Bukan Sekadar Cadangan: Second Account Jadi Ruang Aman Gen Z di Media Sosial

Elsa Salsabila

News, Data

Bincangperempuan.com– “Instagram sangat penting bagi kehidupan saya, dan second account jadi ruang aman untuk berbagi,” kata Responden I saat ditemui Bincang Perempuan, Rabu (18/02/2026).

Bagi banyak Gen Z (generasi yang lahir antara tahun), second account bukan sekadar akun cadangan. Akun ini menjadi ruang yang terasa lebih aman untuk mengekspresikan diri secara jujur dan apa adanya. Di sana, mereka tidak merasa harus selalu tampil sempurna seperti di akun utama. Mereka juga lebih nyaman karena bisa memilih siapa saja yang dapat melihat unggahan dan sisi personal diri mereka, sehingga rasa takut terhadap penilaian orang lain berkurang.

Responden I mengaku menggunakan second account sebagai tempat untuk mengekspresikan diri dengan lebih bebas dan spontan. Sementara itu, akun utama ia gunakan untuk kebutuhan branding agar tetap terlihat rapi dan terkurasi. Karena itu, ia merasa lebih nyaman membagikan hal-hal personal di akun kedua.

Menurutnya, keinginan untuk berekspresi tanpa tekanan menjadi alasan utama ia lebih aktif di second account. Di akun tersebut, ia merasa lebih leluasa mengunggah hal-hal random dan menyenangkan tanpa khawatir mendapat penilaian negatif.

Hal serupa juga dirasakan Responden II, perempuan berusia 22 tahun. Ia mengaku memiliki second account, meski tidak sesering Responden I menggunakannya. Biasanya, ia membuka dan mengunggah sesuatu di akun kedua beberapa kali dalam seminggu, terutama saat merasa lelah atau ingin mengekspresikan perasaan yang tidak ia tampilkan di akun utama.

Menurutnya, akun utama sering memunculkan rasa cemas, terutama ketika ia ingin menunjukkan sisi diri yang lebih personal. Ia merasa lebih berhati-hati karena akun utama dilihat oleh lebih banyak orang.

“Akun utama lebih sering dipakai untuk membangun kesan tertentu supaya terlihat baik, rapi, dan tidak dianggap alay,” ujarnya.

Karena itu, ia merasa second account lebih nyaman digunakan untuk membagikan hal-hal spontan dan apa adanya, terutama karena lingkup pertemanannya lebih terbatas dan terasa lebih aman.

Sementara itu, Responden III, mahasiswa berusia 20 tahun, mengaku sering ragu ketika ingin mengunggah aktivitas sehari-hari yang menurutnya sederhana, tetapi tetap berkesan secara personal. Ia akhirnya memilih mengunggahnya di akun kedua.

Ia juga menyadari bahwa faktor sosial sangat memengaruhi perilakunya di Instagram. Norma kelompok, tekanan teman sebaya, hingga kebutuhan untuk diterima di lingkungan pertemanan membuatnya lebih berhati-hati dalam mengunggah sesuatu. Bahkan, ia pernah menghapus atau mengubah unggahan karena takut mendapat penilaian negatif dari orang lain.

Meski merasa lebih leluasa di second account, ia tetap memberi batasan terhadap siapa saja yang bisa melihat unggahannya. Ia sengaja menghindari audiens tertentu, seperti dosen, keluarga, atau teman kampus yang tidak terlalu dekat.

“Menjaga batas antara ruang personal dan ruang publik di Instagram membuat saya lebih nyaman berekspresi,” katanya.

Ekspresi Diri Jadi Alasan Utama Gen Z Membuat Second Account

Gen Z dikenal sebagai generasi yang sangat aktif di media sosial, menjadikan media sosial sebagai ruang untuk menunjukkan identitas diri. Namun, tidak semua hal ingin mereka tampilkan di akun utama. Karena itu, banyak dari mereka membuat second account sebagai ruang yang lebih santai, privat, dan terasa aman.

Di akun kedua, mereka bisa membagikan pikiran, perasaan, hingga aktivitas sehari-hari tanpa terlalu memikirkan penilaian banyak orang.

Hasil survei menunjukkan bahwa alasan utama Gen Z membuat second account adalah kebutuhan untuk mengekspresikan diri. Temuan ini memperlihatkan bahwa akun kedua berfungsi sebagai ruang alternatif ketika akun utama terasa terlalu “publik”.

Di akun utama, banyak orang merasa perlu menjaga citra, tampil rapi, dan memilih unggahan yang aman karena audiensnya lebih luas. Akibatnya, mereka menjadi lebih berhati-hati dan sering menahan diri saat ingin membagikan hal-hal yang lebih personal.

Pengalaman Responden I menggambarkan kondisi tersebut. Ia menggunakan akun utama untuk branding, sedangkan akun kedua menjadi tempat berbagi hal-hal spontan dan apa adanya. Karena audiensnya lebih kecil dan dapat dipilih, ia merasa lebih nyaman dan tidak terlalu takut dinilai.

Bagi sebagian Gen Z, second account menjadi semacam “ruang aman” untuk bercerita, mengekspresikan emosi, dan menunjukkan sisi diri yang tidak selalu bisa ditampilkan di akun utama.

Rasa Aman Jadi Pemicu Utama untuk Lebih Terbuka

Rasa aman menjadi faktor penting yang membuat seseorang lebih terbuka di akun kedua. Ketika audiens lebih kecil dan umumnya hanya terdiri dari orang-orang terdekat, pengguna merasa lebih nyaman membagikan pikiran, perasaan, maupun aktivitas pribadi.

Perasaan aman itu membuat mereka tidak terlalu khawatir terhadap penilaian sosial, sehingga second account menjadi ruang yang lebih bebas untuk berekspresi.

Diagram survei memperlihatkan bahwa rasa aman menjadi pemicu terbesar yang membuat Gen Z lebih terbuka di second account. Rasa aman ini muncul karena akun kedua dianggap lebih privat dan tidak mudah diakses banyak orang.

Responden I menegaskan bahwa ia merasa lebih nyaman karena bisa mengatur siapa saja yang boleh melihat unggahannya. Ketika rasa takut terhadap penilaian sosial berkurang, seseorang cenderung lebih berani menunjukkan sisi diri yang biasanya tidak ditampilkan di akun utama.

Kontrol Audiens: Gen Z Memilih Siapa yang Bisa Masuk

Kontrol audiens menjadi alasan lain mengapa Gen Z membuat second account. Mereka ingin menentukan sendiri siapa saja yang dapat melihat unggahan mereka.

Dengan memilih pengikut secara lebih terbatas, mereka merasa lebih nyaman membagikan cerita, pendapat, maupun momen pribadi tanpa takut dilihat orang yang tidak dekat dengan mereka. Hal ini membuat akun kedua terasa lebih privat dan aman.

Diagram menunjukkan bahwa kontrol audiens menjadi kunci dari “ruang aman” di second account. Akun kedua bukan hanya soal memiliki akun tambahan, tetapi juga soal kemampuan menyaring siapa yang dapat menjadi penonton.

Responden III menggambarkan hal tersebut dengan jelas. Ia sengaja menghindari audiens tertentu, seperti dosen, keluarga, dan teman kampus yang tidak dekat. Baginya, menjaga batas antara ruang personal dan ruang publik menjadi strategi agar tetap bisa berekspresi tanpa merasa diawasi.

Tidak Semua Dibagikan: Ada Batas Privasi yang Tetap Dijaga

Meski second account memberi ruang lebih bebas untuk berekspresi, tidak semua hal dibagikan di sana. Gen Z tetap menyimpan bagian tertentu dari diri mereka yang dianggap terlalu pribadi atau sensitif.

Hal ini menunjukkan bahwa privasi di media sosial bukan sesuatu yang hitam-putih. Ada proses negosiasi yang terus berlangsung antara kebutuhan untuk berekspresi dan keinginan untuk tetap menjaga batas personal.

Responden III mengaku dirinya memang lebih leluasa di akun kedua, tetapi tetap menahan beberapa hal agar tidak menjadi bahan penilaian orang lain. Artinya, rasa takut dinilai tidak sepenuhnya hilang, tetapi dapat dikelola ketika audiens lebih terbatas dan dianggap lebih memahami konteks personalnya.

Akun Utama Jadi Ruang “Presentasi Diri”

Akun utama cenderung digunakan untuk membangun kesan tertentu karena dilihat oleh lebih banyak orang, termasuk teman, keluarga, hingga orang yang tidak terlalu dekat. Karena itu, pengguna lebih berhati-hati dalam memilih unggahan agar terlihat menarik, rapi, dan sesuai dengan citra yang ingin ditampilkan.

Akibatnya, akun utama lebih sering menjadi ruang “presentasi diri” dibanding ruang ekspresi yang sepenuhnya jujur.

Diagram survei memperlihatkan bahwa upaya membangun kesan tertentu lebih dominan terjadi di akun utama. Konten yang diunggah pun cenderung lebih terkurasi.

Responden II mengaku akun utamanya digunakan untuk membangun kesan agar terlihat baik, rapi, dan tidak dianggap “alay”. Karena tekanan tersebut, ia merasa second account lebih cocok digunakan untuk membagikan hal-hal spontan, terutama saat kondisi emosionalnya sedang tidak stabil.

Dalam perspektif sosiologi, dosen sosiologi Retno Wahyuningtyas menjelaskan bahwa fenomena second account muncul karena adanya perbedaan pola komunikasi antargenerasi.

Menurutnya, generasi sebelumnya cenderung menganggap cara hidup dan pola komunikasi mereka lebih baik, sementara Gen Z lebih terbuka, spontan, dan ekspresif dalam menyampaikan pendapat. Namun, keterbukaan tersebut sering mendapat pelabelan sosial negatif dan dianggap sebagai bentuk pembangkangan oleh generasi yang lebih tua.

Ia menilai perkembangan teknologi digital, pola parenting, dan perubahan budaya komunikasi membuat setiap generasi memiliki karakter sosial yang berbeda dalam menggunakan media sosial.

Fenomena second account, menurut Retno, tidak selalu berkaitan dengan hal negatif. Akun kedua justru dapat menjadi safe space bagi individu untuk lebih jujur dan nyaman mengekspresikan diri kepada orang-orang yang dipercaya.

“Banyak remaja menggunakan akun kedua karena ada krisis kepercayaan, rasa takut terhadap penilaian sosial, hingga pengalaman pengkhianatan dalam pertemanan,” jelasnya.

Selain menjadi ruang personal, second account juga sering dimanfaatkan sebagai ruang kampanye digital dan penyampaian opini sosial maupun politik yang dianggap lebih aman dibandingkan dengan akun utama.

Dari sudut pandang sosiologi, fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya ruang interaksi, tetapi juga arena pencarian identitas, kontrol diri, dan adaptasi sosial di tengah tekanan serta ekspektasi sosial digital yang semakin kompleks.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Revolusi Sinematik Greta Gerwig dan Penggambaran Pemberdayaan Perempuan dalam Film Barbie

Reuters Hanya 24% Perempuan Menempati Posisi Senior Editor

Reuters: Hanya 24% Perempuan Menempati Posisi Senior Editor

Belajar Gerakan Perempuan Akar Rumput dari Nenengisme

Belajar Gerakan Perempuan Akar Rumput dari Nenengisme

Leave a Comment