Home » News » Dampak Serius Kerentanan Iklim Terhadap Perempuan Pedesaan

Dampak Serius Kerentanan Iklim Terhadap Perempuan Pedesaan

Yuni Camelia Putri

News

Bincangperempuan.com- Perubahan iklim telah menjadi permasalahan yang berdampak luas bagi kehidupan masyarakat pedesaan. Mereka yang tinggal di daerah pedesaan memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bencana alam seperti banjir, longsor, angin topan, dan berbagai bencana lainnya yang terjadi dalam rentang waktu yang bervariasi.

Perubahan iklim yang ekstrem ini mempengaruhi pendapatan rumah tangga di pedesaan yang umumnya bergantung pada sektor pertanian. Kondisi ini menyebabkan kerentanan iklim yang berujung pada kompleksitas terhadap perubahan iklim yang ekstrem. Salah satu pihak yang mengalami kerugian ekstrem adalah perempuan pedesaan. Hal ini didorong karena perempuan lebih rentan kehilangan peluang pekerjaan di luar pertanian saat terjadi perubahan iklim yang ekstrem.

Lantas, kenapa hal ini dapat terjadi?

Singkatnya, karena perempuan pedesaan masih dibebankan pekerjaan perawatan seperti merawat anak-anak dan suami termasuk anggota keluarga lagi seperti mertua dan orang tua yang ikut tinggal bersama. Akibat perubahan iklim yang ekstrem menyebabkan meningkatnya tugas perawatan perempuan dan menyita lebih banyak waktu serta energinya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.

Selain itu, norma sosial yang membatasi mobilitas perempuan juga menjadi hambatan dalam mencari peluang kerja alternatif. Hal ini menyebabkan perempuan mengalami kerentanan ekonomi yang berdampak serius dalam kehidupannya.

Baca juga: Bukan Hal Biasa, Mereka Telah Membangun Kedaulatan Pangan

Konsepsi Kerentanan Iklim

Konsepsi kerentanan iklim merupakan pemahaman tentang bagaimana individu, kelompok, atau masyarakat secara keseluruhan rentan terhadap dampak perubahan. Hal ini telah melibatkan paparan terhadap stress iklim, sensitivitas, hingga kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan iklim yang ekstrem.

Paparan yang terlibat dalam konsepsi kerentanan iklim biasanya akan mengacu pada tingkat, jenis, dan intensitas stres iklim yang dialami oleh individu atau kelompok. Dengan kata lain, paparan mencakup fenomena seperti banjir, kekeringan, perubahan suhu ekstrem, dan pola curah hujan yang tidak stabil.

Selanjutnya, sensitivitas yang berakar dari tingkat kerentanan indivisu atau kelompk terhadap dampak perubahan iklim. Sensitivitas ini disebabkan oleh ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya alam, ketersediaan infrastruktur, dan praktik pertanian yang keberlanjutan.

Terakhir, kemampuan beradaptasi. Kemampuan beradaptasi berkaitan dengan kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim, menurunkan risiko, dan memanfaatkan peluang yang muncul. Selain itu, kemampuan beradaptasi suatu individu dapat dipengaruhi oleh informasi, teknologi, norma sosial, dan dukungan dari kebijakan pemerintahan.

Perlu diketahui bahwa ketiga hal utama dalam konsepsi kerentanan iklim dipengaruhi tiga faktor kunci di bawah ini:

Kekayaan

Tingkat kekayaan masyarakat pedesaan memengaruhi kerentanan mereka terhadap perubahan iklim. Keluarga yang memiliki ekonomi yang mampu akan memiliki akses yang lebih berkualitas terhadap sumber daya dan layanan untuk mengatasi dampak kerentanan iklim. Tak hanya itu, kekayaan akan memengaruhi kemampuan seseorang untuk berinvestasi dalam teknologi dan praktik pertanian yang lebih tahan terhadap kerentanan iklim.

Gender

Gender memiliki peran yang kuat dalam menentukan kerentanan iklim di pedesaan. Dalam banyak kasus, perempuang kerap menghadapi hambatan yang lebih bersar dalam mengakses sumber daya seperti lahan, modal, dan informasi yang ada. Keterbatasan ini telah membatasi kemampuan perempuan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Kondisi ini semakin diperkeruh dengan norma-norma gender yang diskriminatif di kehidupan masyarakat.

Usia

Faktor usia turut mempengaruhi kerentanan masyarakat pedesaan dalam menghadapi perubahan iklim yang ekstrem. Jika dilihat lagi, anak-anak dan lansia menjadi pihak yang mengalami dampak serius dari perubahan iklim. Kondisi ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan fisik, kesehatan yang lebih rapuh, dan ketergantungan terhadap orang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tentu saja, hal ini tidak memengaruhi pemuda di pedesaan karena tingginya peluang, inovasi, dan kemampuan beradaptasi yang mereka dapatkan untuk menghadapi tantangan iklim.

Baca juga: Misha Atika, Pelestari Padi Kuning dan Tradisi Perempuan Memanen Secara Bergotong-royong

Kerugian yang dialami perempuan pedesaan akibat perubahan iklim

Perubahan iklim merupakan fenomena serius yang terjadi secara global, memengaruhi setiap aspek kehidupan mulai dari ekonomi, sosial, hingga kesehatan. Ironisnya, kerugian terbesar justru dialami oleh perempuan di pedesaan, yang bahkan dapat berakibat fatal dan tak terduga. Pertanyaannya, apa saja kerugian yang diderita oleh perempuan di pedesaan akibat perubahan iklim yang ekstrem?

Pertama, mereka rentan mengalami kehilangan peluang pekerjaan. Biasanya, perempuan pedesaan bekerja sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, perubahan iklim yang ekstrem mendorong mereka untuk mencari pekerjaan baru. Ironisnya, langkah ini justru terhambat oleh tanggung jawab perawatan yang melekat pada perempuan dan norma sosial yang cenderung membatasi akses mereka terhadap peluang kerja.

Kedua, akses yang rendah terhadap tanah. Kerugian yang disebabkan oleh perubahan iklim yang ekstrem menyebabkan perempuan pedesaan memiliki akses tanah yang lebih rendah. Mereka kerap mendapatkan tanah yang lebih kecil dengan kualitas yang lebih rendah. Hal ini telah mengurangi kapasistas adaptasi perempuan terhadap perubahan iklim.

Ketiga, penurunan pendapatan. Survei yang dilakukan oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations di tahun 2024 menunjukkan bahwa terjadi penurunan pendapatan tahunan rata-rata sebesar 8% akibat tekanan panas dan 3% akibat banjir pada rumah tangga yang dipimpin oleh perempuan. Salah satu contohnya adalah kerugian kepemilikan ternak yang diakibatkan oleh tingginya kekeringan dan tekanan panas yang menyebabkan banyak hewan ternak yang mati di wilayah pedesaan tersebut.

Keempat, jumlah jam kerja yang tidak wajar. Meningkatnya jumlah jam kerja yang terjadi selama perubahan iklim yang ekstrem menyebabkan banyak kerugian bagi perempuan. Salah satunya yaitu meningkatnya beban kerja yang signifikan pada perempuan.

Terakhir, kerugian nilai tanaman. Kerugian nilai tanaman dialami oleh perempuan pedesaan karena minimnya akses terhadap sumber daya dan layanan yang dapat mendukung pertanian mereka. Padahal, perempuan memiliki kemampuan yang setara atau lebih baik daripada laki-laki dalam mengadaptasi sistem pertanian selama terjadinya perubahan iklim yang ekstrem.

Tindakan Inklusif Food and Agriculture Organization (FAO) dalam mengatasi dampak perubahan Iklim

Perubahan iklim yang ekstrem menjadi permasalahan serius bagi masyarakat pedesaan terutama perempuan. Secara ekonomi, perubahan iklim yang ekstrem menyebabkan perempuan menghadapi permasalahan ekonomi yang serius dan terbatasnya akses dalam berbagai hal. Untuk mengatasi hal ini, Food and Agriculture Organization (FAO) memberikan beberapa rekomendasi seperti berikut.

  • Mengidentifikasi kerentanan yang berbeda diantara kelompok masyarakat termasuk orang muda, perempuan, dan masyarakat ekonomi kebawah di daerah pedesaan.
  • Melibatkan kelompok yang rentan dalam perencanaan dan implementasi tindakan iklim melalui konsultasi langsung, dialog dengan masyarakat, dan mensurvei kebutuhan mereka dalam menghadapi fenomena tersebut.
  • Mengintegrasikan pendekatan gender dalam merancang kebijakan dan program iklim untuk memastikan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait iklim.
  • Memberdayakan perempuan dan kelompok rentan lainnya melalui pelatihan, akses ke sumber daya, dan dukungan teknis untuk mengadopsi praktik pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim.
  • Mengembangkan kemitraan yang kuat dengan pemerintah, lembaga internasional, sektor swasta, dan lembaga swadaya masyarakat untuk mendukung implementasi tindakan iklim yang inklusif.
  • Melakukan pemantauan terhadap dampak dari kebijakan dan program iklim yang inklusif terhadap kelompok rentan untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan dari program tersebut.

dampak perubahan iklim terhadap perempuan, gerakan perempuan

Artikel Lainnya

Komi Kendy, Ketua AMSI Wilayah Perempuan Pertama di Indonesia

Male Gaze: Ketidakadilan Gender dan Bencana Bagi Perempuan

Perempuan dan Beban Kontrasepsi

Leave a Comment