Ilmuwan Ini Gagas Menstruasi Tiga Kali dalam Setahun: Solusi atau Ancaman Kesehatan?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Pernahkah kamu membayangkan jika perempuan hanya perlu mengalami menstruasi tiga kali saja dalam satu tahun? Bagi sebagian orang, ide ini terdengar seperti mimpi indah. Kita bisa bebas dari kram perut yang melilit, mood swing, nyeri punggung, hingga kerepotan bulanan lainnya. 

Namun, bagi perempuan yang hidup dengan kondisi medis tertentu seperti PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), siklus haid yang jarang justru merupakan sumber kecemasan dan perjuangan kesehatan yang nyata.

Membicarakan ide “absennya menstruasi” tanpa melihat realita medis bisa terasa sangat nirempati. Tetapi, di balik pro-kontra tersebut, Hongmei Wang—seorang pakar biologi dari State Key Laboratory of Stem Cell and Reproductive Biology di Beijing—sedang serius menggarap gagasan ini sebagai respons terhadap krisis demografis.

Mengapa Penelitian Ini Sangat Penting?

Saat ini, dunia sedang menghadapi fenomena populasi yang menua drastis, sementara angka kelahiran terus anjlok. Jika jumlah anak muda usia produktif semakin sedikit, roda ekonomi bisa macet, pajak berkurang, dan biaya perawatan generasi tua akan menjadi beban yang sangat berat.

China adalah laboratorium nyata dari krisis demografi ini. Setelah puluhan tahun menerapkan kebijakan “Satu Anak” (One-Child Policy) sejak 1979 karena takut ledakan penduduk, kini keadaannya berbalik 180 derajat. Meski aturan sudah dilonggarkan menjadi dua anak pada 2015 hingga tiga anak pada 2021, angka kelahiran tetap seret. Beban hidup dan tuntutan ekonomi membuat kaum muda enggan menambah momongan.

Menurut proyeksi PBB, populasi China bisa terpangkas setengahnya di akhir abad ini jika tren ini berlanjut. Inilah alasan mengapa penelitian sistem reproduksi menjadi sangat mendesak. Ilmuwan berpacu dengan waktu untuk memperpanjang masa subur perempuan, agar waktu untuk memiliki anak menjadi lebih panjang dan fleksibel.

Baca juga: Tubuh Perempuan Bukan Medan Perang: Di Balik Larangan Pembalut di Myanmar 

Kok Bisa Menstruasi Cuma Tiga Bulan Sekali?

Secara biologi sederhana, perempuan berbeda dengan laki-laki. Jika laki-laki memproduksi sperma baru sepanjang hidup, perempuan lahir dengan kuota sel telur yang sudah ditentukan. Saat pubertas, ada sekitar 400 sel telur fungsional yang akan dijatah untuk dilepaskan setiap bulan hingga stoknya habis (fase menopause).

Hipotesis Wang adalah bagaimana jika kita “mengerem” siklus jatah bulanan ini?

Merangkum dari Elpais, Wang dan tim peneliti sedang menguji coba skenario untuk mengatur agar perempuan hanya mengalami ovulasi (pelepasan sel telur) dan menstruasi setiap tiga bulan sekali. Secara logika matematis, jika sel telur tidak dihamburkan setiap bulan, maka stok sel telur sehat bisa ditabung dan dihemat lebih lama. 

Dengan kata lain, usia datangnya menopause bisa ditunda. Bagi Wang, mampu memundurkan usia menopause walau hanya satu tahun saja sudah akan memberikan kemajuan sosial yang luar biasa besar, karena perempuan memiliki waktu lebih leluasa untuk merencanakan kehamilan tanpa terus dikejar “jam biologis”. Saat ini, ide penundaan siklus tersebut sedang dieksplorasi secara intensif lewat eksperimen pada tikus laboratorium.

Terobosan Sel Punca dan Model Embrio

Selain mengatur ulang jadwal menstruasi, Wang juga mencari cara “memperbaiki” sistem reproduksi yang rusak lewat terapi sel punca (stem cell). Dalam studi tahun lalu, timnya menyuntikkan sel punca ke indung telur monyet mandul, dan hasilnya monyet tersebut berhasil hamil dan melahirkan bayi sehat.

Uji klinis pada 63 perempuan yang mengalami Premature Ovarian Failure (mandul prematur) juga menunjukkan hasil menjanjikan; empat di antaranya berhasil melahirkan anak sehat berkat transplantasi sel punca. 

Namun, tantangan besar muncul pada fase gastrulasi—masa dua minggu setelah pembuahan saat sel embrio mulai membentuk organ tubuh. Karena adanya aturan hukum global yang melarang penelitian embrio manusia di laboratorium lebih dari 14 hari, Wang menyiasatinya dengan membuat “organoid” atau embrio tiruan dari sel punca bersama peneliti Spanyol. Dengan embrio artifisial ini, ilmuwan bisa mempelajari mengapa 50% pembuahan alami manusia sering kali gagal.

Baca juga: Siapa yang Mengalami Menstruasi? Mengapa Istilah Menstruator Dibutuhkan?

Menimbang Pro dan Kontra

Gagasan ini jelas membawa angin segar bagi kebebasan perempuan. Memperpanjang masa subur berarti memberi ruang lebih bagi perempuan untuk fokus pada pendidikan atau karier tanpa rasa takut kehilangan kesempatan menjadi ibu. Terapi sel punca juga menjadi lentera harapan bagi mereka yang didiagnosis mandul di usia muda.

Namun, kita tidak boleh menutup mata pada risiko medisnya. Menekan ovulasi secara ekstrem berarti menekan produksi hormon estrogen. Padahal, estrogen sangat vital bagi kesehatan perempuan. Kekurangan hormon ini bisa memicu pengeroposan tulang (osteoporosis), masalah jantung, hingga gangguan psikologis. Selain itu, dari segi etika, sejauh mana sains boleh mencampuri kodrat biologi manusia?

Krisis kelahiran saat ini juga merupakan masalah sosial, bukan biologis. Kelelahan sosial akibat biaya hidup mahal, minimnya dukungan childcare, dan beban ganda perempuan tidak bisa diselesaikan hanya dengan “memperbaiki” indung telur. Bahkan bagi pejuang PCOS, siklus haid yang jarang adalah sumber rasa sakit, bukan sebuah kemewahan. 

Penundaan menopause lewat pembatasan menstruasi mungkin secara teknis bisa dilakukan di masa depan. Namun, kita harus tetap kritis. Sains mungkin bisa memperpanjang usia biologis sel telur kita, tetapi pada akhirnya, kesejahteraan, jaminan sosial, dan dukungan negaralah yang akan menentukan apakah seorang perempuan merasa aman dan ingin membawa kehidupan baru ke dunia ini.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Tren Foto AI: Idola Bukan Objek Fantasi

Ketika Aku Memilih Berjuang: Dari KDRT Hingga Kebebasan

Benarkah Perempuan Penyebab Tingginya Praktik Korupsi? Ini Faktanya

Leave a Comment