Perempuan Petani Kopi di Desa Batu Ampar Menghadapi Perubahan Iklim

Dampak perubahan iklim mulai dirasakan perempuan petani kopi di Desa Batu Ampar, Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Menghijaukan hutan kembali, menjadi salah satu upaya untuk menyelamatkan kehidupan dan penghidupan petani kopi dari dampak perubahan iklim.  

Betty Herlina- Bengkulu

“Cuaca sudah tidak dapat diprediksi,” kata Supartina singkat, saat disambangi di kebun kopi miliknya. 

Hari itu, jarum jam menunjukan pukul 09. 10 WIB.  Matahari sepertinya masih malu-malu, bersembunyi di balik Bukit Hitam.  Namun Supartina sudah bergiat di kebun kopi miliknya.  Tepatnya warisan dari orang tua. Jari jemari Supartina cekatan memisahkan kelopak bunga yang masih menempel di bakal biji kopi. Ini menjadi rutinitas tambahan Supartina, di sela-sela membersihkan kebun. Jika tidak dibersihkan, kelopak bunga yang masih menempel dan sudah membusuk bisa menyebabkan bakal biji kopi ikut busuk.  Akibatnya bakal biji kopi tidak menempel. Panen hampir dipastikan gagal.  

“Biasanya setelah bunga mekar sempurna, sedikit hujan dan sedikit angin saat hari panas membantu kelopak bunga ini jatuh.  Namun sekarang hujan dan panas tidak bisa ditebak. Kalau sudah dibersihkan seperti ini, bakal biji kopi biasanya menempel,” bebernya. 

Supartina Paksi, salah seorang perempuan petani kopi di Desa Batu Ampar. Ia merasakan produktivitas kopi miliknya menurun setiap tahun. Kuat dugaan, penurunan ini terjadi akibat kombinasi perubahan iklim,  hutan yang semakin banyak ditebang, dan tata kelola kebun, termasuk perubahan varietas tanaman kopi. 

Dulu Robusta yang ditanam di Desa Batu Ampar memiliki ketinggian pohon lebih dari 1,5 meter dan rimbun. Untuk melakukan proses panen, Supartina harus menggunakan tangga. Masyarakat setempat menyebutnya kopi “sako” yang berarti tua.  Hasilnya stabil, satu hektar lahan petani kopi dapat menghasilkan 1,5 ton hingga 2 ton biji kopi untuk satu kali panen dalam setahun. 

Saat ini, Robusta yang ditanam memiliki batang yang lebih rendah dan menerapkan pola stek. Setiap periode tanam,  Supartina hanya merasakan satu kali panen agung (panen besar,red). 

“Panen kali ini dengan dua kali berjualan hanya 600 kg. Tidak sampai Rp 10 juta. Itu hasil menunggu 1 tahun. Belakangan hasil kopi turun terus,” terang Supartina. 

Jika hidup hanya bergantung dengan hasil kopi, kata Supartina, hampir dipastikan,  masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi harga kopi di pasaran tempatnya tinggal hanya Rp 17.000 per kg di tingkat pengumpul.  

Ia bersama petani kopi lain mulai menerapkan konsep agroforestri atau polikultur. Yakni menanam kopi bersama tanaman lainnya. Ada yang menanam lada dengan memanfaatkan tanaman pelindung kopi sebagai sulurnya,  talas dan pakis.  

“Tahun ini hanya 300 kg kopi. Padahal tahun sebelumnya bisa lebih banyak. Makin kesini hasil panen kopi makin turun.  Beruntung ada lada di kebun. Jadi saat panen kopi habis, masih bisa panen lada. Harganya lumayan Rp 40 ribu per kg,” timpal Zainuddin, yang juga salah seorang petani kopi di Desa Batu Ampar. 

Turunnya produktivitas kopi dari tahun ke tahun, juga disampaikan Akilepron. Kepala Dusun III ini menetap di Desa Batu Ampar sejak tahun 1993.  Hasil panen kopinya selalu menurun.  Dulu,  dengan kondisi cuaca di desa yang lebih dingin dan pohon yang masih rimbun, setiap 1 hektare kebun kopi bisa menghasilkan hingga 2 ton.  “Tahun ini saya hanya dapat 400 kg dari 1,5 hektare lahan,” ungkapnya. 

Hujan yang terlalu banyak pada saat kopi sedang berbunga, dikatakan Akil menjadi penyebab kopi tidak menjadi buah. “Jika cuacanya kemarau ketika kopi berbunga maka bunga kopi bisa menjadi putik.  Tapi jika musim hujan terus, sejak kopi berbunga, maka bunga itu tidak akan menjadi putik,” lanjutnya.  

Untuk menambah penghasilan, Akil memilih menanam pisang, lada dan memperbanyak pakis di pinggir kebun kopi miliknya. “Selain bisa dijual ke pasar untuk memenuhi kebutuhan dapur, pakis juga bisa membuat kebun kopi menjadi lebih lembab, dingin,” lanjutnya.  

Selain produktivitas panen kopi yang terus turun,  kemunculan insidensi penyakit yang belum pernah terjadi mulai menimpa pada kopi. Batang kopi tiba-tiba menguning, membusuk dari dalam. Akil tidak tahu persis apa penyebabnya. Ia merasa sudah melakukan perawatan tanaman kopi sesuai dengan petunjuk yang didapatkan. Tapi hasilnya tak seperti yang diharapkan. 

“Jika sudah begitu, bagaimana mau panen? Kulit batang mendadak mengelupas. Kopi mati,”  keluh Akil. 

Petani kopi harus memikirkan siasatnya sendiri. “Dosis pupuk saya atur sendiri. Tidak menggunakan ajuran yang ada.  Justru hasilnya lebih baik. Kopi tidak mati,” kata Akil penuh percaya diri. 

Bermacam upaya dilakukan petani kopi di Desa Batu Ampar untuk meningkatkan hasil. Mulai dari melakukan stek batang dan menggunakan pupuk organik. Namun hasil yang diperoleh belum maksimal. Hasil panen kopi dari tahun ke tahun terus mengalami tren produktivitas menurun. 

“Kami bahkan pernah hanya menanam kopi saja di kebun. Nyatanya batang dan daun kopi menguning semua. Kopi tidak tahan panas.  Mati,” lanjutnya. 

Bagi Akil, perubahan iklim benar-benar sudah terjadi.  Ketika duduk di bangku SD, ia diajarkan Indonesia hanya memiliki 2 musim, yakni kemarau dan hujan. Musim kemarau biasanya ditandai dengan angin yang sejuk dan matahari cerah. Lalu setelah setengah tahun berganti musim hujan.  

“Nah kalau saat ini sudah tidak menentu lagi, musim kemarau malah hujan terus, tiba musim hujan malah kemarau,” katanya. 

Pandangan serupa disampaikan, Kades Batu Ampar, Harwan Iskandar. Munculnya beragam hama baru menjadi persoalan bagi petani kopi di Desa Batu Ampar. “Dulu hamanya hanya beruk (monyet, red), sekarang hamanya mulai ada hama bubuk dan batang yang mengelupas,” ungkapnya. 

Dampak perubahan iklim, tidak hanya dirasakan masyarakat terhadap produktivitas tanaman kopi.  Namun sudah dirasakan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.  Seperti mulai berkurangnya suhu  dingin di pagi hari.  “Saya ingat betul, dulu kalau pagi-pagi minyak goreng sampai beku. Mau masak itu minyak harus dipanaskan dulu dibawah sinar matahari. Sekarang kami sudah tidak menjumpai hal itu,” katanya.  

Kondisi ini juga diperparah dengan berkurangnya debit air Sungai Donok. Aliran sungai yang berasal dari Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba tersebut dirasakan mulai berkurang.  Sejak Desa Batu Ampar dibuka hingga saat ini, sungai Donok dapat memenuhi kebutuhan air untuk 220 kepala keluarga.  Sekaligus menjadi sumber air bagi sawah untuk beberapa desa lain di luar Desa Batu Ampar. Namun saat ini, sawah di desa sebelah sudah tidak dapat mengandalkan aliran Sungai Donok. Sawah mengalami kekeringan. Debit air yang ada sudah tidak cukup jika harus dibagi untuk areal persawahan.  

“Air yang ada bahkan perlu diatur sedemikian rupa, agar setiap rumah tetap dapat menikmati tanpa kekurangan,” ungkap Herwan. 

Zainuddin salah seorang petani kopi di Desa Batu Ampar. (betty herlina)

Desa Batu Ampar, Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, berada persis di bawah kaki Bukit Hitam yang masuk kawasan TWA Bukit Kaba. Desa ini dibagi dalam tiga dusun dengan 220 kepala keluarga. Di Desa Batu Ampar, kopi merupakan sumber pendapatan turun temurun. Hampir 90 persen masyarakat menggantungkan hidup dari kopi. Masyarakat sudah mulai bertanam kopi sejak desa dibuka. Budidaya kopi telah dilakukan secara turun temurun. Selain sebagai sumber pendapatan, kopi juga menjadi bagian kehidupan sosial dan budaya.

“Dari dulu kami hanya menanam Robusta, pernah sekali mencoba Arabika, tapi hasilnya tidak begitu baik. Akhirnya kembali ke Robusta,” cerita Zainuddin. 

Terpisah, Entomologis dari Universitas Bengkulu (Unib), Agustin Zarkani, Ph.D mengatakan kasus batang kopi yang busuk dari dalam yang terjadi pada tanaman kopi, lazim disebut penyakit kanker batang. Ada tiga faktor penyebab penyakit ini. Yakni penggunaan herbisida yang berlebihan, umur tanaman kopi yang sudah tua serta pemupukan yang kurang.  

“Itu penyakit, bukan hama dan bukan pula penyakit baru. Belakangan mungkin sering muncul dalam jumlah banyak, sehingga petani mulai menyadari dan menyebutnya penyakit baru,” kata Agustin. 

Ia tidak menapik, perubahan iklim dapat menyebabkan kemunculan hama dan penyakit yang lebih agresif. Sehingga muncul ledakan hama atau penyakit pada tanaman kopi yang belum pernah terjadi sebelumnya.  Semakin panas dengan udara kering, dikatakan Agustin, hama akan semakin lebih aktif. Sebaliknya jika hujan semakin banyak dan udara lebih lembab, penyakit lebih mudah berkembang.

“Hama bubuk pada kopi menjadi lebih banyak jumlahnya di musim panas. Bila selama ini dapat diatasi dengan predator alami, namun kenaikan suhu menyebabkan predator alami hama bubuk hilang, petani mengatasinya dengan menggunakan pupuk, ini tidak ampuh lagi, karena ledakan hama meningkat. Petani bisa gagal panen,” papar Agustin.      

Perubahan Iklim di Kepahiang 

Kepala Stasiun Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klas I Bengkulu, Johannes Apoh Damanik, ST mengatakan perubahan iklim menyebabkan terjadinya perubahan pola hujan, kenaikan suhu dan pergeseran musim. Termasuk mempengaruhi hasil panen petani, seperti kopi. 

Menurut Damanik, perubahan iklim yang dirasakan petani kopi di Desa Batu Ampar, berbeda dengan konsep perubahan iklim global. Namun merupakan perubahan iklim mikro yang disebabkan berkurangnya tutupan hutan di kawasan TWA Bukit Kaba. Iklim di Bengkulu,  pada dasarnya equatorial, dimana hampir tidak ada batas antara musim hujan dan kemarau, dengan puncak musim hujan pada bulan November dan Januari. Hujan paling sedikit terjadi pada bulan Juni.  

“Dari sisi iklim tidak ada yang signifikan. Perubahan yang ada lebih karena berkurangnya tutupan lahan di Bukit Kaba,” katanya. 

Hasil pemantauan BMKG di stasiun Ujan Mas, curah hujannya yang terjadi di Desa Batu Ampar sepanjang tahun 2008 hingga 2020 masih rata-rata diatas batas normal 150 milimeter, dengan frekuensi data hari hujan per bulan dengan batas atas 31 hari dan batas bawah 4 hari.  

Peta perubahan normal curah hujan tahun 1981 – 2010 terhadap curah hujan tahun 1971 – 2000 pada bulan Agustus. (sumber : BMKG/betty herlina)

Koordinator Data dan Informasi,  BMKG Klas I Bengkulu, Anang Anwar mengatakan terjadi tren penurunan frekuensi hujan untuk wilayah tersebut. Seperti bulan Agustus tahun 2008  bila dibandingkan dengan bulan yang sama ditahun 2020 terjadi penurunan frekuensi hujan dari 194 milimeter menjadi 146 milimeter. Selain itu pola pergerakan awan, mulai berpindah dari sekitar Bukit Kaba menjadi ke Kota Bengkulu. 

“Pola jangka panjangnya hujannya menjadi berkurang, dan bergeser ke Kota Bengkulu. Awan yang biasanya ada di sekitar bukit menjadi terus naik dan bergerak ke kota,” kata Anang. 

Sementara itu, untuk suhu yang ada, kurun 20 tahun terakhir BMKG Klas I Bengkulu mencatat terjadi kenaikan suhu rata-rata hampir 1 derajat Celcius, dari 23 derajat Celcius menjadi 24 derajat Celcius. 

“Kondisinya memang semakin panas, dan berkurang dinginnya. Rata-rata suhu 10 tahun terakhir naik. Seperti di bulan Agustus, 10 tahun lalu masih di 23, 6 derajat Celcius namun saat ini sudah di 24, 3 derajat Celcius,” lanjut Anang. 

Deforestasi Kawasan TWA Bukit Kaba 

TWA Bukit Kaba memiliki luas wilayahnya 14.650,51 hektare, di dalamnya terdapat sebuah gunung, Bukit Kaba dengan ketinggian 1952 Mdpl. Secara administrasi TWA Bukit Kaba masuk dalam wilayah Kebupaten Rejang Lebong dan Kepahiang. Ada 23 desa yang berada di sekitar dan atau berbatasan dengan kawasan TWA Bukit Kaba. Dari jumlah tersebut 12 desa terletak di Kabupaten Rejang Lebong dan 11 desa yang terletak di Kabupaten Kepahiang.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu-Lampung, Said Jauhari mengatakan hingga tahun 2020,  BKSDA mencatat 35 persen kawasan TWA Bukit Kaba, sekitar 5.127,6 hektare sudah dirambah. Dari jumlah tersebut masuk dalam dalam kawasan Desa Batu Ampar sebanyak 55 hektare. 

“Saat ini ada 25 hektare yang diajukan PAL dalam bentuk proposal kemitraan konservasi dengan skema kemitraan pemulihan ekosistem,” katanya. 

Dikutip dari Global Forest Watch,  dari tahun 2002 sampai tahun 2020, TWA Bukit Kaba kehilangan 145 hektare hutan primer basah. Jumlah tersebut menyumbang 19 persen dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Akibatnya area total hutan primer basah di TWA Bukit Kaba berkurang 3, 6 persen dalam periode waktu ini. 

Selain itu dari 2001 hingga 2020, TWA Bukit Kaba kehilangan 827 hektare dari tutupan pohon, setara dengan 5, 7 persen penurunan tutupan pohon sejak 2000.

Pengamat perubahan iklim dan kehutanan di Bengkulu, Dr. Erniwati sangat menyayangkan luasnya tutupan hutan TWA Bukit Kaba yang dirambah. Menurutnya 35 persen tutupan yang hilang akan dirambah sudah sangat mengkhawatirkan.  “Sudah kebanyakan itu. Harus segera dipulihkan menjadi nol persen dan pemulihan itu tidak gampang. Angka 35 persen bukan main-main,” kata Erni.

Kenaikan suhu bumi lanjut Erni, selalu berhubungan erat dengan keberadaan hutan, karena hutan sebagai tegakkan pohon berfungsi untuk menyerap emisi CO2 yang dihasilkan dari banyaknya aktivitas manusia dan kepadatan penduduk. Diketahui, CO2 merupakan kontributor penyebab perubahan iklim terbesar di dunia. Semakin luas hutan semakin banyak karbon yang terserap. Sebaliknya semakin banyak hutan yang hilang, maka fungsi hutan akan semakin tidak seimbang, sehingga dapat menimbulkan kebingungan suhu, atau kebingungan metabolisme bumi.  

“Ini yang terjadi pada kopi, perilaku metabolisme pohon kopi tentunya akan berubah ketika suhu naik akibat tutupan hutan yang berkurang, kopi akan berusaha untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada, dia (kopi,red) tetap hidup tapi produktivitasnya berkurang, karena syaratnya kopi yang dulunya suhunya bagus (dingin,red) jadi berubah lebih panas,” lanjut Erni. 

Tutupan lahan hutan, lanjut Erni tidak dapat diganti dengan semak belukar, karena akan berdampak pada penyerapan karbon yang akan berkurang sehingga berimbas pada pemanasan global, serta masalah lain. Seperti berkurangnya debit air dan berkurangnya hujan. Salah satu fungsi hutan dalam hidrologi adalah evapotranspirasi. 

“Logikanya, ketika hujan berkurang karena pohonnya tidak ada. Tidak ada lagi penguapan yang bisa diikat, jika hujan terus bergerak ke Kota Bengkulu dan TWA Bukit Kaba terus gundul, maka bencana pasti akan terjadi. Mulai dari bencana lingkungan hingga kelaparan,” kata Erni. 

Desa Kopi Tangguh Iklim

Kopi memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan perempuan di Desa Batu Ampar. Perempuan memiliki peranan penting dalam pertanian kopi. Setiap proses mulai dari membersihkan, menyiapkan bibit, menanam, perawatan, panen, pengolahan pasca panen hingga pemasaran selalu melibatkan perempuan. Bahkan di Desa Batu Ampar, juga dikenal tradisi “nyemang” yang hanya dilakukan perempuan. Yakni kegiatan memungut buah kopi yang jatuh saat musim panen atau jatuh akibat tersenggol kelelawar dan musang.

Kopi sudah “mendarah daging” bagi masyarakat Desa Batu Ampar.  Sayangnya, kopi sudah tidak terlalu menghasilkan lagi. Namun untuk tidak bertanam kopi,  sulit rasanya untuk dilakukan. Supartina yang lahir dan besar di Desa Batu Ampar merasakan, perubahan iklim yang diakibatkan pembukaan lahan di TWA menjadi penyebab utama turunnya produktivitas panen kopi. 

Pasalnya, tidak dipungkiri, ia menyaksikan sebagian masyarakat yang tidak memiliki lahan kopi, memilih membuka lahan di kawasan TWA Bukit Kaba. Menebang pohon yang ada dan menggantikan dengan kebun kopi. Meskipun harus “kucing-kucingan” dengan petugas, pembukaan TWA terus terjadi. Tak jarang dijumpai pembukaan lahan juga dilakukan masyarakat dari luar Desa Batu Ampar.   

Akibatnya terjadi perubahan pola hujan dan cuaca yang semakin panas sebagai akibat hutan mulai ditebang dan berganti menjadi lahan kopi, erat dirasakan Supartina.  “Sekarang sudah semakin banyak yang membuka hutan untuk kebun kopi,” katanya. 

Perubahan-perubahan yang terjadi membuat membuat Supartina merasa harus bergerak untuk menghadapi perubahan iklim. Gerakan dimulai dengan membentuk kelompok Perempuan Alam Lestari (PAL).  Pembentuknya kelompok bermula dari diskusi bersama antara perempuan petani kopi penggarap dan bukan penggarap kawasan TWA Bukit Kaba, di rumah kepala desa.  Pertemuan membahas permasalahan lingkungan hidup dan hutan. Diakhir diskusi muncul kesepakatan membentuk kelompok dan memilih Supartina sebagai ketua. 

Setelah resmi terbentuk,  PAL mulai melakukan kegiatan dengan mengundang lembaga yang bergerak di isu lingkungan hidup dan hutan. Supartina dan anggota PAL saling berbagi informasi dan pengetahuan. Termasuk belajar tentang hak-hak perempuan atas lingkungan hidup dan hutan. Serta hak untuk terlibat melestarikan TWA Bukit Kaba. 

“Kami kemudian mendeklarasikan Desa Kopi Tangguh Iklim,” kenang Supartina. 

Tiga poin utama disampaikan perempuan Desa Batu Ampar dalam deklarasi Desa Kopi Tangguh Iklim. Yakni menyadari bahwa perubahan iklim telah berdampak negatif terhadap tanaman kopi yang merupakan bagian dari kehidupan ekonomi, sosial, budaya masyarakat Desa Batu Ampar. Perempuan Desa Batu Ampar juga menyadari bila masalah perubahan iklim tidak segera ditanggulangi akan mengakibatkan krisis dalam segala aspek kehidupan masyarakat Desa Batu Ampar. Perempuan Desa Batu Ampar berinisiatif melakukan berbagai hal untuk menanggulangi perubahan iklim guna menjaga keberlanjutan tanaman kopi dan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Desa Batu Ampar.

Supartina Paksi (foto : betty herlina)

Tak hanya sebatas deklarasi, PAL juga mengupayakan penyelesaian konflik dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).  Dimana sebagian anggota PAL merupakan perempuan petani kopi penggarap kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba. Penyelesaian konflik dikatakan Supartina harus segera dilakukan, sehingga tidak ada lagi perempuan yang ditangkap oleh aparat akibat berkebun kopi di kawasan TWA. 

“Sangat sedih melihat ibu-ibu berlari ketakutan saat bertemu petugas BKSDA yang berpatroli. Bahkan ada yang sambil menggendong anaknya. Ada juga yang sedang hamil.  Mereka tahu, salah, bertanam di TWA, tapi tidak ada pilihan lain. Kebun kopi itu juga sudah turun temurun diwariskan,” katanya. 

“Dulu kami ketakutan kalau melihat petugas. Sekarang sudah tidak lagi,” timpal Juaria yang pernah merasakan berkonflik dengan petugas BKSDA. 

Komunikasi antar pihak pun dibangun. PAL mendatangi kantor Seksi Wilayah I BKSDA Bengkulu untuk menyampaikan keinginan untuk bekerjasama melestarikan TWA Bukit Kaba.  Hasilnya pihak BKSDA mulai melakukan pemetaan. Diketahui 25 hektare lahan TWA digarap oleh 26 anggota PAL dan akan diperbaiki kondisinya. 

“Upaya yang kami lakukan adalah dengan melakukan penanaman kembali hutan. Ada 4.500 bibit pohon mulai dari Durian, Nangka, Alpukat, Petai, Jengkol, Aren dan jenis lainnya yang sudah disiapkan PAL secara swadaya.  Bibit siap tanam untuk menghijaukan TWA.  Ini sebagai bentuk komitmen pemulihan ekosistem sesuai proposal usulan kemitraan antara PAL dan BKSDA Bengkulu,” beber Supartina.  

Secara perlahan, dikatakan Herwan Iskandar, ada kesadaran pengetahuan masyarakat tentang pentingnya lingkungan yang akan berdampak jangka panjang dengan kehidupan. Melalui skema Desa Kopi Tangguh Iklim, yang diinisiasi PAL menjadi salah satu upaya mendorong kopi pada posisi tertentu tetap bisa produktif.  Sehingga masyarakat desa tetap bertahan untuk bertanam kopi. 

“Kami menyadari ada persoalan disini. Kopi yang ditanam di dekat rimba (hutan,red) hasilnya masih bagus,  dan maksimal. Kami ingin kopi yang kami miliki saat ini bisa bertahan dengan kondisi apapun di tengah perubahan cuaca yang sudah tidak menentu. Kami tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika tidak bertanam kopi lagi,” kata Herwan.  

Melihat kondisi yang ada, menggalakkan penanaman hutan kembali menjadi solusi pemulihan ekosistem TWA Bukit Kaba. Upaya ini mungkin tidak bisa mengerem laju pemanasan global, namun setidaknya bisa mengurangi dampaknya secara lokal.

“Melestarikan hutan berarti menyelamatkan kehidupan dan penghidupan petani kopi dari dampak perubahan iklim,” demikian Supartina Paksi. (**) 

Liputan ini didukung oleh program Fellowship Peliputan Perubahan Iklim “Menuju COP26 di Glosgow : Memperkuat aksi dan ambisi iklim Indonesia, yang diselenggarakan oleh The Society of Indonesian Enviromental Journalist (SIEJ) bekerjasama dengan World Resources Institute (WRI) Indonesia.

Tulisan ini sudah tayang lebih dahulu di Bengkulu Today

Leave a Comment