Bentang Alam Seblat dan Menyempitnya Ruang Hidup Gajah Sumatera

Ais Fahira

News, Lingkungan

Bincangperempuan.com- Di bawah naungan tajuk-tajuk pohon lanskap Bengkulu, suasana seolah menjanjikan kedamaian hutan hujan tropis Sumatera yang terisolasi. Gesekan dedaunan, derap langkah mahout, dan kibasan belalai gajah membelah keheningan di kawasan Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat. Namun, di balik kerindangan hijau yang tampak menenangkan itu, tersimpan riwayat kelam yang membayangi kelangsungan hidup raksasa berbelalai ini. Lanskap Seblat dan sekitarnya kini telah menjelma menjadi sebuah medan perang senyap tempat ruang gerak mereka terus digerus.

Kondisi bentang alam di Provinsi Bengkulu saat ini sedang berada dalam kondisi yang sangat kritis akibat tekanan kuat aktivitas manusia. Alih fungsi lahan hutan terjadi secara masif dan terus meluas dari tahun ke tahun tanpa kendali yang memadai. Kawasan hutan alami yang tadinya utuh dan terhubung luas kini terpecah-pecah menjadi potongan-potongan kecil akibat maraknya perambahan hutan ilegal serta ekspansi kepungan perkebunan kelapa sawit skala besar. Jalur jelajah atau koridor ekologis alami yang selama berabad-abad digunakan oleh kelompok gajah untuk bermigrasi, mencari sumber pakan, serta memelihara keberlanjutan genetik populasi kini terputus total oleh bentangan kebun monokultur dan permukiman.

Baca juga: Bengkulu Darurat Sampah: Jerit Warga, Aksi Sopir, dan Bara Kreativitas Masyarakat

Menyempitnya Ruang Hidup Gajah Sumatera

Penyempitan dan fragmentasi ruang hidup ini memicu konflik ruang yang tak terhindarkan antara manusia dan populasi gajah liar. Gajah-gajah yang kehilangan wilayah jelajah aslinya terdesak untuk melintasi kawasan perkebunan swasta, kebun masyarakat, dan permukiman warga demi mencari makan serta bertahan hidup. Sayangnya, kehadiran satwa yang dilindungi oleh undang-undang ini masih sering dipandang secara sepihak sebagai ancaman atau hama tanaman yang merugikan. 

Dampaknya, bentang alam ekologis yang dulunya merupakan rumah yang aman kini berubah menjadi labirin maut yang dipenuhi berbagai ancaman bagi gajah Sumatera.

Rekam jejak kematian gajah di Bengkulu mencatatkan duka yang teramat panjang, berdarah, dan terus berulang dari masa ke masa. Jejak ancaman kepunahan ini terpampanh dalam rentang waktu lebih dari satu dekade. Antara tahun 2007 hingga 2009, tragedi memilukan menghantam langsung jantung pusat konservasi di PLG Seblat. Tiga individu gajah jinak yang sangat berharga—diberi nama Pratama, Paula, dan Gia—menjadi korban pembantaian yang sangat keji oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Gading-gading gajah tersebut digergaji secara paksa menggunakan gergaji mesin (chainsaw), meninggalkan jasad mereka tergeletak membusuk. Tragisnya, hingga hari ini proses penegakan hukum atas kasus pembantaian gajah jinak di PLG Seblat mengendap dan berakhir sebagai “kasus gelap” tanpa ada satu pun tersangka yang berhasil diidentifikasi dan dijerat hukum.

Ancaman terhadap kelestarian populasi satwa ini tidak berhenti di situ dan terus berlanjut di habitat liar. Memasuki periode tahun 2017 hingga 2023, rentetan kematian gajah liar terus berlanjut di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Air Ipuh, Kabupaten Mukomuko. Dalam kurun waktu tersebut, setidaknya tercatat lima kasus kematian gajah betina di wilayah Mukomuko. Penyebab kematian satwa-satwa ini sangat mengenaskan, bervariasi mulai dari ditemukannya luka tembak senjata api hingga jejak luka terjerat tali baja pada bagian kaki. 

Namun, proses penanganan serta keterbukaan publik mengenai kasus-kasus pembunuhan ini terkesan sangat tertutup dan status hukumnya mengendap tanpa pernah dipublikasikan secara transparan.

Puncak duka kembali menghentak dunia konservasi pada April 2026 di kawasan Hutan Produksi (HP) Air Teramang. Tragedi paling menyayat hati terjadi ketika satu pasangan induk dan anak gajah ditemukan tewas bersamaan di area hutan. Keduanya tewas mengenaskan setelah dipaksa mengonsumsi zat kimia berbahaya beracun yang sengaja ditaruh oleh oknum tak bertanggung jawab. Hingga kini, penanganan kasus memilukan tersebut masih berada dalam tahap proses autopsi, menambah panjang daftar kelam kasus kematian gajah yang belum menemui kejelasan hukum.

Modus Operandi Keji: Metode Pembunuhan Terencana

Penelusuran mendalam di lapangan menunjukkan bahwa pembunuhan terhadap satwa dilindungi ini telah berkembang menjadi tindakan terencana menggunakan berbagai modus operandi yang sangat keji. Berbagai metode mematikan sengaja dirancang oleh pelaku kejahatan untuk melumpuhkan hingga membunuh gajah secara perlahan dan menyiksa.

Modus pertama yang sering ditemukan adalah penggunaan racun kimia pada pakan. Para pelaku sengaja menggantungkan sabun yang telah diisi bahan kimia mematikan di dahan-dahan pohon sepanjang rute perlintasan aktif gajah. Ketika gajah memakan pakan beracun tersebut, zat kimia merusak organ pencernaan secara fatal, menimbulkan penderitaan yang sangat menyakitkan hingga gajah akhirnya tewas.

Modus kedua dengan metode “sepatu gajah” atau penggunaan papan paku. Papan kayu tebal yang telah dipasangi puluhan paku tajam berukuran besar disembunyikan di balik serasah dedaunan di jalur lintasan gajah. Saat gajah menapakkan kakinya yang berat, paku-paku tersebut menembus telapak kaki, memicu infeksi berat yang fatal dan kelumpuhan.

Modus ketiga adalah pemasangan jerat sling berbahan kabel baja atau tali nilon bertekanan tinggi di koridor aktif. Ketika kaki gajah terjerat, rantai baja akan kian mengencang seiring pergerakan satwa, memotong jaringan kulit dan daging hingga menimbulkan luka membusuk. Gajah yang terperangkap biasanya tewas secara perlahan akibat infeksi parah serta kelaparan dalam waktu yang lama.

Tingginya angka kematian dan kelicikan modus operandi yang digunakan mempertegas akar masalah utama di Bengkulu: perambahan hutan yang membabi buta, kepungan perkebunan kelapa sawit, serta tingginya tingkat impunitas atau kurangnya penindakan hukum yang tegas. Tanpa penegakan hukum yang transparan dan perlindungan habitat secara konkret, gajah Sumatra di Bengkulu berada di ambang batas kepunahan total.

Akankah bentang alam Bengkulu benar-benar kehilangan raksasa lembut penjaga keseimbangan ekosistemnya, ataukah masih ada langkah nyata yang mampu menyelamatkan sisa populasi mereka sebelum semuanya terlambat?

Baca selengkapnya di teras.id 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Kuasai Tanah Rakyat, Perempuan Adat Menggugat  

Kuasai Tanah Rakyat, Perempuan Adat Serawai Menggugat  

Beban Ganda Pengasuhan dan Bias Gender Statistik: Mengapa Anak Tertelantar Berawal dari Hak Ibu yang Terabaikan?

Aesthetic Fatigue: Ketika Keindahan Justru Jadi Seragam

Leave a Comment