Bercanda soal Perceraian? Cobalah Memahami Keberanian Perempuan 

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Lagi-lagi perceraian publik figur jadi bahan perbincangan di jagat maya. Kali ini kabar datang dari Tasya Farasya yang mendadak jadi santapan warganet. Semua orang merasa perlu menanggapi rumah tangga orang lain, seakan-akan publik figur itu adalah tetangganya.

Komentarnya pun beragam, ada yang menunjukkan simpati, akan tetapi tak sedikit juga yang menanggapi dengan sinis. “Nikah besar-besaran ujungnya cerai juga,” “janda itu bukan aib tapi tanda kegagalan.” Seolah-olah setiap perceraian otomatis salah perempuan. Tapi, benarkah perceraian adalah tanda kegagalan?

Cerai Bukan Kegagalan, Tapi Keberanian

Pernyataan seperti “kalau sudah tahu cerai ngapain nikah?” menunjukkan pemahaman dangkal. Tidak ada orang yang menikah dengan niat untuk bercerai. Pernikahan dimulai dengan harapan dan komitmen. Mengaitkan pernikahan mewah dengan perceraian pun tidak relevan. Perceraian bisa terjadi pada siapa saja, dari pernikahan sederhana hingga yang paling megah. Argumen ini lebih bertujuan mengejek daripada memahami kompleksitas hubungan manusia. Menyudutkan perempuan sebagai pihak yang gagal adalah bentuk stigma yang tidak adil dan menyesatkan.

Sebuah penelitian dari Universitas Airlangga menunjukkan bahwa penyebab perempuan menggugat cerai sangat kompleks. Banyak yang bercerai bukan karena merasa gagal sebagai istri, melainkan karena KDRT, perselingkuhan suami, ketidakadilan dalam rumah tangga, tekanan keluarga, atau kurangnya komunikasi dan perhatian. Jadi perceraian merupakan hasil dari dinamika hubungan yang kompleks. 

Dengan kata lain, perceraian merupakan keputusan berani untuk menghentikan hubungan yang merugikan—sebuah tindakan yang sesungguhnya melawan norma patriarki yang menuntut perempuan tetap bertahan dalam situasi yang menindas. Seorang perempuan yang memilih cerai sedang menegaskan haknya atas hidupnya sendiri, sekaligus menolak hierarki gender yang menempatkan kepentingan suami atau keluarga lebih tinggi daripada keselamatannya.

Baca juga: Ketika Ibu Jeda Sejenak dari Beban Pengasuhan

Beban Ganda Perempuan dalam Perceraian

Namun, di Indonesia, stigma perceraian lebih banyak menimpa perempuan daripada laki-laki. Hal ini dipertegas oleh sebuah penelitian yang menemukan bahwa stigma yang melekat pada janda karena perceraian cenderung lebih berat dibanding janda karena kematian pasangan. 

Perempuan sering dicap gagal mengurus rumah tangga, kurang patuh, atau membawa aib keluarga. Sementara itu, laki-laki yang bercerai justru kerap dipersepsikan biasa saja, bahkan kadang mendapat citra mapan dan bebas memilih pasangan baru. Ketimpangan ini jelas menunjukkan bahwa stigma perceraian juga melibatkan isu ketidaksetaraan gender.

Label negatif ini menambah beban perempuan yang bercerai. Selain menghadapi komentar dan gosip, mereka kerap harus memikul tanggung jawab sebagai orang tua tunggal, sering kali tanpa dukungan finansial memadai dari mantan pasangan. Status janda juga kadang dijadikan bahan olok-olok, seolah-olah perempuan yang bercerai bisa dipandang remeh. Semua ini memperlihatkan bagaimana norma patriarki masih menahan perempuan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Stigma Janda: Narasi yang Mengutamakan Drama

Di media sosial, narasi perceraian kerap menyoroti perempuan sebagai “pihak yang gagal” atau “aib keluarga.” Fokus ini menutupi alasan-alasan substansial di balik perceraian, seperti KDRT, toxic relationship, atau penelantaran ekonomi. Banyak perempuan memilih berpisah demi keselamatan diri dan anak-anak mereka, tetapi cerita ini jarang terekspos karena masyarakat lebih tertarik pada “drama” daripada realitas pahit yang mendasari keputusan tersebut.

Sebuah penelitian menegaskan bahwa stigma terhadap perempuan bercerai sangat kuat. Perempuan berstatus cerai sering dianggap lemah, tidak mampu menjadi orang tua tunggal, gagal mengurus rumah tangga, atau bahkan berpotensi melakukan perilaku menyimpang. Stigma ini sering disertai candaan yang menutupi status mereka, seperti komentar yang merendahkan kemampuan mereka sebagai ibu maupun kepala keluarga.

Belum lagi dengan status mereka yang kerap dijadikan objek fantasi. Sebutan seperti “janda muda” atau “janda kembang” memperlihatkan bagaimana perempuan bercerai bisa dijadikan objek, atau fantasi seksual. Fenomena ini mencerminkan realitas patriarki yang membungkam suara perempuan dan mengurangi keberanian mereka untuk menentukan jalan hidup sendiri.

Dengan kata lain, narasi dramatis yang mengelilingi perempuan bercerai di media sosial maupun masyarakat luas bukan sekadar tidak akurat, tetapi juga berbahaya. Fokus yang salah ini menutup peluang publik untuk memahami kompleksitas perceraian sekaligus memperkuat ketidakadilan gender dengan menempatkan perempuan sebagai pihak yang selalu disalahkan.

Baca juga: Pergub Poligami ASN Jakarta: Kepastian Hukum atau Peneguhan Patriarki?

Dari Olok-olok ke Empati

Perceraian, terutama bagi perempuan, sering dijadikan bahan olok-olok dan stigma, padahal keputusan itu bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk keberanian menghadapi hubungan yang tidak sehat. Budaya patriarki dan norma sosial yang timpang membuat perempuan jadi sasaran utama ejekan, padahal sesungguhnya mereka sedang melawan struktur yang mengakar dan mengekang hak mereka.

Alih-alih mempermalukan, masyarakat perlu memandang perceraian dengan empati, menghargai keputusan perempuan, dan mengakui kompleksitas hubungan manusia. Perceraian bukan akhir, melainkan awal dari keberanian, kemandirian, dan hak perempuan untuk hidup tanpa dibungkam norma yang timpang. Mengkritisi stigma perceraian berarti memberi ruang bagi perempuan untuk berdiri tegak, dihormati, dan diakui sebagai pengendali hidupnya sendiri.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Indonesia di Board of Peace: Bebas Aktif atau Terseret Kepentingan Asing?

Mitos Soal Vagina yang Masih Banyak Dipercaya

Yakin #KaburAjaDulu Ini Dia Tanggapan Pemerintah dan Warganet

Yakin #KaburAjaDulu? Ini Dia Tanggapan Pemerintah dan Warganet

Leave a Comment