Bincangperempuan.com- Baru-baru ini, Jennifer Coppen dihujat netizen karena pergi ke luar negeri tanpa membawa buah hatinya, Kamari. Banyak yang menganggap Jennifer hanya sibuk pacaran dan mengabaikan anaknya. Bahkan, media memframingnya dengan judul sensasional seperti, “Kamari Menangis Rindu Ibunya, Jennifer Coppen Sibuk Pacaran dengan Justin Hubner di Amerika hingga Dihujat Netizen: Kecintaan Lu Jen!”
Padahal, sejak kapan liburan menjadi kejahatan, khususnya jika dilakukan oleh seorang ibu? Apalagi Jennifer adalah seorang single parent yang mungkin membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
Jeda dari Mengasuh Anak
Menjadi ibu adalah pekerjaan yang tak pernah ada habisnya. Tanggung jawab yang melekat pada perempuan dalam peran pengasuhan sering kali diambil begitu saja, tanpa ruang untuk bernapas. Banyak orang yang menganggap ibu adalah sosok yang tak boleh lelah, harus selalu hadir dalam segala aspek kehidupan anaknya. Namun, siapa yang bertanggung jawab atas kesehatan mental dan fisik ibu? Di tengah segala kesibukan mengasuh, banyak ibu yang terjebak dalam siklus kelelahan yang tak terlihat.
Fenomena seperti yang dialami Jennifer Coppen adalah salah satu bentuk dari tekanan yang dialami para ibu di seluruh dunia, terutama ibu tunggal. Waktu untuk diri sendiri—waktu untuk beristirahat dari tugas-tugas pengasuhan—bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan yang sangat penting untuk menjaga kewarasan seorang ibu. Namun, seringkali, keputusan untuk meluangkan waktu untuk diri sendiri justru disalahpahami dan dijadikan bahan hujatan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tekanan psikologis pada ibu tunggal sangat nyata dan serius. Mengacu pada penelitian oleh Lucie Schmidt, Lara Shore-Sheppard, dan Tara Watson yang menggunakan data dari National Health Interview Survey (NHIS) periode 2016–2018, ditemukan bahwa 32% ibu tunggal mengalami gangguan psikologis sedang hingga berat. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan ibu yang menikah, yang “hanya” sebesar 19%. Bahkan, ibu tunggal tercatat tiga kali lebih berisiko mengalami gangguan psikologis berat dibandingkan dengan ibu yang hidup dalam pernikahan. Data ini menjadi pengingat bahwa beban yang ditanggung ibu tunggal sangat kompleks, dan justru karena itulah, mereka sangat membutuhkan ruang untuk jeda—bukan untuk lari dari tanggung jawab, tetapi untuk bertahan dan terus mencintai dengan waras.
Baca juga: Perempuan Petani Kopi di Desa Batu Ampar Menghadapi Perubahan Iklim
Karir dan Pengasuhan: Ketika Keduanya Menuntut Perhatian
Kehidupan seorang ibu yang berkarier sering kali menuntut waktu yang tidak sedikit. Terkadang, kegiatan profesional seperti perjalanan dinas atau acara penting tidak memungkinkan untuk membawa anak. Apalagi bagi ibu yang juga seorang single parent, tugas mengasuh anak dan membiayai kehidupannya sering kali harus dipikul sendirian. Ini membuat waktu untuk diri sendiri menjadi sangat terbatas. Banyak ibu yang merasa terjebak dalam rutinitas yang menuntut pengorbanan tanpa batas. Mereka merasa harus menjadi “supermom” yang mampu mengatasi segala hal, namun sering kali lupa bahwa mereka juga manusia yang butuh istirahat.
Standar Ganda dalam Pengasuhan: Kenapa Ayah Tidak Dihujat?
Salah satu hal yang menarik dari peristiwa ini adalah munculnya standar ganda dalam pandangan masyarakat terhadap peran orang tua, terutama ibu. Ketika seorang ayah pergi berlibur atau terlibat dalam kegiatan pribadi, hal itu sering dianggap sebagai haknya dan tidak menimbulkan banyak pertanyaan. Namun, ketika seorang ibu melakukan hal yang sama, dia dianggap melalaikan tanggung jawabnya sebagai orang tua.
Ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memegang erat pandangan tradisional yang menempatkan perempuan sebagai “pengasuh utama.” Meskipun ayah juga memiliki peran penting dalam pengasuhan anak, seringkali perempuan yang dianggap paling bertanggung jawab. Padahal, pengasuhan yang efektif adalah hasil dari kerja sama kedua orang tua. Sayangnya, perempuan sering kali dipaksa untuk terus menerus berada dalam peran ini, dengan sedikit ruang untuk menjadi individu di luar identitasnya sebagai ibu.
Perbedaan perlakuan ini juga terkait dengan pandangan masyarakat yang menganggap bahwa perempuan yang bekerja dan memiliki kehidupan pribadi—apalagi yang berani mengambil waktu untuk dirinya sendiri—akan dianggap sebagai “egois.” Padahal, justru dalam banyak kasus, bekerja dan memiliki waktu pribadi dapat membuat seorang ibu lebih bahagia dan lebih mampu memberikan perhatian penuh kepada anaknya.
Baca juga: Peringatan Hari Ibu, Momentum Pergerakan Perempuan Indonesia
Saatnya Ubah Narasi: Menghentikan Ekspektasi Tak Realistis Terhadap Ibu
Apa yang terjadi pada Jennifer Coppen adalah contoh nyata dari bagaimana ekspektasi sosial terhadap ibu sering kali tidak realistis. Masyarakat cenderung melabeli ibu sebagai sosok yang harus terus-menerus mengorbankan dirinya demi anak-anaknya. Padahal, jika ibu tidak diberi kesempatan untuk merawat dirinya, siapa yang akan merawat anak-anaknya dengan penuh kasih? Ibu yang lelah fisik dan mentalnya akan kesulitan untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.
Oleh karena itu, kita harus mulai mengubah narasi ini. Ibu bukan mesin. Ibu berhak untuk memiliki waktu sendiri, beristirahat, dan mengejar kebahagiaan pribadinya. Ketika seorang ibu mengambil jeda dari pengasuhan, itu bukan berarti dia tidak mencintai anaknya atau mengabaikan tanggung jawabnya. Sebaliknya, itu adalah bentuk tanggung jawab yang lebih besar terhadap diri sendiri, yang pada gilirannya juga akan memberi manfaat lebih besar bagi anak-anaknya.
Ibu bukanlah mesin pengasuhan. Dan jika liburan menjadi bentuk dosa, mungkin yang perlu disembuhkan bukan ibunya—tapi konstruksi sosial kita yang pincang.
Menjaga Keseimbangan: Hak Ibu untuk Merawat Diri
Keseimbangan antara pengasuhan dan kehidupan pribadi adalah hal yang sangat penting. Bagi ibu muda atau ibu tunggal, pengasuhan bukanlah pekerjaan yang ringan. Mereka berhadapan dengan tekanan yang sangat besar dari berbagai sisi, baik itu ekonomi, sosial, maupun emosional. Oleh karena itu, memberi ibu waktu untuk merawat dirinya bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan, melainkan hak yang harus dihargai.
Pada akhirnya, ibu yang bahagia dan sehat adalah ibu yang dapat memberikan kasih sayang yang lebih besar dan perhatian yang lebih tulus kepada anaknya. Jangan biarkan tekanan sosial mengurangi kualitas pengasuhan yang bisa diberikan ibu hanya karena mereka diberi sedikit ruang untuk bernapas.
Referensi:
- Brookings Institution. (2024, Maret 5). Single mothers experience high rates of psychological distress — the safety net can help. Diakses dari https://www.brookings.edu/articles/single-mothers-experience-high-rates-of-psychological-distress-the-safety-net-can-help/
- MSN Indonesia. (2024, Agustus 28). Jennifer Coppen dituduh kecintaan ke Justin Hubner, Kamari nangis kejer sudah 2 minggu ditinggal ibunya. Diakses dari https://www.msn.com/id-id/berita/other/jennifer-coppen-dituduh-kecintaan-ke-justin-hubner-kamari-nangis-kejer-sudah-2-minggu-ditinggal-ibunya
