Dari Duka Jadi Bahan Godaan: Perceraian bukan Ajang Flirting Massal

Ais Fahira

News

Dari Duka Jadi Bahan Godaan Perceraian bukan Ajang Flirting Massal

Bincangperempuan.com- Belum lama ini dunia selebritis dihebohkan dengan kabar perceraian pemain timnas sepak bola, Pratama Arhan, dengan selebgram Azizah Salsha. Keduanya resmi berpisah, setelah sejak tahun lalu rumah tangga mereka kerap diterpa isu tak sedap.

Namun yang cukup disayangkan justru reaksi netizen setelah kabar perceraian ini mencuat. Kolom komentar akun Arhan langsung dipenuhi “candaan” hingga godaan terang-terangan dari perempuan yang menawarkan diri jadi istri baru. Ada pula konten bertajuk “Day 1 menggatal ke Mas Arhan,” bahkan tak sedikit yang berbondong-bondong mengirimkan pesan langsung (DM) seakan ingin benar-benar menawarkan diri.

Padahal, ini bukan kabar gembira—ini kabar perceraian. Bercanda atau bahasa populernya: “menggatal” dalam situasi seperti ini memperlihatkan betapa tipisnya empati publik. Rasanya aneh ketika sebuah perpisahan yang pastinya berat bagi kedua atau salah satu pihak, malah dijadikan ajang flirting massal.

Baca juga: Backburner Relationship, Ketidakjelasan dalam Hubungan

Perceraian Bukan Ajang Hiburan

Perceraian kerap diperlakukan publik seolah-olah cuma bahan gosip segar. Media menjadikannya headline, akun hiburan menyebarkannya, lalu netizen berlomba-lomba menambahkan komentar. Dalam sekejap, perceraian—terutama jika melibatkan figur publik—berubah menjadi tontonan massal, seakan-akan layak dikuliti habis-habisan seperti drama tanpa akhir.

Padahal, di balik pemberitaan singkat itu ada dampak nyata bagi kehidupan pribadi yang bercerai. Riset Thomas Leopold (2018) menunjukkan bahwa laki-laki biasanya mengalami dampak psikologis yang lebih berat segera setelah perceraian: kepuasan hidup turun drastis, rasa kesepian meningkat, bahkan risiko depresi melonjak. Namun, seiring waktu, kondisi mereka cenderung membaik.

Bagi perempuan, perceraian membawa beban berbeda yaitu beban ekonomi jangka panjang. Penurunan pendapatan rumah tangga pasca perceraian bisa mencapai 40 persen, dengan risiko jatuh miskin meningkat tajam, terutama jika perempuan juga menjadi single parent. Riset itu menemukan, bertahun-tahun setelah perceraian, risiko kemiskinan perempuan tetap lebih tinggi dibanding laki-laki.

Temuan serupa diulas dalam PsychCentral. Laki-laki lebih rentan kehilangan stabilitas emosional dan fisik—mulai dari depresi, pola hidup tidak sehat, hingga penyalahgunaan alkohol—sementara perempuan lebih sering tertekan oleh urusan finansial dan tanggung jawab pengasuhan. Namun, perempuan biasanya punya jaringan support sosial lebih kuat seperti teman, keluarga, atau komunitas sesama perempuan yang memberi empati dan dorongan.

Artinya, perceraian bukan sekadar status kembal melajang, tetapi ada luka mendalam dan beban berat yang harus ditanggung masing-masing pihak, meski dengan bentuk berbeda

Baca juga: PMS Bukan Alasan Ngambek: Stop Menyalahkan Hormon

Solidaritas Perempuan vs Godaan Massal ke Laki-laki

Di Indonesia, kita sering menyaksikan fenomena kontras ini. Ketika publik figur perempuan bercerai, terutama yang statusnya dikenal sebagai “istri” atau “ibu,” komentar netizen biasanya dipenuhi ungkapan dukungan. Kalimat seperti “tetap semangat,” “kamu pantas bahagia,” hingga “girl u deserve better” bertebaran di kolom komentar. Perempuan lain, meski tidak mengenal secara pribadi, sering menunjukkan solidaritas emosional.

Namun, ketika publik figur laki-laki bercerai, terutama figur populer seperti pesepakbola atau aktor, respons netizen justru bergeser ke arah berbeda. Alih-alih empati, yang muncul malah candaan menggatal: komentar menawarkan diri jadi istri baru, DM berisi rayuan, hingga konten “flirting massal” yang dibuat seolah-olah itu bagian dari tren lucu. Fenomena ini memperlihatkan bahwa empati sering kali bersifat selektif. Empati bisa kuat ketika korbannya perempuan, tetapi longgar bahkan hilang ketika korbannya laki-laki. Padahal, riset jelas menunjukkan laki-laki pun menanggung luka emosional serius pasca perceraian. Lantas mengapa perempuan mendapat solidaritas, sementara laki-laki malah jadi sasaran godaan massal?

Double Standard dalam Konstruksi Sosial

Jawabannya ada pada konstruksi sosial dan standar ganda yang sudah lama melekat. Laki-laki yang bercerai kerap dilihat seolah siap direbut lagi. Ada aura baru yang dianggap menarik, bahkan “menantang.” Perceraian justru dilihat sebagai peluang, bukan luka. Sedangkan perempuan yang bercerai sejak dulu kerap mendapat stigma negatif, tercermin dari macam-macam label untuk janda dengan konotasi miring, bahkan dianggap aib yang harus disembunyikan.. Contohnya istilah ‘jalak’ (janda galak), ‘jamur’ (janda di bawah umur) dan lain-lain. Berbeda dengan duda yang mendapat julukan yang sama sekali tidak merendahkan, misalnya ‘duren (duda keren)’ dan ‘durensawit (duda keren sarang duit)’

Dari berbagai penyematan istilah tersebut kita bisa melihat standar ganda—laki-laki dianggap tetap punya nilai tinggi meski gagal dalam pernikahan, sementara perempuan dianggap kehilangan harga diri. Ironisnya, di kedua sisi, rasa sakit pribadi direduksi jadi hiburan kolektif.

Belajar Membatasi Parasosial

Selain itu, fenomena ini juga erat kaitannya dengan parasocial relationship. Melansir dari Psychology Today, parasosial adalah hubungan satu arah di mana seseorang merasa punya ikatan kuat, intim, atau familiar dengan orang yang sebenarnya tidak mereka kenal—biasanya selebritas atau figur publik. Hubungan ini hanya ada di kepala individu, tanpa timbal balik.

Masalahnya, ketika parasosial tidak dibatasi, publik jadi merasa “punya hak” untuk ikut campur, berkomentar, bahkan bercanda dalam momen paling personal figur publik. Dalam kasus Arhan, perceraian yang seharusnya ditanggapi dengan empati justru diperlakukan sebagai momen hiburan massal.

Padahal, parasosial seharusnya tidak menghilangkan batas empati. Kita bisa mengidolakan, mengagumi, atau bahkan bercanda dengan figur publik, tapi harus tahu kapan bercanda itu berubah jadi insensitive, padahal sudah jelas momen perceraian jelas bukan momen yang tepat.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Bincang Perempuan Terbitkan Laporan Transparansi Journalism Trust Initiative

Bincang Perempuan Terbitkan Laporan Transparansi Journalism Trust Initiative

Laki-Laki Juga Bisa KB: Mengenal NES/T, Kontrasepsi Gel Cukup Sekali Oles

Gen Z, Generasi Stroberi atau Pahlawan Serba Bisa

Gen Z, Generasi Stroberi atau Pahlawan Serba Bisa?

Leave a Comment