dari kekuatan utama identitas ekologis Bengkulu, yaitu Rafflesia,” terangnya secara tertulis melalui pesan langsung di Instagram pada 17 Oktober 2025.
Selama puluhan tahun, Rafflesia telah dikenal luas sebagai ikon khas Bengkulu dan menjadi pembeda kuat di peta pariwisata nasional. Julukan Bumi Rafflesia bahkan telah melekat di berbagai aspek mulai dari promosi wisata, logo instansi pemerintah, hingga karya seni lokal.
“Bumi Rafflesia” sebagai Identitas Ekologis dan Wisata Alam
Bagi pegiat konservasi seperti Sofian, Rafflesia bukan sekadar bunga, melainkan simbol ekologis dan kultural yang unik. “Rafflesia harus terus dilestarikan dan digaungkan. Ia bukan hanya bagian dari sejarah Bengkulu, tapi juga aset ekologis yang langka di dunia,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah seharusnya tidak menghapus identitas yang sudah terbangun selama puluhan tahun, melainkan menjadikan kedua branding itu bersifat komplementer, bukan substitutif.
Ia mengusulkan agar Bengkulu dapat tetap mempertahankan keduanya, misalnya dengan nama “Bumi Rafflesia Merah Putih” atau dengan menggunakan dua slogan secara terpisah sesuai konteksnya. Julukan ‘Bumi Merah Putih’ bisa menonjolkan nilai perjuangan dan nasionalisme, sementara ‘Bumi Rafflesia’ tetap menjadi simbol ekologis dan pariwisata alam Bengkulu. Dengan begitu, identitas Bengkulu akan lebih kaya dan berlapis,” tambahnya.
Kekhawatiran Akan Hilangnya Fokus pada Konservasi
Ketika ditanya mengenai potensi dampak perubahan nama terhadap perhatian publik, Sofian tak menampik ada risiko. “Kemungkinan Rafflesia kehilangan sorotan dari masyarakat dan wisatawan bisa saja terjadi,” ujarnya.
Selama ini, branding Bumi Rafflesia telah membantu menarik wisatawan dan meningkatkan kesadaran publik terhadap konservasi puspa langka tersebut. Jika branding itu dihapus sepenuhnya, dikhawatirkan minat terhadap wisata ekologis dan konservasi bisa menurun.
Namun demikian, Sofian menegaskan bahwa KPPL Bengkulu akan tetap mempertahankan penggunaan slogan Bumi Rafflesia dalam kegiatan promosi wisata alam dan edukasi lingkungan. “Kami akan terus bekerja sama dengan BKSDA, Dinas Pariwisata, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), dan biro perjalanan wisata di Bengkulu. Karena bagaimanapun juga, Rafflesia ada di lambang Provinsi Bengkulu dan menjadi salah satu bunga nasional Indonesia,” jelasnya.
Menjaga Rafflesia Tetap Relevan
Untuk memastikan bunga langka ini tetap mendapat perhatian publik, Sofian mengusulkan beberapa langkah konkret. Pemerintah, komunitas, dan pelaku wisata dapat menjadikan Rafflesia sebagai sub-brand atau elemen pendukung dalam setiap promosi daerah. Misalnya, dengan tetap memasukkan simbol Rafflesia dalam logo, kampanye wisata, dan desain visual provinsi.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya edukasi publik melalui sekolah, kampus, maupun media sosial agar generasi muda tetap mengenal dan bangga terhadap puspa endemik Bengkulu.
“Pengembangan kawasan ekowisata yang terintegrasi dengan konservasi masyarakat lokal juga penting. Dengan begitu, Rafflesia bukan hanya jadi simbol, tapi juga sumber ekonomi dan kebanggaan warga,” kata Sofian.
Antara Nasionalisme dan Ekologi
Wacana perubahan branding Bengkulu menunjukkan dua arus besar yaitu semangat nasionalisme dan pelestarian ekologi. Di satu sisi, “Bumi Merah Putih” merepresentasikan semangat persatuan dan nilai perjuangan bangsa. Namun di sisi lain, “Bumi Rafflesia” telah lama menjadi simbol yang mengakar kuat secara historis, ekologis, dan emosional bagi masyarakat Bengkulu.
Keduanya sejatinya tidak harus saling meniadakan. Seperti kata Sofian, identitas yang kuat justru lahir dari kemampuan suatu daerah menggabungkan banyak lapisan makna nasionalisme, sejarah, dan alam tanpa kehilangan akar budaya maupun biodiversitasnya.
Dengan begitu, Bengkulu bisa tetap menjadi Bumi Rafflesia yang Merah Putih—daerah yang bangga akan nasionalismenya, namun tetap menjejak pada kekayaan alam yang menjadi jantung identitasnya.
Referensi:
- detikcom. (2025, Januari 30). Pemprov Bengkulu bakal ganti julukan Bumi Rafflesia jadi Bumi Merah Putih. Detik News. https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-7755826/pemprov-bengkulu-bakal-ganti-julukan-bumi-rafflesia-jadi-bumi-merah-putih/
