Belajar Gerakan Perempuan Akar Rumput dari Nenengisme

Ais Fahira

News

Belajar Gerakan Perempuan Akar Rumput dari Nenengisme

Bincangperempuan.com– Pernahkah B’Pers pernah mendengar soal “Nenengisme”? Belakangan istilah ini ramai disebut terutama di Facebook. Ternyata istilah Nenengisme datang dari sebuah kejadian lucu di Facebook. Dimulai dari seorang ibu rumah tangga bernama Neneng Rosdiyana membeli sebuah fanpage yang sebelumnya bernama Marxisme Indonesia. Awalnya, Neneng mengira itu adalah nama band indie atau komunitas anak muda.  Sampai salah satu member lama dari fanpage tersebut menjelaskan soal marxisme sebagai ideologi politik kiri. 

Setelah memahami konteks tersebut, Neneng tampaknya mulai meresapi nilai-nilai dalam ideologi tersebut dengan caranya sendiri. Ia pun mulai rutin membagikan aktivitas sehari-harinya sebagai anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mentari di Tangerang Selatan. Tak disangka, unggahan-unggahan Neneng justru terasa lebih membumi dan dekat dengan keseharian, terutama bagi mereka yang selama ini merasa “tidak cukup intelek” untuk membicarakan isu-isu politik.

Dari sinilah istilah Nenengisme mulai dikenal sebagai gerakan perempuan akar rumput yang tumbuh dari dapur, kebun, dan obrolan sesama ibu-ibu. Hingga saat ini, fanpage milik Neneng Rosdiyana telah memiliki sekitar 53.000 pengikut, dan terus berkembang sebagai ruang alternatif untuk menyuarakan kritik sosial dari sudut pandang sederhana namun tajam.

Tangkapan layar salah satu unggahan Neneng di Facebook.

Siapakah Neneng?

Neneng Rosdiyana hanyalah ibu-ibu kampung biasa, bukan aktivis bukan pula tokoh politik. Ia tidak tahu menahu soal teori poskolonial atau ekofeminis, tapi tahu rasanya harga pupuk mahal, panen yang tak laku, dan pemerintah hanya datang kalau ada liputan media. Neneng tahu rasanya dianggap remeh cuma karena ibu rumah tangga. Ia mulai aktif berbagi di fanpage yang dulu isinya kutipan Marx, kini diisi foto-foto ibu-ibu mencangkul kebun dengan caption tajam soal ketimpangan. 

Banyak yang awalnya hanya menyimak karena dinilai lucu. Tetapi lama kelamaan membuat netizen ikut berpikir dan merasa apa yang dikatakan Neneng itu fakta. Melalui unggahannya Neneng banyak menyindir orang yang koar-koar anti-konglomerat, tapi gaya hidupnya tetap melanggengkan dominasi kapital. 

“Anti-kapitalis di sosmed, tapi loyalis minimarket waralaba. Katanya lawan konglomerat, tapi tiap hari setor duit ke mereka. Warung tetangga cuma didatangi pas butuh hutang! Mungkin kapitalisme gak perlu dibela, cukup diam aja sambil nunggu ‘musuhnya’ setor duit sendiri.”
Neneng Rosdiyana

Baca juga: Perempuan Adat Papua: Penjaga Hutan dan Pendorong Pala Fakfak ke Industri Parfum Dunia

Dari Kolektif, Bukan dari Elite

Selain aktif memberi kritik dan sindiran tajam, Neneng juga aktif membagikan kegiatan bersama ibu-ibu lain di komunitasnya. Bersama KWT Mentari, mereka bertani, memproduksi pupuk organik sendiri, bahkan membuat sistem tukar-menukar hasil panen sebagai bentuk kecil dari sistem ekonomi alternatif. Mereka membangun ketahanan pangan sebagai praktik nyata.

“KWT MENTARI HEBAT! Katanya perempuan harus mandiri? Kami sudah lama melakukannya tanpa banyak teori.”
Neneng Rosdiyana

Semangat kolektif inilah yang menjadikan gerakan Nenengisme begitu kuat.  Tidak memaksakan konsep-konsep besar, tidak membungkusnya dengan narasi feminisme akademik. Tetapi Neneng dan kelompoknya secara nyata menunjukkan bentuk perlawanan terhadap sistem yang menindas perempuan melalui praktik gotong royong, saling berbagi, dan saling menopang. Gerakan ini justru adalah bentuk feminisme yang paling mendasar feminisme sebagai solidaritas, bukan kompetisi

Perlawanan Lewat Gerakan Akar Rumput

Diskursus tentang isu perempuan di media arus utama masih sering berputar di seputar kelas menengah urban. Body positivity, wage gap, atau kesetaraan karier lebih banyak dibicarakan dalam konteks perempuan kota. Padahal, perjuangan perempuan di desa dan komunitas pinggiran justru lebih kompleks dan berat.

Neneng tidak pernah menyebut dirinya “feminis.” Ia mungkin tidak tahu apa itu The Second Sex atau Feminist Manifesto, tapi ia tahu bagaimana menghadapi kenyataan hidup sebagai ibu rumah tangga sekaligus petani. Ia tahu bagaimana rasanya harga panen ditekan oleh tengkulak, bagaimana harga pupuk terus naik tanpa solusi dari pemerintah, dan bagaimana perempuan-perempuan desa dianggap tidak produktif hanya karena tidak bekerja di sektor formal.

Dalam sebuah wawancara dengan Liputan6, Neneng menyampaikan bahwa ketika harga panen terlalu murah dan tidak masuk akal, ia lebih memilih membagikan hasil panen tersebut ke masyarakat sekitar daripada menjualnya ke pasar. Menurutnya, berbagi adalah strategi bertahan hidup sekaligus bagian dari upaya membangun kedaulatan pangan di komunitasnya sendiri.

Baca juga: Perempuan Di Garis Depan Krisis Agraria

Kesederhanaan yang Subversif

Dari semua ini, kita bisa menyimpulkan bahwa perjuangan tidak harus tampil dalam bentuk revolusioner yang penuh jargon. Neneng membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari tindakan kecil yang konsisten. Bahwa untuk melakukan perubahan tidak melulu harus menyusun manifesto panjang, atau gerakan besar-besaran, tapi melalui gerakan yang dekat dengan masyarakat. Hal yang patut kita contoh dari Neneng dan gerakan ibu-ibu KWT adalah tindakan nyata dan konsistensi dalam keberpihakan pada komunitasnya sendiri.

Pada akhirnya, Nenengisme mengajarkan bahwa kita tidak perlu selalu menunggu tokoh besar untuk memulai perubahan. Terkadang, perubahan paling jujur justru datang dari ibu rumah tangga yang memilih membagikan panen daripada tunduk pada pasar. Dari perempuan desa yang lebih percaya pada warung tetangga daripada minimarket berpendingin ruangan. 

Mungkin yang kita butuhkan hari ini bukan lagi deretan seminar, apa lagi jargon-jargon aktivisme, melainkan orang-orang seperti Neneng. Perempuan yang percaya bahwa revolusi bisa dimulai dari kebun belakang rumah, dari obrolan sesama ibu-ibu, dari sikap sederhana namun konsisten dalam melawan ketidakadilan struktural. Dan justru dari kesederhanaan itulah yang membuat Neneng dan gerakannya menjadi relevan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Inisiatif Perempuan

Teras

Artikel Lainnya

Kasus Kekerasan Seksual Anak di Bengkulu Evaluasi Kota Layak Anak Mendesak

Kasus Kekerasan Seksual Anak di Bengkulu: Evaluasi Kota Layak Anak Mendesak

Kenapa Menstruasi Bisa Bareng Sama Bestie

Kenapa Menstruasi Bisa Bareng Sama Bestie?

Jurnalis Perempuan Gugat Radar Selatan, Tuntut Pembayaran Tunggakan Gaji Enam Bulan

Leave a Comment